Menolak Sistem Kapitalisme Lahir Batin - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, October 30, 2020

Menolak Sistem Kapitalisme Lahir Batin


Hadi Sasongko (Direktur PoroS)

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan. Hijrah dalam as-Sunnah secara mutlak dimaknai: meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dar al-Islam karena ingin mempelajari dan mengamalkan Islam. Jadi, hijrah yang sempurna (hakiki) adalah meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah Swt., termasuk meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dar al-Islam.

Para fukaha mendefinisikan hijrah sebagai: keluar dari darul kufur menuju Darul Islam. (An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islamiyyah, II/276). Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh berada di tangan kaum Muslim. Sebaliknya, darul kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariah Islam dan keamanannya tidak di tangan kaum Muslim, sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam.

Definisi hijrah semacam ini diambil dari fakta hijrah Nabi saw. sendiri dari Makkah (yang saat itu merupakan darul kufur) ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam). Artinya, Rasulullah berpindah dari satu negeri yang menerapkan sistem Jahiliah ke negeri yang kemudian menerapkan sistem Islam. Hijrah semacam inilah yang seharusnya juga dilakukan kembali oleh kaum Muslim saat ini, sesuai dengan hakikat hijrah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para Sahabat. Caranya adalah dengan mengubah negeri-negeri kaum Muslim yang saat ini bersandar pada sistem sekular menjadi sebuah institusi negara—yakni Daulah Khilafah Islamiyah—yang menjalankan sistem hukum yang berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

Dari penjelasan di atas, umat Islam di seluruh dunia saat ini dituntut untuk menanggalkan sistem Kapitalisme global yang telah secara sistematis memiskinkan umat manusia, termasuk umat Islam. Negeri-negeri Islam menjadi target eksploitasi negara-negara besar kapitalis. Melalui cakar-cakar lembaga-lembaga moneter internasional seperti IMF dan bank Dunia, negara-negara kapitalis mengeruk kekayaan alam negeri-negeri Muslim. Di Indonesia, perusahaan tambang minyak 90% dikuasai asing. Walhasil, negeri-negeri Muslim kaya-raya, ironisnya rakyatnya hidup dalam kemiskinan.

Bukan hanya itu, adanya krisis finansial global akibat bobroknya sistem ekonomi kapitalis telah memaksa manusia sedunia untuk menanggung 'getahnya'. Saat ini dunia mengalami guncangan kuat. PHK massal terjadi. Pabrik-pabrik banyak yang gulung tikar. Ujungnya, terjadi depresi sosial massal dan meningkatnya penyakit masyarakat.

Umat Islam juga harus menanggalkan sistem kapitalisme - sekuler yang diadopsi oleh hampir semua negeri-negeri Islam. Alih-alih memberikan kebaikan dan kemajuan, demokrasi malah menjadi alat penjajahan. Demokrasi justru menimbulkan kesengsaraan. Ironisnya, bukan kesejahteraan yang didapat. 

Umat Islam juga harus menanggalkan ide liberalisme yang membahayakan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Liberalisme agama telah membuat agama menjadi hal yang sepele. Orang bebas beragama, termasuk bebas ’melecehkan’ agama (Islam). Muncullah ajaran-ajaran sesat dengan dalih kebebasan berkeyakinan. Muncul pula kelompok atau LSM yang secara tegas membela kebebasan beragama ini. Mereka mendukung usaha-usaha mencemari al-Quran, menggugat Rasulullah, menistakan hadis, dll. Akibatnya, umat Islam terancam akidahnya.

Liberalisme perilaku telah melahirkan free sex, aborsi, pornografi dan lain-lain. Angka orang yang terkena HIV/AIDS setiap tahun meningkat tajam. Faktor utamanya adalah pergaulan bebas dan seks bebas. Juga muncul liberalisme kepemilikan yang telah menjadi alat bagi negara-negara kapitalis yang rakus untuk mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia atas nama investasi dan pasar bebas. Tidak hanya itu, ide demokrasi juga pada realitasnya justru dijadikan Barat sebagai alat penjajahan mereka. Atas nama demokrasi mereka menginvasi Irak dan Afganistan.

Walhasil, saatnya kita mengadopsi solusi syariah. Syariah Islam adalah sistem atau tata nilai yang mengatur manusia, hubungan antar manusia dan hubungan dengan Penciptanya. Walaupun berasal dari Zat Yang menciptakan manusia, tata nilai ini bisa dijangkau oleh akal dan sesuai dengan fitrah manusia.

Sebagai misal, interaksi antar sesama manusia sering menimbulkan 'pertentangan/perselisihan' karena adanya perbedaan kepentingan dan tujuan. Adanya kepentingan dan tujuan manusia yang beragam ini akan semakin memperunyam keadaan jika tidak ada standar nilai yang dipakai untuk menetapkan sebuah masalah. Artinya, secara fitrah dan akal, manusia membutuhkan standar/aturan yang bisa secara adil menyelesaikan permasalahan hidup di antara mereka. Pertanyaannya, peraturan itu dari siapa? Jika kita berpikir jernih, pasti akan menyimpulkan bahwa aturan yang layak untuk dipakai sebagai standar adalah aturan dari sang Pencipta manusia; bukan aturan yang dibuat oleh manusia yang pasti bias kepentingan dan tujuan. Dari sinilah bisa dimengerti bahwa secara fitrah dan akal manusia pun bisa menerima bahwa penerapan syariah Islam adalah sebuah kebutuhan.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here