SALAH SATU CARA RASULULLAH MEMULIAKAN ISTRI-ISTRINYA - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, October 21, 2020

SALAH SATU CARA RASULULLAH MEMULIAKAN ISTRI-ISTRINYA


Oleh : Muhammad Ikhsan

Memang sebagian para lelaki terutama para suami mempunyai kebiasaan larut dalam kesibukannya sehari hari, terkadang jika ada kesempatan mereka terlihat lebih nyaman keluar rumah [Hang Out] bersama rekan kerja ataupun kawan kawan sepergaulannya meninggalkan istri dan anaknya di rumah. 

Tapi coba tengoklah Rasulullah suri tauladan kita, meskipun di tengah kesibukan berdakwah dan mengurus umat, beliau pun masih mampu menjaga hubungan yang romantis bersama istri istri beliau. Karena Rasulullah memang begitu memuliakan wanita yang menjadi istri istrinya.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَطَارَتْ الْقُرْعَةُ لِعَائِشَةَ وَحَفْصَةَ...... 

Dari Aisyah bahwasanya Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hendak keluar mengadakan perjalanan, beliau mengadakan undian antara isteri-isterinya, lalu undian itu pun jatuh pada Aisyah dan Hafshah.....
[HR. Bukhari] 

Dari hadits di atas, bisa diambil kesimpulan bahwasannya Rasulullah pun tetap menyempatkan diri untuk mengajak / mengikutsertakan istri istrinya untuk bepergian ke luar kota dalam kesibukan beliau berdakwah dan mengurus umat. 

Dalam riwayat hadits lain pun dijelaskan Rasulullah pun mengajak istrinya Aisyah untuk beranjak keluar rumah melihat suatu pertunjukan sebagai sarana untuk menghibur istri beliau.

Pada suatu hari raya ied orang-orang dari Bani Arfidah [1] sedang berada di dalam masjid Nabawi, mereka sedang melakukan latihan/atraksi permainan tombak dan perisai dengan lincahnya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Aisyah, “Wahai Humaira [2], apakah engkau mau melihat mereka?”

Aisyah pun sepakat dengan tawaran Rasulullah dan menjawab iya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan pintu Masjid, lalu Aisyah datang dan meletakkan dagunya pada pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Aisyah pun menempelkan pipinya pada pipi beliau.
Nabi pun membatasi dengan melingkarkan selendang/sorbannya pada tubuh Aisyah.

Sampai pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah sudah cukup, wahai Aisyah?”

Sepertinya Aisyah enggan untuk menyegerakan momen tersebut, “Jangan terburu-buru, wahai Rasulullah.” jawabnya. 

Maka beliau pun tetap berdiri. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi pertanyaannya,
“Apakah sudah cukup wahai Aisyah?”

Namun, Aisyah tetap engggan beranjak dan menjawab, “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Aisyah pun berkata, “Sebenarnya bukan karena aku senang melihat permainan mereka, tetapi aku hanya ingin memperlihatkan kepada para wanita bagaimana kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapku dan kedudukanku terhadapnya.”

Alangkah baiknya jika menjadikan rumah tangga Rasulullah sebagai teladan rumah tangga ideologis kita. Kita sebaiknya menghargai seorang wanita sebagai istri kita, selayaknya Rasulullah menghargai istri istrinya. Inilah gambaran rumah tangga yang selalu diliputi berkah, rahmat, bertabur cinta dan kemesraan. Panutan umat Islam sejagat ini adalah sosok suami yang pandai mengistimewakan, menyayangi dan memanjakan perempuan sebagai istri.

Betapa hebatnya Syariat Islam dalam memuliakan dan menghargai wanita. Seorang wanita dalam Islam tidak boleh sama sekali disakiti dan dizalimi.
Dalam prinsip Islam, kaum wanita hidup dengan penuh kemuliaan. Wanita terus mendapatkan penghargaan dan dihargai serta dimuliakan semenjak pertama kali dia terlahir ke bumi. Mereka dimuliakan dalam setiap fase kehidupan yang mereka lalui, baik ketika ia sebagai seorang bayi, anak, ibu, istri, saudara, bibi dan lain lain.
Kaum wanita pada semua fase kehidupannya selalu dimuliakan dan diberikan hak-hak khusus oleh Syariat Islam.

Caatatan kaki :
[1] Bani Arfidah adalah suatu panggilan yang biasa digunakan orang-orang Arab untuk memanggil penduduk Habasyah (sekarang Ethiopia)

[2] Humaira, panggilan sayang/manja Rasulullah kepada istrinya Aisyah, yang berarti kemerah-merahan. Aisyah istri Rasulullah memang rupawan, kulit wajahnya begitu putih bersih kemerah merahan.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here