Saat Guru Mampu Mengelola Emosi Dalam Memberikan Pengajaran Terbaiknya - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, October 24, 2020

Saat Guru Mampu Mengelola Emosi Dalam Memberikan Pengajaran Terbaiknya


M. Arifin (Tabayyun Center)

Dalam kegiatan mengajar kadang kita lihat beberapa guru – semoga Allah memberi mereka petunjuk – atau bahkan kita sendiri kadang - kadang khilaf sampai kurang sabar dan kasih sayang sedikitpun.  Hanya memarahi muridnya ketika ia tidak faham satu masalah dan mengerti apa yang diminta gurunya, dia akan terlihat marah dan meledak emosinya ketimbang bersikap sabar, bijak dan berusaha menghadapinya, kadang ia mengeluarkan kata-kata dan bersikap yang menyakiti perasaan muridnya. 

Karenanya seorang guru harus bisa mengendalikan diri, bersabar, merenung, dan mengelola emosinya terhadap pertanyaan-pertanyaan murid, meski terkadang terjadi kejenuhan. Kita diingatkan dengan kisah Mu'awiyah bin al-Hakam, r.a. saat ia mengikuti sholat jama'ah dan ia belum tahu bahwa berbicara ketika sholat itu diharamkan. Seorang sahabat bersin, kemudian ia menegurnya, sahabat lain mengingatkannya dengan isyarat, namun ia tidak faham dan melanjutkan kalimatnya. Ketika sholat usai, Rasulullah SAW memanggilnya, Mu’awiyah menghampiri dengan ketakutan, kemudian bersabda Rasulullah dengan kelembutan: "...Saat sedang sholat, tidak boleh terjadi apapun dari ucapan manusia, selain tasbih, tahmid dan bacaan Qur’an...".  Mu'awiyah mengomentari perbuatan Rasulullah SAW dengan mengatakan: "Demi Ayah dan Ibuku, belum pernah aku melihat pengajaran terbaik dan paling santun selain dari pengajaran Baginda Rasulullah SAW." Seperti itulah kesabaran dan kasih sayang Rasulullah, suri tauladan dan guru yang seluruh ucapan dan perbuatannya adalah pengajaran.

Demikian juga dengan sifat jujur dan komitmen yang mesti menghiasi pribadi guru, sebagaimana Allah telah menyerunya: "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian lakukan...".  Ketika guru berjanji pada muridnya ia wajib menepatinya atau meminta ma’af ketika tidak bisa memenuhinya agar integritasnya terjaga saat ia meminta muridnya untuk melakukan sesuatu atau meminta untuk meninggalkan sesuatu. Guru juga harus bersifat rendah hati, Ibnu 'Abdi al Barri meriwayatkan dalam kitab "Jami’ bayaani al-'ilmi wa fadhluhu" dari 'Umar bin Khaththab r.a. mengatakan, "Carilah ilmu dan ajarkan pada orang-orang, dan belajarlah tentang kehormatan dan ketenangan, dan rendah hati lah kepada orang yang kalian belajar darinya dan juga kepada orang yang kalian ajari, jangan menjadi guru pemaksa dan jangan bertindak bodoh dengan ilmu kalian".  Beliau adalah guru sekaligus murid, sehingga tidak heran seorang guru akan mendapat manfaat ilmu dari apa yang dimiliki murid-muridnya.  Bahkan guru akan mudah merevisi kesalahan yang terjadi pada dirinya, atau mengatakan: "Saya tidak tahu" atau "Allah lebih mengatahuinya" terhadap sesuatu yang belum ia ketahui.  Hal inilah yang menjadikan ia memiliki kebesaran jiwa, rendah hati dan tidak lancang mengeluarkan fatwa tanpa dilandasi ilmu.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here