Nikmatnya Memuliakan Tamu - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, October 1, 2020

Nikmatnya Memuliakan Tamu


Abu Inas (Pembina Tabayyun Center)

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Siapa saja yang mengimani Allah dan Hari Akhir hendaklah berkata yang baik atau diam. Siapa saja yang mengimani Allah dan Hari Akhir hendaklah memuliakan tetangganya. Siapa saja yang mengimani Allah dan Hari Akhir hendaklah memuliakan tamunya (HR Ashhab at-Tis'ah dan lainnya).

Hadis ini bersumber dari penuturan empat orang Sahabat: Abu Hurairah, Aisyah, Anas bin Malik dan Abu Syuraih. Abu Syuraih adalah Khuwailid bin Amru al-Khuza'i al-Ka'bi, salah seorang Sahabat besar, wafat tahun 68 Hijrah.

Memuliakan tamu itu di antaranya dengan menampakkan kegembiraan kepadanya; berkata-kata baik kepadanya; serta memberi makanan, menyediakan tempat istirahat dan apa yang dia perlukan tanpa merasa terbebani. Termasuk memuliakan tamu itu adalah dengan melayaninya langsung, bukan dengan menyuruh orang lain.

Tentang memuliakan tamu ini Rasul saw. juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهْوَ صَدَقَةٌ، وَلاَ يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِىَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ

Siapa saja yang mengimani Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tamunya, jâizatahu adalah sehari semalam, dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah kepadanya dan tidak halal tetap berdiam di situ hingga tuan rumah mengeluarkannya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Jâizatahu yaitu penghormatan dengan menjamu tamu lebih dari yang biasa dikonsumsi. Waktunya adalah sehari semalam. Sementara itu, waktu bertamu adalah tiga hari. Dua hari berikutnya memuliakan tamu dilakukan dengan menjamunya dengan apa yang ada tanpa harus bersusah-payah atau memaksakan diri. Artinya, menjamunya cukup dengan makanan seperti yang dimakan oleh tuan rumah. Adapun selepas tiga hari maka menjamu dan menyediakan keperluan tamu itu terserah pada kemauan tuan rumah.

Namun, seseorang tidak boleh bertamu lebih dari tiga hari, sebab hadis di atas menyebutkan lâ yahillu (tidak halal); kecuali atas permintaan, keinginan, izin atau persetujuan dari tuan rumah. Hal ini diambil dari mafhûm al-mukhâlafah dari frasa hattâ yukhrijahu. Selain itu juga tidak sampai menyusahkan atau membebani tuan rumah. Ini diambil dari mafhûm al mukhâlafah sabda Rasul saw.: hattâ yu’tsimahu berikut:

الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقِيمَ عِنْدَ أَخِيهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمُهُ قَالَ: يُقِيمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَىْءَ لَهُ يَقْرِيهِ بِهِ

"Bertamu itu tiga hari dan pengutamaannya adalah sehari semalam. Tidak halal bagi seorang laki-laki Muslim berdiam di rumah saudaranya hingga membuatnya berdosa." Mereka (para sahabat) berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana membuatnya berdosa?" Rasul saw. menjawab, "Berdiam di rumahnya, sementara ia tidak punya sesuatu untuk menjamu tamu itu." (HR Muslim).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here