Ulama' Salatin Itu... - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, October 1, 2020

Ulama' Salatin Itu...


Achmad Fathoni 

Ulama salatin adalah ulama yang mengabdikan dirinya kepada para penguasa jahat dan lalim. Hal ini berbeda 180 derajat, ulama pewaris nabi sadar sepenuhnya bahwa kehancuran negara dan masyarakat disebabkan karena kerusakan ulama. Imam al-Ghazali mengibaratkan ulama sebagai "garam negara". Apa gunanya garam jika ia telah rusak? Ulama adalah dokter yang bertugas mengobati penyakit umat. Bagaimana negara bisa sembuh dari sakitnya jika dokternya sendiri sakit dan bermasalah? Begitu pula keadaan negeri-negeri Islam sekarang. Para penguasa yang memimpin kaum Muslim kebanyakan adalah para penguasa antek yang menerapkan sistem rusak. Mereka membuat kerusakan di tengah-tengah umat dengan kebijakan-kebijakannya yang lalim dan khianat. 

Ulama wajib tampil ke depan meluruskan penyimpangan para penguasa sekaligus mengingatkan umat atas kejahatan mereka. Bahkan ulama wajib memimpin umat untuk menjungkalkan para penguasa fasik dan lalim, lalu mengganti mereka dengan para pemimpin yang taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Lalu apa jadinya sebuah negara jika ulama justru mendukung dan melegitimasi kebijakan penguasa lalim dan fasik?

Seorang sahabat terkemuka, yang juga ulama pilih tanding, Ibnu Mas’ud ra. pernah menyatakan:

إِنَّ عَلَى أَبْوَابِ السُّلْطَانِ فِتَنًا كَمَبَارِكِ اْلإِبِلِ وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ تُصِيْبُوْنَ مِنْ دُنْيَاهُمْ شَيْئًا إِلاَّ أَصَابُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ مِثْلَهُ

Sesungguhnya pada pintu-pintu penguasa itu ada fitnah sebagaimana tempat-tempat menderumnya unta. Demi Zat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah kalian mengambil dunia mereka sedikit pun, kecuali mereka akan mengambil agama kalian sepadan (dengan dunia yang kalian ambil) (Al-Baghawi, Syarh as-Sunnah).

Sifat-sifat di atas hanya bisa diwujudkan ketika seorang alim benar-benar mengimani Allah SWT dan Rasul-Nya serta taat sepenuhnya terhadap semua perintah-Nya. Pasalnya, iman meniscayakan ketaatan, dan ketaatan tidak mungkin terwujud tanpa keimanan.

Ulama pewaris nabi menyadari sepenuhnya bahwa dunia tidaklah kekal abadi. Dunia adalah permainan, tipudaya dan cobaan bagi dirinya. Cinta dunia akan memalingkan dirinya dari akhirat yang kekal abadi. Bahkan cinta dunia merupakan sebab kehancuran jatidiri ulama. Seorang ulama tidak akan mengambil dunia kecuali sekadar yang ia butuhkan untuk menopang kehidupan dirinya dan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Sebaliknya, ia berusaha meraih ilmu sebanyak-banyaknya, dan menghabiskan waktunya untuk kepentingan kaum Muslim. 

Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali menyatakan, "Ulama terdiri dari tiga kelompok. Pertama: Ulama yang membinasakan dirinya dan orang lain. Mereka adalah ulama yang dengan terang-terangan mencari dunia dan rakus terhadap dunia. Kedua: Ulama yang membahagiakan dirinya dan orang lain. Mereka adalah ulama yang menyeru manusia kepada Allah lahir dan batin. Ketiga: Ulama yang membinasakan dirinya sendiri dan membahagiakan orang lain. Mereka adalah ulama yang mengajak ke jalan akhirat dan menolak dunia secara lahir, tetapi dalam batinnya ingin dihormati manusia dan mendapatkan kedudukan yang mulia. Karena itu perhatikan pada golongan mana Anda berada." (Al-Ghzali, Ihyâ' 'Ulûm ad Dîn, Juz III).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here