Omnibuslaw Ciker Dan Tambal Sulam Solusi Perburuhan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, October 9, 2020

Omnibuslaw Ciker Dan Tambal Sulam Solusi Perburuhan


Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)

Omnibus Law RUU Cipta Kerja telah diketok palu oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dampaknya adalah gejolak buruh dan mahasiswa besar - besaran di berbagai wilayah. hampir secara periodik terjadi di negeri ini. Aksi tersebut merupakan realisasi dari rencana mogok nasional untuk menyuarakan dan memperjuangkan satu tuntutan: menolak UU ini. Aksi ini juga merupakan bentuk ekspresi kekecewaan para pekerja terhadap Pemerintah yang dianggap tidak peka merespon aspirasi mereka. Aksi tersebut turut berdampak pada kelesuan produksi dan iklim lapangan kerja yang baik.

Kebijakan Omnibuslaw Ciker dianggap untuk kepentingan Investasi yang bersekongkol dengan ruang politik nasional. Yang pada akhirnya adalah penjajahan kapitalisme dengan gaya baru. Kedua, ancaman kebijakan dan situasi saat ini kepada buruh secara khusus dan rakyat secara umum. 

Salah satu pemicu utama problem perburuhan adalah kesalahan tolok ukur yang digunakan untuk menentukan gaji buruh, yaitu biaya hidup terendah. Akibatnya, para buruh tidak mendapatkan gaji mereka yang sesungguhnya. Mereka hanya mendapatkan gaji sekadar untuk mempertahankan hidup mereka. Konsekuensinya, terjadilah eksploitasi yang dilakukan oleh para pemilik perusahaan terhadap kaum buruh. Dampak dari eksploitasi inilah yang kemudian memicu lahirnya gagasan tentang perlunya pembatasan waktu kerja, upah buruh, jaminan sosial, dan sebagainya.

Kaum kapitalis pun terpaksa melakukan sejumlah revisi terhadap ide kebebasan kepemilikan dan kebebasan bekerja; juga tidak lagi menjadikan biaya hidup terendah sebagai standar dalam penentuan gaji buruh. Kontrak kerja pun akhirnya diikuti dengan sejumlah prinsip dan ketentuan yang bertujuan untuk melindungi buruh, memberikan hak kepada mereka yang sebelumnya tidak mereka dapatkan; seperti kebebasan berserikat, hak membentuk serikat pekerja, hak mogok, pemberian dana pensiun, penghargaan dan sejumlah kompensasi lainnya. Mereka juga diberi hak upah tambahan, libur mingguan, jaminan berobat, dan sebagainya.

Jadi, masalah perburuhan yang terjadi sebenarnya dipicu oleh dasar yang digunakan oleh sistem Kapitalisme, yaitu kebebasan kepemilikan, kebebasan bekerja dan biaya hidup terendah yang dijadikan sebagai standar penentuan gaji buruh. Karena itu, masalah perburuhan ini akan selalu ada selama relasi antara buruh dan majikan dibangun berdasarkan sistem ini. Meski mereka telah melakukan sejumlah tambal-sulam untuk menyumbat kemarahan kaum buruh dan menghadapi provokasi kaum sosialis, tambal sulam ini secara natural hanya sekadar untuk mempertahankan sistem Kapitalisme. Jika diklaim bahwa tambal sulam ini telah berhasil memecahkan masalah perburuhan, jelas itu hanya klaim tanpa fakta.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here