Kewajiban Menjalankan Syariah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, October 5, 2020

Kewajiban Menjalankan Syariah


Anwar Rosadi 

Sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk melaksanakan Islam sebagai dîn (agama) yang sempurna secara kâffah. Mereka wajib melaksanakan syariah (hukum Islam) seputar pernikahan, perceraian, jual-beli dan kewajiban untuk membebaskan wilayah yang dijajah; sebagaimana mereka wajib melaksanakan syariah seputar ibadah seperti puasa, shalat, zakat, haji dan sebagainya. Mereka akan diminta pertanggungjawaban atas setiap kelalaian dalam pelaksanaan kewajiban ini.

Adapun hukum-hukum lain yang penerapannya menjadi wewenang Khalifah atau kepala negara, seperti hukum seputar sanksi ('uqûbât), menyebarluaskan dakwah Islam, hukum kepemilikan negara dan hukum tentang Khilafah itu sendiri, maka seorang pun tidak berhak untuk melaksanakannya kecuali negara. Dalam perkara ini, umat Islam dalam kondisi apapun wajib untuk menaati pemimpin yang adil.

Hanya dengan melaksanakan sistem Islam secara kâffah, umat Islam dan manusia secara keseluruhan akan kembali dapat menikmati kehidupan yang adil, damai, dan sejahtera dalam naungan ridha Allah Swt. Dalam kehidupan seperti itulah, umat Islam dapat merealisasikan ketundukan, ketaatan dan kepasrahannya kepada Allah SWT. Inilah realisasi dari misi hidup untuk beribadah kepada Allah Swt. secara nyata. Bersamaan dengan itu, umat Islam terus berusaha menyiapkan kemampuan diri untuk memimpin bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.

Satu-satunya institusi yang mampu melaksanakan tugas tersebut adalah sebuah kekuasaan yang menerapkan sistem Islam secara murni dan menyeluruh (kaffah). Dalam al-Quran, Allah Swt. dengan tegas memerintahkan kepada setiap Muslim untuk ber-tahkîm (memutuskan hukum) hanya berdasarkan pada apa yang telah ditetapkan Allah Swt.:

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

Karena itu, hukumilah mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu (QS al-Maaidah [5]: 48).

Begitulah, hidup di bawah naungan sistem Islam dipastikan akan sejalan dengan akidah umat dan sejalan pula dengan kebutuhan riil masyarakat seperti tersedianya fasilitas kesehatan (rumah sakit, rumah obat, dll), sarana pendidikan (sekolah/kampus, perpustakaan, fasilitas laboratorium, dll), serta berbagai infrastuktur untuk melayani masyarakat. Negara berkewajiban untuk menyediakan itu semua. Sebab, negara adalah Dawlah Ri’âyah (negara yang mengurusi kehidupan rakyat).

Rasulullah Muhammad saw. memerintah-kan umat Islam untuk memberikan baiat kepada seorang khalifah. Nabi saw. menggambarkan bahwa kematian seorang Muslim yang tidak memberikan baiat (kepada seorang khalifah) merupakan kematian yang sangat buruk, dengan menyebutnya sebagai mati Jahiliah:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Siapa saja yang mati tanpa ada baiat di pundaknya, ia mati (dalam keadaan) Jahiliah (HR Muslim).

Dengan syariah Islam, negara memelihara seluruh urusan umat manusia. Dengan begitu, kerahmatan Islam yang dijanjikan akan bisa dirasakan secara nyata.

Sistem Islam  bukanlah sistem diktator, juga bukan sistem demokrasi. Salah satu prinsip penting dari sistem Islam, yang sekaligus membedakan dari sistem lainnya baik diktator maupun demokrasi, adalah bahwa kedaulatan, yakni hak untuk menetapkan hukum serta menentukan benar dan salah atau halal dan haram, ada di tangan syariah, bukan di tangan manusia. Karena itu, baik Khalifah maupun umat, sama-sama terikat dengan syariah Islam. Khalifah wajib menerapkan syariah Islam dengan benar, sesuai dengan ketetapan Allah dalam al-Quran dan as-Sunnah. (QS 5: 44, 45, 47)


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here