Ruh Perjuangan Pada Momentum Maulid Nabi - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, October 24, 2020

Ruh Perjuangan Pada Momentum Maulid Nabi


Anwar Rosadi (Indonesia Change)

Sebagaimana telah dimaklumi bersama, saat ini kita berada dalam bulan Rabiul Awwal atau Bulan Mulud menurut istilah orang Jawa. Setiap datang bulan Rabiul Awwal, umat Islam, khususnya di Indonesia, biasanya akan menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Maklum, tanggal 12 pada bulan ini diyakini sebagai hari kelahiran Baginda Rasulullah saw. Umat Islam biasa merayakannya dengan istilah Peringatan Maulid Nabi saw. atau Muludan. Sejumlah acara biasanya digelar dengan melibatkan jumlah massa yang besar. Di samping tablig akbar dan salawatan (pembacaan shalawat), di kalangan masyarakat tradisional di kampung-kampung, pembacaan Kitab Barzanji—kitab sastra yang berisi biografi Nabi Muhammad saw. serta puja-puji dan shalawat atas Beliau—biasanya tidak pernah ketinggalan. 

Di sejumlah daerah tertentu, pembacaan Barzanji—yang diambil dari nama pengarang naskah tersebut, yakni Syaikh Ja’far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim (w. 1766)—merupakan "menu" wajib yang tidak boleh dilewatkan. Bahkan kitab yang sebenarnya berjudul 'Iqd al-Jawahir (Kalung Permata) ini, dan disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw., begitu dihormati dan diagungkan.

Terlepas dari sikap kontra sebagian kalangan terhadap kegiatan Peringatan Maulid Nabi saw. ini, termasuk tradisi membaca Barzanji, semua kegiatan di atas tentu dilatarbelakangi oleh kecintaan umat ini yang sangat mendalam terhadap Nabi mereka.

Menurut catatan sejarah, Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, Gubernur Irbil, Irak, pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1138-1193 M). Menurut sumber lain, yang pertama mencetuskan ide Peringatan Maulid Nabi saw. adalah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi sendiri. Waktu itu tujuannya adalah untuk memperkokoh semangat umat Islam umumnya, khususnya mental para tentara Muslim yang lemah dalam menghadapi serangan tentara Salib dari Eropa, yang ingin merebut tanah suci Yerusalem dari tangan kaum Muslim.

Pendek kata, secara sosio-historis, Peringatan Maulid Nabi saw. dilatarbelakangi oleh: di satu sisi Perang Salib yang dilancarkan oleh kaum kafir Kristiani yang ingin merebut Kota Yerusalem (Palestina); di sisi lain melemahnya semangat jihad kaum Muslim dalam melawan kaum kafir Kristiani itu. Efeknya memang sangat luar biasa. 

Dengan Peringatan Maulid Nabi saw. inilah Sultan Shalahuddin saat itu mampu membangkitkan kembali kesadaran kaum Muslim sekaligus semangat jihad mereka dalam membela agama Allah ini, khususnya melawan kafir dalam Perang Salib.Sayang, saat ini Peringatan Maulid Nabi saw. sudah jauh bergeser dari motif awalnya. Saat ini, Peringatan Maulid Nabi saw. yang diselenggarakan oleh kaum Muslim telah terjebak dalam rutinitas tahunan dan terkungkung dalam acara seremonial belaka. Akibatnya, efeknya pun kurang terasa. 

Peringatan Maulid Nabi saw. saat ini hendaknya membangkitkan kembali kesadaran dan semangat keagamaan serta ruh jihad kaum Muslim, sebagaimana yang pernah dicapai pada masa Sultan Salahuddin delapan abad yang lalu. Padahal, kondisi saat ini sebetulnya tidak jauh berbeda dengan pada masa Sultan Shalahuddin; kaum Muslim sama-sama dihadapkan pada musuh yang sama, yakni kekufuran dan kezaliman. Bedanya, jika pada zaman Sultan Shalahuddin dulu umat Islam berhadapan langsung secara fisik melawan pasukan Salib yang Kristen, maka sekarang kaum Muslim dihadapkan dengan dua musuh sekaligus: secara fisik dengan penjajah Amerika Serikat dan sekutunya (termasuk Israel), yang saat ini terutama sedang menjajah Palestina, Afganistan, dan Irak; secara pemikiran dengan ideologi Kapitalisme global yang berbasiskan Sekularisme, yang saat ini mendominasi Dunia Islam dan menjadi biang keterpurukan kaum Muslim saat ini di berbagai bidang kehidupan.

Walhasil, saat ini kaum Muslim sesungguhnya dihadapkan pada persoalan yang jauh lebih rumit ketimbang pada masa Sultan Shalahuddin delapan abad yang lalu. Sebab, saat ini umat Islam diserang oleh orang-orang kafir baik secara fisik maupun pemikiran. Karena itu, Peringatan Maulid Nabi saw. saat ini sejatinya memberikan efek yang lebih dahsyat daripada yang pernah dicapai oleh Sultan Shalahuddin dulu. Jika dulu, melalui Peringatan Maulid Nabi saw. Sultan Shalahuddin berhasil memompa semangat jihad kaum Muslim melawan orang-orang kafir, maka seharusnya peringatan Maulid Nabi saw. saat ini, di samping mampu membangkitkan semangat jihad melawan Amerika, Israel (yang lebih dari setengah abad menduduki Yaerusalem) dan sekutu-sekutunya, juga sekaligus mampu menumbuhkan kesadaran untuk terus menyingkirkan dominasi ideologi Kapitalisme global yang berbasiskan Sekularisme. Jika tidak, tentu Peringatan Maulid Nabi saw. yang diselenggarakan setiap tahun akan kehilangan maknanya.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here