Menumpas Teror Separatis - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, October 16, 2020

Menumpas Teror Separatis


Agung Wisnuwardana (Direktur Strategic And Military Power Watch)

Kuantitas teror yang dilakukan gerakan separatis di wilayah Papua membuat geram masyarakat. DPR berupaya untuk menambah pasukan organik di Kabupaten Intan Jaya. Upaya menambah pasukan di Intan Jaya ini tak lepas dari meningkatnya intensitas gangguan keamanan yang dilakukan KKB di wilayah tersebut. Dalam beberapa bulan terakhir, setidaknya ada 22 aksi penembakan yang menyebabkan tiga warga serta dua anggota TNI AD meninggal dan delapan orang luka-luka.

Jika dicermati, munculnya berbagai gerakan separatis di Indonesia seperti OPM di Papua lebih disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi yang dirasakan oleh rakyat di wilayah-wilayah tersebut akibat kegagalan Pemerintah dalam mensejahterakan mereka. Padahal, seperti di Aceh dan Papua, kekayaan sumberdaya alam sangat melimpah-ruah. Sayang, kekayaan itu lebih banyak dinikmati oleh segelintir orang dan perusahaan-perusahaan asing.

Persoalannya, bagaimana caranya agar upaya tersebut terwujud? Bisakah kita berharap pada sistem ekonomi kapitalis yang saat ini diterapkan oleh Pemerintah sendiri, bahkan dengan model yang sangat liberal? Tentu tidak. Pasalnya, sistem ekonomi kapitalis inilah yang justru menjadi akar dari seluruh ketidakadilan yang dirasakan masyarakat, khususnya secara ekonomi. Contoh kecil dalam kasus PT Freeport di Papua. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Kontrak Karya atau Contract of Work Area yang ditangani Pemerintah telah mengabaikan prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat.

Kegagalan sistem demokrasi untuk menjaga kesatuan negeri sewajarnya menyadarkan segenap pihak untuk menoleh sistem alternatif dan solutif agar negeri mayoritas muslim ini tak mudah digoyahkan atau digoncang oleh riak-riak kecil separatisme yang didukung kekuatan kapitalisme global. Islam sebagai sistem yang bersumberkan dari wahyu Ilahi telah memiliki seperangkat konsepsi yang dapat menjaga kesatuan negeri, bahkan juga bertujuan untuk menyatukan seluruh wilayah dunia dalam naungan kedamaian dan kesejahteraan.

Menurut Syaikh Muhammad Husain Abdullah didalam kitab Dirasaat Fikri fil Islam, salah satu tujuan luhur syariah adalah adanya perlindungan atas negara. Negara dalam kacamata Islam merupakan penanggung jawab (mas'ul) bagi penerapan hukum syara terhadap rakyatnya dan bertugas mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Menilik betapa pentingnya peran negara (Khilafah Islamiyyah) tersebut, Islam telah menggariskan beberapa aturan yang berfungsi untuk memelihara negara dan kesatuannya. Misalnya adanya hadd ahl albaghyi (hukuman bagi pemberontak/bughat) yakni mereka yang merampas kekuasan kepala negara dengan kekuatan militer dengan memerangi mereka (para pelaku bughat).

Di sisi lain, konsepsi syariah juga menginstruksikan kepada umat Islam untuk senantiasa menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan metode dakwah dan jihad. Penyebaran ini bertujuan untuk membebaskan manusia dari gelapnya kekufuran dan kemusyrikan menuju cahaya Ilahi dan tak bermaksud mengeksploitasi SDA negeri seperti yang dilakukan para kolonialis dan imperialis dengan prinsip 3 G: gold, glory dan gospel.

Penyebaran cahaya Ilahi ini tentu saja membutuhkan dukungan finansial dan manajemen pemerintahan yang baik. Secara konseptual, metode (thariqah) penyebaran risalah luhur ini dapat menyatukan pemikiran, perasaan dan peraturan yang menomorsatukan kesejahteraan, keadilan, serta kemakmuran yang berlaku untuk seluruh warga. Di dalam kamus syariah ini tak dikenal diskriminasi minoritas atau tirani mayoritas yang seringkali berefek pada aksi separatisme. Secara historis, keberhasilan insan utama Rasul SAW membangun peradaban Islam di Madinah dan penyebaran Islam (futuhat) ke jazirah Arab merupakan bukti dan fakta sejarah yang diakui oleh kalangan muslim maupun non muslim. Peradaban Islam yang dibangun Rasul SAW dan dilanjutkan oleh para penguasa Islam membuahkan kemajuan di segala bidang kehidupan dalam hampir empat belas abad yang tercatat dalam tinta emas sejarah dunia.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here