Menyelamatkan Perempuan Dari Penindasan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, October 18, 2020

Menyelamatkan Perempuan Dari Penindasan


Ainun D. Nufus (Direktur Muslimah Care)

Sebagian orang mengklaim bahwa pembatasan Islam terhadap peran laki-laki dan perempuan di dalam keluarga, serta pemberian kepemimpinan kepada laki-laki sebagai kepala rumah tangga adalah sebab meningkatnya kekerasan terhadap perempuan. Mereka menyatakan, tidak adanya persamaan dalam peran antara kedua jenis kelamin akan melahirkan tidak adanya penghormatan kepada perempuan. Klaim inilah yang membuat banyak orang yang tidak ingin kehidupan mereka dibatasi oleh hukum-hukum Islam. 

Ironisnya, fakta kekerasan terhadap perempuan di masyarakat barat dan dunia muslim yang mengadopsi sekular demokratis liberal terus meningkat. Padahal di sana tidak terdapat perundang-undangan Islam. Yang ada justru perundang-undangan yang—menurut klaim mereka—menjamin persamaan antara laki-laki dan perempuan. Sebagai contoh, di Inggris satu dari empat wanita menghadapi kekerasan rumah tangga dan dua orang perempuan setiap minggu mati di tangan suami atau teman mereka. Menurut data statistik Kementerian Dalam Negeri, kepolisian mendapat telepon setiap detik dari korban yang mendapatkan serangan fisik. Di Amerika Serikat, menurut data statistik Biro Investigasi Federal (FBI), setiap 15 menit ada satu orang perempuan yang mendapat pukulan dari partnernya.

Banyaknya fakta kekerasan dan penindasan perempuan dalam sistem sekuler-demokratis-liberal seharusnya membuka mata kaum perempuan dunia di mana pun, bahwa sistem tersebut tidak mampu mengangkat kemuliaan kaum perempuan. Jika dibandingkan dengan Islam, meskipun Islam membatasi peran laki-laki dan perempuan di dalam keluarga, Islam melarang eksploitasi yang merendahkan perempuan. Islam juga menolak keras pandangan laki-laki kepada perempuan dari sudut pandang kebebasannya dalam memperlakukan perempuan sesuka hatinya. Dua hal itulah yang berperan dalam kekerasan domestik di bawah sistem sekular liberal.

Dalam Islam, tidak diperhatikan kesetaraan atau ketidaksetaraan (jender) dalam peran laki-laki dan perempuan. Islam memandang komunitas masyarakat, baik pria atau wanita, sebagai komunitas manusia. Ketika Islam menetapkan hak dan kewajiban bagi kaum laki-laki dan perempuan, tidak lain dalam rangka kemaslahatan keduanya sekaligus sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapi kedua jenis manusia ini di dunia. Adakalanya hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan itu sama jika hal itu berkaitan dengan sifat manuasiawi/insaniah (seperti dalam masalah ibadah, akhlak, muamalah [jual-beli, belajar-mengajar, perburuhan dll]). Adakalanya memang terdapat perbedaan hak dan kewajiban jika terkait karakter laki-laki dan perempuan dengan predikatnya masing-masing dan terkait posisinya di dalam suatu komunitas di masyarakat (seperti kepemimpinan dan nafkah pada laki-laki, menyusui dan mengasuh anak pada perempuan, hak waris perempuan setengah pria, dll). Namun, sepanjang sejarah pelaksanaan seluruh hukum-hukum Islam tersebut, justru perempuan nyata-nyata mendapatkan kemuliaan hidupnya. Bahkan jaminan kemuliaan ini bukan hanya didapatkan di dunia, namun menembus dimensi akhirat melalui janji Allah SWT (Lihat: QS an-Nisa' [4]: 124).

Oleh karena itu, sistem sekular-demokratis-liberal yang telah terbukti kegagalannya di semua tempat, dan tidak boleh menjadi contoh (model). Perubahan hakiki di Dunia Islam hanya akan terealisasi dengan tegaknya Islam kaffah yang berdiri menjaga dan menghormati hak-hak perempuan selama beberapa abad. Khalifah bahkan pernah mengerahkan pasukan hanya untuk membela kehormatan seorang wanita. Sistem Islam yang memahami pentingnya peran serta perempuan di dalam kehidupan politik, dan mendorong perempuan untuk menempuh pendidikan serta telah mengeluarkan ribuan wanita terpelajar.

Sistem Islam yang ketika berdiri kembali akan menggunakan sistem politik, pendidikan dan informasi untuk memperkuat penghormatan atas perempuan di masyarakat, baik perempuan Muslimah atau non-Muslimah. Hal itu akan dilakukan sesuai ajaran-ajaran Islam yang menjamin hak-hak perempuan. Negara akan menghukum siapa saja yang mencederai kehormatan atau tubuh perempuan, menyerang perempuan apapun bentuk penindasan itu.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here