Madinah Itu Seperti Tungku - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, October 1, 2020

Madinah Itu Seperti Tungku


Abu Inas (Tabayyun Center)

Kehidupan sosial Makkah sebelum tersentuh dakwah Rasulullah saat itu dicirikan dengan kebobrokan moral yang luar biasa. Rata-rata dari mereka adalah peminum arak atau tuak. Mereka biasanya melakukannya dalam sebuah pertemuan yang disertai dengan perjudian, disertai dan dihibur oleh para perempuan penyanyi. Pelacuran atau perzinaan antara laki-laki dan perempuan di Jazirah Arab saat itu adalah hal yang biasa. Rumah-rumah pelacur memiliki tanda-tanda khusus sehingga mudah dikenali oleh para hidung belang saat itu.

Pencurian, pembegalan dan perampokan juga menyeruak di mana-mana. Bahkan Ka'bah, rumah suci yang amat dimuliakan oleh bangsa Arab, pernah kecurian barang-barang berharga. Demikian pula dengan kekejaman dan kebiadaban bangsa Arab saat itu yang melampau batas kemanusiaan. Anak-anak perempuan di benam hidup-hidup dalam tanah; adakalanya ditaruh disuatu tempat seperti tong, lalu diluncurkan dari tempat yang tinggi.

Porfesi bangsa Arab sebelum Rasulullah saw. kebanyakan adalah pedagang. Bisnis yang mereka lakukan saat itu sangat kental dengan riba. Bahkan pemberian pinjaman dengan cara riba yang berlipat ganda telah menjadi tradisi mereka. Uang yang mereka peroleh juga sering dihabiskan di meja judi dan berbagai pertaruhan lainnya.

Dakwah Rasul di Makkah mendapat hambatan keras. Saat Rasulullah melihat kesiapan Madinah sebagai masyarakat Islam, merupakan perkara pendorong Rasul saw. untuk hijrah ke sana. Peristiwa hijrah yang dilakukan Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah, bukan sekadar peristiwa perpindahan tempat tinggal Beliau beserta para Sahabat. Esensi terpenting hijrah kaum Muslim saat itu adalah transformasi masyarakat; perubahan masyarakat Jahiliah ke masyarakat Islam.

Kondisi masyarakat Arab setelah hijrah sangat bertolak belakang dengan keadaannya sebelum hijrah Sebelum hijrah, kondisi ideologi/akidah, sosial, ekonomi dan politik bangsa Arab sebelum Rasul berhijrah kental dengan aroma kebodohan. Sebaliknya, setelah hijrah, sejak mereka diatur dan ditata dengan syariah Islam oleh Rasulullah saw., kondisi masyarakat Arab saat itu diliputi oleh cahaya.

Masyarakat Arab pasca hijrah yang dibangun Rasulullah adalah sebuah entitas masyarakat yang khas. Peraturan, pemikiran dan perasaan masyarakat Arab pasca hijrah benar-benar berada dalam bimbingan Islam. Dengan sangat indah Rasulullah saw. menggambarkan Madinah—sebagai negara baru saat itu—dengan sabdanya, "Madinah itu seperti tungku (tukang besi) yang bisa membersihkan debu-debu yang kotor dan membuat cemerlang kebaikan-kebaikannya." (HR al-Bukhari).

Rasulullah saw. mengibaratkan Madinah seperti tungku (tukang besi). Tungku tukang besi pada prinsipnya membentuk besi menjadi sesuatu benda yang berguna semisal pedang atau parang. Pada proses pembentukannya dilakukan pemanasan dan pemukulan sehingga melepaskan besi-besi kotor yang tidak berguna. Demikian pula yang dilakukan Rasulullah saw. dalam membangun Madinah sebagai sebuah masyarakat Islam. Beliau benar-benar merancang, mempersiapkan Madinah sebagai sebuah masyarakat yang benar-benar merepresentasikan ideologi Islam. Rasul saw. menstabilkan kondisi masyarakat dengan melakukan berbagai perjanjian dengan masyarakat non-Islam maupun masyarakat tetangga. Bahkan Rasul tidak segan-segan mengusir kaum Yahudi dari Madinah karena merusak perjanjian demi mempertahankan Madinah sebagai sebuah masyarakat yang khas.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here