Meneladani Keteguhan Imam 'Izzuddin bin 'Abdus Salam Dalam Menghadapi Penguasa - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, October 1, 2020

Meneladani Keteguhan Imam 'Izzuddin bin 'Abdus Salam Dalam Menghadapi Penguasa


M. Arifin (Tabayyun Center)

Siapa saja yang menguasai ilmu syar'i serta menghiasi keyakinan dan amal perbuatannya dengan ilmu tersebut layak disebut sebagai ulama pewaris para nabi. Nabi saw. bersabda:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dinar, tetapi mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu itu, ia mengambil bagian yang banyak (HR Abu Dawud).

Ulama pewaris nabi adalah mereka yang rela menerima celaan, hinaan, intimidasi, pengusiran bahkan pembunuhan demi mempertahankan kemurniaan Islam dan membela kepentingan kaum Muslim. Ulama pewaris nabi bukanlah mereka yang plintat-plintut dalam berfatwa, menyembunyikan kebenaran, menukar kebenaran dengan kebatilan, serta mengubah pendirian hanya karena iming-iming dunia atau mendapat ancaman dari penguasa zalim. Mereka rela menanggung resiko dipenjara dan disiksa demi mempertahankan kebenaran dan menentang kebatilan.

Imam 'Izzuddin bin 'Abdus Salam, yang menyandang gelar Sulthân al-'Ulamâ', rela dipenjara di balik jeruji untuk mengungkap pengkhianatan Sultan Malik Shalih di Syam yang bersekongkol dengan orang-orang non muslim untuk melawan Sultan Najmuddin Ayyub di Mesir. Sultan Ismail memberikan daerah Qal'ah, Shafd, dan daerah-daerah lain kepada orang non muslim. Bahkan ia membolehkan orang-orang non muslim memasuki Kota Damaskus untuk membeli persenjataan perang sesuka hati mereka demi memerangi Sultan Najmuddin Ayyub.

Melihat perbuatan mungkar ini, Imam 'Izzuddin bin ‘Abdus Salam segera bertindak mencegah perbuatan para pengkhianat itu. Beliau rahimahulLâh mengeluarkan fatwa larangan menjual senjata kepada orang-orang non muslim. Pada hari Jumat, beliau naik mimbar Masjid al-Umawi di Damaskus—beliau adalah khathib resmi di Masjid Umawi—dan mengumumkan fatwa itu. Dengan tegas dan keras, beliau menentang tindakan mungkar yang telah mengkhianati umat Islam tersebut. Raja Ismail pun murka. Ia lalu mencopot jabatan khathib Jumat dan menangkap beliau dan Syaikh bin Hajib al-Maliki yang mendukung fatwa beliau. Sultan mengeluarkan instruksi kepada beliau untuk mendekam di dalam rumah, tidak boleh mengeluarkan fatwa kepada masyarakat, dan melarang siapa pun berguru kepada beliau. Namun, beliau menjalani semua cobaan itu dengan penuh kesabaran.

Keteguhan Imam 'Izzuddin bin 'Abdus Salam berpegang teguh pada syariah Islam juga tampak pada saat beliau berada di Mesir dan menjadi kepala qâdhî di sana di era Sultan Najmuddin Ayyub. Beliau mengeluarkan fatwa tentang kedudukan para pemimpin negara di Turki, yang menurut beliau, mereka masih terikat dengan perbudakan yang belum mereka tebus. Karena belum merdeka maka jual-beli dan pernikahan mereka tidak sah. Untuk itu, mereka wajib menebus diri mereka dengan membayar sejumlah uang kepada Baitul Mal.

Mendengar fatwa ini, para mamalik Turki marah besar. Mereka terpukul dan malu dengan fatwa tegas nan lurus ini. Meskipun beliau ditekan dan dirayu, beliau sama sekali bergeming dengan fatwanya. Akhirnya, para mamalik Turki itu tidak mampu berbuat banyak kecuali menuruti fatwa Imam Al-'Izz. Mereka membayar sejumlah uang. Lalu uang itu digunakan untuk kemaslahatan kaum Muslim.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here