Mubalighah Adalah Lampu Umat! - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, October 1, 2020

Mubalighah Adalah Lampu Umat!


Ainun D. N. (Direktur Muslimah Care)

Rencana kebijakan sertifikasi ulama oleh pemerintah menuai kontra produktif. Banyak pihak khawatir kebijakan tersebut berpotensi dimanfaatkan demi kepentingan pemerintah guna meredam ulama yang tak sejalan serta rentan disalahgunakan oleh pemerintah dan pihak yang anti kritik kebijakan pemerintah. Ide sertifikasi  juga dinilai sebagian pihak telah merendahkan ulama, dan mendeskriditkan Islam; juga telah mencedrai perasaan umat Islam. Ide sertifikasi ini juga dianggap berpotensi untuk memperalat para ulama' untuk menjaga kepentingan para penguasa. Walhasil, kedudukan ulama, mubaligh dan mubalighah tinggi dan mulia bagi umat.

Kewajiban Ulama, mubaligh, mubalighah sebagai warasatul anbiya' adalah  menyampaikan al-haq dan menolak yang bathil. Sampai-sampai sebagian ulama' salaf menyatakan :
 

السَّـاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطاَنٌ أَخْرَسُ، وَالمْـُتَكَلِّمُ بِالْباَطِلِ شَيْطاَنٌ ناَطِقٌ
(الدرر السنية في الكتب النجدية) (10/  85)

"Bahwa orang yang diam, tidak menyampaikan al-haq maka dia layaknya syetan yang bisu. Sedangkan orang yang berbicara secara bathil maka dia itu layaknya syetan yang berbicara."

Secara lebih spesifik lagi, tugas para mubalighah cukup berat. Mereka adalah para ibu tangguh yang mendidik anak-anaknya, para istri shalihah yang taat kepada suaminya dan para pengatur rumah tangga yang menata tempat tinggalnya. Mereka juga bergerak di tengah-tengah umat bersama-sama dengan para ulama dari kalangan pria. Mereka berada di garda terdepan dalam membimbing umat dan menunjukkan arah perjuangannya. Mereka laksana bintang-gemintang yang menjadi penerang dan penunjuk arah. Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِي اْلأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِي السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتْ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الْهُدَاةُ

"Sesungguhnya perumpamaan ulama di muka bumi laksana bintang-bintang yang ada di langit yang menerangi kegelapan bumi dan laut. Jika hilang bintang-gemintang itu hampir-hampir tersesatlah yang tertunjuki itu." (HR Ahmad).

Di tengah arus westernisasi berkedok globalisasi, para mubalighah harus memiliki kesadaran politik yang tinggi. Tanpa itu, alih-alih memberikan petunjuk arah perjuangan, para mubalighah tanpa sadar justru mengkampanyekan program dan slogan kekufuran yang menipu; yang tampak indah kemasannya namun hakikatnya menyerang kesucian akidah Islam, simbol-simbol Islam dan hukum-hukumnya

Para mubalighah perlu menyadari bahwa kaum Muslimah dan keluarga Muslim adalah sasaran atau target program liberalisasi. Kemunculan berbagai lembaga dengan program-program peningkatan hak-hak perempuan, pembebasan kaum perempuan, konferensi kependudukan, gender equality dan keluarga berencana adalah wujud nyata agenda negara-negara Barat untuk menyerang kaum Muslimah dan keterikatan mereka pada hukum syariah yang hanif.

Para mubalighah berkewajiban meluruskan arah perjuangan kaum perempuan saat ini. Faktanya, banyak organisasi perempuan mengusung slogan-slogan di atas sebagai inti perjuangannya. Benar apa yang digambarkan Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah, "Al-Maghlub muli'un bi taqlid al-ghalib (Kaum yang kalah akan 'terobsesi' untuk membebek kepada kaum yang menang."

Para mubaligh dan mubalighah hendaknya meneguhkan kembali jatidiri dan perannya sebagai bagian dari ulama pewaris nabi (waratsatul anbiya'). Dalam hal ini, peran mubalighah bukan hanya sekadar menguasai khazanah pemikiran Islam, baik yang menyangkut akidah maupun syariah. Lebih dari itu, bersama umat, mubalighah harus berupaya memperjuangkan penerapan akidah dan syariah Islam itu secara total dalam seluruh aspek kehidupan (ekonomi, politik/pemerintahan, pendidikan, sosial, hukum/peradilan, politik luar negeri dll); bukan hanya dalam tataran spiritual, moral dan ritual belaka. 

Karena itu, mubalighah harus selalu terlibat dalam perjuangan untuk mengubah realitas rusak yang bertentangan dengan warisan Nabi saw. Hal itu tidak mungkin terjadi jika syariah Islam tidak diterapkan oleh negara. Dalam hal ini, negara pasti mau menerapkan syariah Islam jika ada dukungan dan dorongan kuat dari para ulama.

Para mubaligh dan mubalighah harus menjaga umat dari tindak kejahatan, pembodohan dan penyesatan yang dilakukan oleh musuh - musuh Islam dan antek-anteknya melalui gagasan, keyakinan dan sistem hukum yang bertentangan dengan Islam. Karena itu, mubalighah juga harus mampu menjelaskan kepada umat Islam kerusakan dan kebatilan semua pemikiran dan sistem rusak seperti sekulerisme, HAM, pluralisme dan paham-paham kufur terkait perempuan seperti gender equality, peningkatan hak-hak perempuan dan sebagainya. Mubalighah juga harus bisa mengungkap semua niat jahat di balik semua sepak terjang imperialis asing dan antek-anteknya. Ini ditujukan agar umat terjauhkan dari kejahatan musuh-musuh Islam.

Para mubaligh dan mubalighah harus menjadi pengontrol penguasa. Peran dan fungsi ini hanya bisa berjalan jika mubalighah sebagai bagian dari ulama mampu memahami konstelasi politik global dan regional. Mubalighah harus memiliki visi politis-ideologis yang kuat hingga bimbingan dan tablig yang ia keluarkan tidak hanya beranjak dari tinjauan normatif belaka, tetapi juga bertumpu pada ideologis-politis. Dengan demikian, fatwa-fatwa ulama mampu menjaga umat Islam dari kebinasaan dan kehancuran, bukan malah menjadi sebab malapetaka bagi kaum Muslim.

Selanjutnya para mubaligh dan mubalighah harus membina umat agar selalu berjalan di atas tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dengan begitu, umat memiliki kepribadian Islam yang kuat; mereka juga berani mengoreksi penyimpangan - penyimpangan dan kezaliman.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here