Menyelamatkan Industri Migas Nasional - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, October 1, 2020

Menyelamatkan Industri Migas Nasional


Muh. Amin (Swasembada Center) 

Sahabat Abyadh bin Hammal ra. pernah meminta kepada Rasulullah saw. untuk mengelola tambang garam. Rasulullah saw. sebagai kepala negara dan pemerintahan lalu memberikan tambang tersebut kepada Abyadh. Namun kemudian, ada seseorang yang memberitahu Rasulullah saw. bahwa yang diberikan kepada Abyad bin Hammal adalah seperti air yang mengalir (jumlahnya tidak terbatas). Mengetahui hal tersebut, Rasulullah saw. pun bersabda, "Kalau begitu, cabut kembali barang tambang tersebut darinya." (HR at-Tirmidzi).

Berdasarkan hadis ini, tambang minyak dan gas bumi—yang jumlahnya tak terbatas—haram dikuasai oleh individu, swasta atasu pihak asing. Sebab, sektor hulu migas ini termasuk harta milik umum (milkiyyah ammah).

Adapun di sektor hilir migas, keberadaan fasilitas kilang minyak (refinery) untuk mengolah BBM dan infrasruktur pendistribusiannya adalah fasilitas umum yang juga menjadi harta milik umum. Karakteritik fasilitas umum adalah jika tidak tersedia mengakibatkan sengketa untuk mendapatkannya (Sistem Ekonomi Islam: 2005). Dengan demikian secara keseluruhan industri migas termasuk harta milik umum.

Peran negara dalam industri migas juga bukan sebagai pemilik, melainkan pengelola. Negara berkewajiban menemukan dan mengeksploitasi ladang migas. Negara juga harus membangun kilang minyak dan infrastruktur pendistribusian BBM. Kewajiban ini tidak boleh diserahkan kepada investor. Pengelolaan industri migas merupakan bentuk ri'ayah negara terhadap umat sebagaimana sabda Rasulullah saw., "Imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat) dan bertanggung jawaban atas urusan rakyatnya." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Politik industri migas juga harus berada di bawah politik industri yang bertujuan menjadikan negara sebagai negara industri. Satu-satunya jalan untuk menjadi negara industri adalah menciptakan industri yang menjadi basis seluruh industri. Industri ini adalah industri yang menghasilkan industri alat-alat dan mesin (Abdurrahman al-Maliki, Politik Ekonomi Islam).

Terkait industri migas, politik industri mendorong negara memiliki kemampuan menghasilkan peralatan, mesin dan teknologi yang diperlukan untuk eksplorasi migas, lifting dan refinery. Kemandirian ini akan membuat biaya investasi menjadi lebih efisien. Pengembangan teknologi dan industri migas selanjutnya akan menghasilkan industri turunan. Misalnya aspal, lilin, plastik, pupuk, keramik, minyak pelumas, dan lain sebagainya.

Politik industri migas juga harus mengikuti politik luar negeri Negara Islami. Industri migas dapat dijadikan senjata untuk melawan negara-negara penjajah. Apalagi sebagian besar cadangan minyak dunia ada di negeri-negeri Islam seperti di Timur Tengah yang menyimpan defosit minyak sebesar 56,24% dari 1.337,2 trilyun barel cadangan minyak dunia (OPEC, Annual Statistic Bulletin 2009). Melalui embargo minyak, perekonomian negara - negara imperialis dapat dilumpuhkan dengan cepat.

Dari uraian ini jelaslah di mana letak strategisnya industri migas serta bagaimana politik industri strategis ini dijalankan untuk menjadikan negeri Islam kuat dan mandiri. Tidak boleh negara membahayakan umat sebagaimana program liberalisasi oleh rezim neoliberal yang notabene bagian dari strategi imperialisme Barat. Rasulullah saw. bersabda, "Tidak boleh ada bahaya (dlarar) dan (saling) membahayakan." (HR Ahmad dan Ibn Majah).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here