Menyoal Tumbuhnya Virus Islamophobia Di Perancis - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, October 24, 2020

Menyoal Tumbuhnya Virus Islamophobia Di Perancis



Seperti dilansir New York Post pada Kamis (22/10), dua wanita Muslim ditikam berulang kali di bawah menara Eiffel. Bahkan pelaku menyebut dua wanita itu dengan sebutan 'orang Arab kotor'. Penikaman terhadap dua wanita Muslim itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Prancis beberapa hari terakhir pasca kasus pemenggalan kepala seorang guru sejarah oleh orang yang tak dikenal.

Dari tahun ke tahun dipastikan serangan dilandasi  spirit Islamofobia di Prancis di sepanjang 2019 mengalami kenaikan sampai 54 persen. Presiden Presiden Lembaga Pengawas Nasional Islamofobia, Abdallah Zekri telah menyebut ada sekitar 100 serangan terhadap umat muslim di Prancis pada 2018 dan setahun kemudian, jumlah itu naik menjadi 154 kasus Islamofobia di penjuru Prancis. Zekri menjelaskan bahwa tidak ada kaitan antara Islam dan terorisme. Umat Islam di Prancis harus bisa melakukan praktik ibadah agama mereka dengan bebas seperti agama lain.

Prancis adalah negara dengan populasi umat Islam terbesar di Eropa, yakni sekitar 5 juta jiwa. Sebagian besar pemeluk Islam di Prancis berasal dari Afrika Utara. Ironisnya, negara demokratis ini sebagian elit politisinya terjangkit virus Islamophobia.

Atas berbagai serangan yang menimpa saudara - saudari muslim, kita diingatkan cuplikan sejarah Henri de Bornier, seorang penyair dan dramawan Perancis menulis drama bernuansa anti-Islam yang berjudul "Mahomet (Muhammad)" pada tahun 1889. Perdana Menteri Prancis Charles de Freycinet melarang drama itu pada tahun 1890 setelah ada penentangan dari Khilafah Utsmani.

"Bornier sendiri merupakan korban dari prasangka buta dan tidak beralasan kaum Muslim berkaitan dengan dramanya yang berjudul Muhammad itu. Mereka sedang berlatih drama pada tahun 1889 ketika sebuah surat kabar Turki memberitakan dari sumber berita jurnal Prancis tentang adanya rencana pergelaran drama itu. Kementrian Luar Negeri Perancis meyakinkan duta besar Turki di Paris, Es’at Pasha, bahwa drama itu bukan merupakan serangan terhadap Nabi Muhammad dan menghargai keyakinan kaum muslim. Bornier menunjukkan bahwa drama ta'ziya Persia atau drama yang berisi kesengsaraan yang menggambarkan wafatnya Nabi Muhammad maupun juga kematian para mujahid Syi’ah secara rutin telah dipertunjukkan, dan dia menawarkan pelarangan atas karyanya yang sedang dimainkan di Aljazair dan Tunisia. Namun, argumen itu masih belum berhasil untuk memuaskan otoritas Turki, dan pada tahun 1890 Kepala Pemerintahan Perancis, Freycinet, melarang pertunjukkan drama berjudul "Muhammad" di Perancis, larangan yang, seperti dilaporkan, menyenangkan Sultan Abdul Hamid II. Memang harus diakui bahwa tidak dapat disangkan umat Islam akan menganggap drama itu sebagai penghinaan di mana Nabi Muhammad digambarkan melakukan bunuh diri karena seorang wanita dan karena perasaan rendah diri atas agama Kristen, tetapi tidak ada bukti bahwa baik Duta Besar Turki atau Sultan telah menyaksikan drama itu, apalagi membacanya, ketika mereka pertama kali mengajukan keberatan atas hal itu. Menyerahnya Pemerintah Perancis atas tekanan Turki ini adalah hal yang masuk akal disebabkan oleh Martino hingga situasi politik kontemporer masa itu, karena pada tahun 1889 Kaisar Jerman William II memulai perjalanannya ke Istanbul dan Timur Dekat, dan Prancis takun untuk melakukan apapun yang mungkin mendorong Turki jatuh kedalam pangkuan Jerman, sedangkan kepekaan atas banyaknya warga Prancis Muslim di Afrika Utara juga harus telah menjadi pertimbangan. Baru pada tahun 1896, kutipan atas drama Muhammad ditmapilkan kepada publik dalam suatu gubahan yang khusus dibuat untuk deklamasi teater. Sejak zaman Bornier itu, tidak ada dramawan besar Eropa yang tampaknya telah memainkan drama tentang kehidupan Nabi."

Sumber: C.E. Bosworth, 'Sebuah Dramatisasi atas Kehidupan Nabi Muhammad: Drama 'Mahomet' karya Henri de Bornier, Numen, Vol. 17, Fasc. 2 (Agustus, 1970), hal 116.

Walhasil, umat membutuhkan institusi politik, negara, yang mampu mengayomi hak - hak beragama serta pelaksanaan syariat secara sempurna. Tanpa itu, musuh-musuh Islam akan dengan mudah merampas hak-hak kaum muslim untuk taat pada perintah Allah.

Islam lebih kuat dari Islamophobia Perancis dan akan mengalahkannya. Sehingga tidak peduli bagaimana propaganda jahat yang berusaha untuk memalingkan kaum Muslim dari Islam, dan berusaha untuk menipu mereka dengan hukum-hukum liberal. Perlu diketahui bahwa kaum Muslim akan tetap berpegang teguh pada agama mereka yang hanif.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here