Kapitalisme Gagal Dalam Merumuskan Problem Ekonomi dan Upaya Solusinya - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, October 22, 2020

Kapitalisme Gagal Dalam Merumuskan Problem Ekonomi dan Upaya Solusinya


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Ditengah gejolak ekonomi Indonesia, realitas kehidupan masyarakat di Indonesia yang terus dililit oleh berbagai beban ekonomi yang semakin berat, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, makin sempitnya lapangan kerja, gagal panen, dan sebagainya adalah sebuah kenyataan pahit yang tidak bisa dipungkiri. Jutaan rakyat di Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan dengan pendapatan dibawah US$ 1 dollar. 

Belenggu kemiskinan yang membelit rakyat Indonesia juga ditunjukkan dengan tingginya angka buruh migran perempuan low skilled yang mencapai jutaan jiwa di luar negeri. Kemiskinan adalah faktor terbesar yang memaksa perempuan Indonesia bekerja ribuan kilometer di negeri orang tanpa adanya jaminan perlindungan dari negara. Hal ini memacu masalah lain yaitu problem kekerasan pada buruh migran, bahkan sampai meregang nyawa jauh dari sanak saudara. Fenomena memprihatinkan ini menunjukkan kegagalan sistem demokrasi.

Realita pahit yang sama atau bahkan lebih dirasakan para petani dan nelayan yang sebagian besarnya berskala gurem bahkan hanya penggarap. Dan yang paling pahit harus dirasakan oleh jutaan orang yang termasuk penganggur terbuka alias tidak bekerja sama sekali. 

Kegagalan Sistem Ekonomi Kapitalis dalam mewujudkan kesejahteraan terletak pada kesalahan indikator kesejahteraan dan mekanisme untuk merealisasikannya. Kesalahan indikator untuk mengukur capaian kesejahteraan bermula dari kegagalan ekonomi kapitalis dalam merumuskan problem ekonomi dan upaya penyelesaiannya.

Kegagalan capaian kesejahteraan sampai ke level per individu rakyat juga diakibatkan kelemahan sistem penganggaran Negara. Mulai dari aspek mekanisme penyusunan anggaran, penetapan pos pemasukan, dan mekanisme realisasi anggaran. Sehingga banyak rancangan pembangunan yang capaiannya tidak optimal, bahkan tidak terealisir.

 Pembangunan ekonomi Indonesia, diakui atau tidak, mengacu pada sistem ekonomi kapitalisme yang mengatur distribusi pendapatan untuk kebutuhan dalam negeri secara global, bukan untuk kebutuhan seluruh penduduk per individu. Ekonomi tidak dibangun untuk memuaskan kebutuhan individu dan tidak untuk menyediakan pemuasan bagi tiap-tiap individu dalam masyarakat. Ekonomi hanya difokuskan pada penyediaan alat yang memuaskan kebutuhan masyarakat secara makro dengan cara menaikkan tingkat produksi dan meningkatkan pendapatan nasional (national income).

Asumsinya, dengan banyaknya pendapatan nasional, ketika itu terjadilah pendistribusian pendapatan. Dengan cara memberi kebebasan memiliki dan kebebasan berusaha bagi semua individu masyarakat. Semua individu dibiarkan bebas memperoleh kekayaan sejumlah yang dia mampu sesuai dengan factor produksi yang dimilikinya. Tidak diperhatikan apakah pemuasan itu merata dirasakan oleh semua anggota masyarakat atau hanya terjadi pada sebagian saja. Ini salah dan dzalim. 

Konsekuensi dari pengaturan semacam ini adalah menjadikan harga sebagai faktor yang mengatur distribusi. Orang yang memiliki kemampuan membeli akan memperoleh kekayaan. Sedangkan orang yang tidak memiliki kemampuan membeli tidak akan memperoleh apapun. Dalam kondisi yang seperti ini yang terjadi adalah rusaknya hubungan antara manusia. Manusia akan terpuruk dalam derajat yang rendah dan nilai-nilai luhur terancam punah dari tengah-tengah manusia.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here