Wahai Mu'tashim, Dimanakah Engkau - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, October 6, 2020

Wahai Mu'tashim, Dimanakah Engkau


Agung Wisnuwardana

Siapapun yang mengamati keberadaan Dunia Islam pada abad 20 pasti akan sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa kaum Muslim mengalami kemunduran akibat ketidakpedulian mereka terhadap agama mereka. Sebab, mereka telah meninggalkan nilai-nilai dan dasar-dasar Islam. Mereka cenderung pada kehidupan yang serba materialistik, serba wah dan bergelimang kenikmatan. Hal itu merupakan kehidupan yang menipu. Akibatnya, mereka hidup dalam keterasingan, kerendahan, saling berebut, lebih mencintai diri sendiri dan tidak pernah memikirkan saudara-saudara mereka, kaum Muslim yang lain.

Rasulullah saw. diutus dengan membawa agama Islam yang agung ini tidak untuk disambut hanya dengan lisan saja, melainkan untuk diterapkan atas umat manusia di muka bumi ini. Untuk itu, diperlukan sebuah negara yang menegakkan semua ketentuannya dan menerapkan semua hukumnya.

Rasulullah saw. menyeru manusia ke jalan Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata) di Makkah al-Mukarramah. Beliau tak henti-hentinya meminta dukungan dan pertolongan ke berbagai kabilah serta kepada orang-orang yang memiliki pengaruh dan kekuatan. Akhirnya, Allah SWT menolongnya dengan dukungan dan pertolongan dari penduduk Madinah al-Munawwarah. Beliau kemudian hijrah dan mendirikan negara di sana (Daulah Islamiyah, red.). Setelah itu, beliau melakukan futûhât (pembebasan) dan menyebarkan Islam.

Apa yang beliau contohkan kemudian dilanjutkan Khulafaur Rasyidin sesudahnya. Negara Islam, yakni Negara Khilafah, telah berlangsung pada masa Bani Umayah, Abbasiyah dan Utsmaniyahhingga akhirnya kaum kafir penjajah yang dipimpin Inggris ketika itu, dengan bantuan para pengkhianat Bangsa Arab dan Turki, berhasil melenyapkan Khilafah 88 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 Rajab 1342 H/3 Maret 1924 M.

Kaum Muslim di sepanjang masa Kekhilafahan adalah umat yang kuat karena kedekatan mereka dengan Tuhan mereka; juga umat yang mulia karena kekonsistenan mereka dalam menjalankan agama . Pernyataan mereka bisa menggemparkan dunia. Tindakan mereka bisa membuat kaum kafir pun gemetar ketakutan.

Khalifah kaum Muslim memberikan perlindungan dan pertolongan kapan saja. Perhatiannya terhadap kaum Muslim sangatlah besar. Bendera Khilafah ada di manapun ketika dibutuhkan.

Pernah ada seorang penguasa Romawi yang berani kurang ajar terhadap negeri-negeri kaum Muslim. Dia mengirim surat yang bernada ancaman kepada Harun ar-Rasyid, Khalifah kaum Muslim. Khalifah Harun ar-Rasyid saat itu memandang bahwa jawaban surat itu tidak perlu dengan kertas lain, melainkan cukup di tulis di balik surat tersebut, "Jawaban atas ancaman Anda adalah apa yang akan Anda lihat, bukan apa yang akan Anda dengar." Beliau lalu memimpin sendiri pasukan; beliau mengalahkan si pengancam dan dia merasakan akibat dari kekurangajaran yang telah dia lakukan.

Pernah ada seorang wanita yang dianiaya oleh seorang panglima Romawi. Ia menjerit minta tolong. Wanita itu berkata, "Wahai Mu’tashim (Khalifah al-Mu'tashim), dimanakah Engkau!" Khalifah pun segera meresponnya dengan mengirim pasukan yang dipimpinnya sendiri hingga beliau berhasil mengalahkan musuhnya, menghukum orang yang telah berani kurang ajar terhadap wanita tersebut serta mengembalikan kehormatan dan perasaan amannya.

Suatu hari Raja Persia ditahan. Namun, tidak ada satu pun orang Persia yang mau menolong untuk menyelamatkan rajanya dari tahanan, kecuali Khalifah kaum Muslim, yakni Sulaiman al-Qanuni rahimahullâh.

Demikianlah, kaum Muslim sepanjang masa Kekhilafahan mereka menjadi penguasa dunia, yang yang menebarkan kebaikan.

Pada masa Khilafah pula kaum Muslim menjadi yang nomor satu dalam segala hal. Kaum Muslimlah pelopor dalam bidang perindustrian. Mereka telah memproduksi manjaniq (alat perang kuno), senjata berat pada zamannya. Dengan senjata itu kaum Muslim berhasil menghancurkan benteng Taif hingga rata dengan tanah pada masa Rasulullah saw. Mereka juga telah memproduksi meriam raksasa pada masa Muhammad al-Fatih rahimahullâh. Dengannya senjata itu mereka mampu menghancurkan benteng Konstantinopel.

Kaum Muslimlah pelopor dalam ilmu pengetahuan; dalam bidang fisika, kimia, matematika dan astronomi. Hal ini tidak hanya diakui oleh kawan, tetapi juga lawan. Cukup menjadi bukti tentang kuatnya pengetahuan dan perindustrian kaum Muslim adalah hadiah jam hasil karya kaum Muslim kepada Charlemagne, Kaisar Eropa. Ketika jam itu berbunyi dan pintu-pintunya dibuka, mereka mengira itu pengiringnya. Mereka menyangka bahwa jam itu buatan jin.

Kaum Muslimlah pelopor dalam memilih penguasa dan membaiatnya. Pada saat yang sama, para penguasa pada zamannya bertindak bagaikan tuhan terhadap rakyatnya. Rakyat tidak boleh memprotes apa yang telah diputuskannya. Sebab, bagaimana rakyat bisa memprotes Tuhannya?

Abdurrahman bin Auf pernah berkeliling mendatangi rumah-rumah penduduk Madinah untuk menanyakan kepada kaum laki-laki dan perempuan, siapa yang akan mereka pilih untuk menduduki Kekhilafahan: Ali atau Utsman ra.

Kaum Muslimlah pelopr dalam menunaikan hak-hak kepada para pemiliknya, baik laki-laki maupun perempuan; hingga perempuan yang menjadi budak laki-laki, yang diperjualbelikan, yang tidak bernilai dan berharga sekalipun. Sesungguhnya Islam memuliakan perempuan.

Kaum Muslimlah pelopor dalam urusan-urusan perekonomian dan hidup mulia. Islam memberikan zakat kepada yang berhak sehingga pernah terjadi di beberapa waktu tidak ditemukan seorang fakir yang berhak menerimannya.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here