A Crisis - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, November 29, 2020

A Crisis


Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD)

Resesi yang mengglobal pada masa pandemi covid-19 sesungguhnya berpangkal pada kebatilan dan kerusakan Kapitalisme, baik dalam ideologi yang memisahkan agama (Islam) dari kehidupan maupun dalam sistem yang dilahirkan, termasuk sistem ekonominya. Kerusakan Kapitalisme tampak dalam poin-poin sebagai berikut:

1. Adanya persepsi bahwa problem ekonomi adalah kelangkaan relatif barang dan jasa (kekayaan), dan bukannya distribusi yang adil terhadap kekayaan itu.

2. Bersandarnya sistem ekonomi kapitalis pada riba.

3. Tidak digunakannya emas dan perak sebagai mata uang, tetapi digunakan uang kertas.

4. Rusaknya bursa efek dan pasar uang yang berlangsung saat ini.

5. Batilnya obligasi (surat utang) dan saham dalam berbagai jenisnya.

6. Tidak adanya pembatasan yang benar terhadap kepemilikan, yaitu hanya pada kepemilikan individu, atau hanya pada kepemilikan negara. Padahal sebenarnya ada tiga macam kepemilikan, yaitu: kepemilikan umum, kepemilikan negara, dan kepemilikan individu.

Sesungguhnya solusi-solusi yang diberikan selama ini tidaklah menyentuh substansi masalah yang ada, tetapi hanya terfokus pada berbagai dampak dan gejala krisis. Orang yang melihat institusi-institusi keuangan telah kehilangan likuiditasnya berkata, bahwa solusinya adalah dengan menggelontorkan miliaran dolar untuk menyehatkan kembali likuiditas intitusi-institusi keuangan tersebut. Mereka yang melihat bahwa pasar-pasar modal dan investasi telah mengalami kelesuan dan kebekuan berpendapat, bahwa solusinya adalah dengan mengurangi suku bunga (riba) agar kredit dapat meningkat, yang selanjutnya akan dapat menggerakkan kegiatan usaha (sektor riil). Mereka yang melihat bahwa saham, obligasi, dan berbagai surat-surat berharga telah kehilangan sebagian besar nilainya dan melampaui batas toleransinya berpendapat, bahwa solusinya adalah negara harus melakukan intervensi dan membeli banyak saham, obligasi, dan surat berharga itu.

Jelas, solusi-solusi itu tidak solutif. Itu bagaikan orang yang bercocok tanam di laut. Tentu tidak akan bisa. Gagalnya solusi ini disebabkan para pemberi solusi itu telah membatasi pemikirannya hanya pada dua sistem buatan manusia, yaitu Kapitalisme yang sedang sempoyongan ini, dan Sosialisme yang telah jatuh dan tersungkur di tanah. 

Mereka pun pura-pura tidak tahu akan adanya satu sistem yang telah berhasil memimpin umat manusia selama berabad-abad pada masa lalu, yang dengan itu manusia hidup di bawah naungannya dengan kehidupan yang sejahtera, menyenangkan, aman, dan stabil. Saat itu para pembagi zakat berkeliling ke pelosok-pelosok negeri mencari orang miskin, namun mereka tidak dijumpainya. Sementara itu, hari ini di negara terkaya di dunia, jumlah orang miskinnya justru mencapai jutaan orang. Untuk negara yang lain, tentu kondisinya lebih buruk lagi.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here