AS Dan "Vaksinasi" Gerakan - Gerakan Islam


Agung Wisnuwardana (Strategic And Military Power Watch)

 Surat Kabar "Asy-Syarq Al-Ausath", No 11770, 18 Februari 2011 menerbitkan sebuah artikel berjudul: "Masa Depan Demokrasi Mesir", ditulis oleh mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleeza Rice. Dalam artikelnya ia mengatakan sebagai berikut: "Langkah yang paling penting sekarang adalah mengekspresikan kepercayaan pada masa depan demokrasi Mesir. Rakyat Mesir bukan rakyat Iran. Revolusi Mesir tidak sama dengan revolusi Islam Iran yang meletus pada tahun 1979. Lembaga-lembaga Mesir lebih kuat, dan sekularismenya lebih mendalam. Dan yang perlu dipertimbangkan adalah partisipasi Ikhwanul Muslimin dengan kehendak rakyat dalam pemilihan umum yang bebas dan adil. Mereka harus dipaksa untuk mempertahankan visi mereka untuk Mesir. Akan tetapi, apakah Ikhwanul Muslimin akan berusaha untuk menerapkan hukum Syariah? Apakah mereka bertujuan memberikan masa depan dengan bom bunuh diri dan perlawanan dengan kekerasan terhadap Israel? Apakah mereka akan menggunakan Iran sebagai model politiknya, atau menggunakan model "al-Qaeda"? Apakah Mesir akan menyediakan fungsi-fungsi kerja bagi rakyatnya? Dan apakah mereka berencana untuk meningkatkan kondisi kehidupan Mesir yang terpisah dari masyarakat internasional melalui kebijakan yang dirancang untuk menggoyahkan stabilitas di kawasan Timur Tengah?"

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton pada 24 Februari 2011 menegaskan bahwa pemerintah AS tidak akan menentang kelompok Ikhwanul Muslimin Mesir untuk menduduki kekuasaan selama mereka meninggalkan kekerasan, berkomitmen untuk demokrasi dan hak-hak semua anggota masyarakat. Ia menambahkan bahwa harus dijamin bahwa konstitusi di Mesir harus benar-benar demokratis.

Politik Amerika ini mulai terlihat jelas buahnya (lepas landas) melalui dua fenomena: Pertama, vaksinasi gerakan-gerakan Islam dengan ide-ide sekuler gaya Barat. Hal ini tampak jelas dikatakan oleh beberapa anggota gerakan Islam di Kuwait, Mesir dan Jordan bahwa tidak ada larangan partai “Islam” menerima anggota dari warga negara non-Muslim. Salah seorang anggota partai "Islam" terkemuka di Mesir mengatakan bahwa slogan "al-Qur’an konstitusi kami" hanyalah "slogan emosional tidak mencerminkan pendekatan bagi aktivitas politik kami". Ini berarti bahwa Amerika sedang berusaha untuk menjadikan partai-partai Islam seperti partai-partai Kristen di Barat. Sebagai contoh, Partai Uni Demokratik Kristen, dan Uni Sosialis Kristen. Jadi, partai akan menyebutkan agama pada nama partainya, namun karakter akitivitas politiknya sekuler. Dan baru akan berpikir dengan beberapa sentimen agama jika dalam keadaan tertentu yang memang mengharuskannya.

Kedua, upaya pemerintah AS untuk berkomunikasi dengan beberapa gerakan-gerakan Islam. Dan ini telah menjadi sesuatu yang bukan rahasia lagi, yang dipublikasikan oleh surat kabar dan media lainnya, seperti komunikasi dengan beberapa gerakan di Mesir, Suriah, Kuwait, Lebanon dan Palestina. Dalam hal ini, terkadang dilakukan dengan para pejabat senior Amerika, dengan delegasi dari Kongres, atau di waktu lain dengan para pengusaha Amerika. Bahkan, Eropa telah memasuki jalur komunikasi dengan beberapa gerakan Islam, yang dalam hal ini terkadang dilakukan dengan terbuka, dan di waktu lain dengan setengah terbuka. Di antaranya, sejumlah pertemuan rahasia dengan beberapa pemimpin kelompok Islam moderat yang dilakukan oleh diplomat Amerika Edward Djerejian, dalam bukunya: "Risiko dan Peluang: Sebuah Perjalanan Duta Besar AS di Timur Tengah". Di mana ia mengatakan dalam bukunya, dua contoh yang tidak terbayangkan dalam pikiran: Hassan al-Turabi dan Rasyid Ghannouchi.

Turabi mengunjungi Menteri Luar Negeri AS secara rahasia. "Pada awal tahun 90-an ketika saya masih menjadi asisten Menlu untuk Urusan Timur Dekat, Hassan Turabi mengunjungi saya di kantor. Ia seorang pemimpin politik Sudan terkemuka. Di awal karir politiknya, ia adalah anggota Gerakan Ikhwanul Muslimin (dan kemudian ia keluar dengan cerdas dan menjadi independen, sebab ia melihatnya sebagai gerakan kaku dan mundur secara intelektual). Pada saat Turabi mengunjungi saya di kantor, di Washington, ia mengenakan jas mewah terdiri dari tiga bagian. Apa yang dilakukannya tidak berbeda dari para pengusaha yang berpengalaman di Timur Tengah, yang saya kenalnya di Beirut. Selama pembicaraan kami, saya menyadari bahwa ia memiliki pengetahuan luas dan mendalam bagi sebagian besar isu-isu Timur Tengah, serta hubungan Amerika Serikat dan Barat dengan isu-isu tersebut. Hal ini tidak mengherankan, sebab kami tahu bahwa ia Doktor (dalam bidang hukum) dari Paris-Sorbonne University. Dan yang mengejutkan, bahwa ia berbicara dengan fasih bahasa Perancis, Inggris (dan Jerman). Namun yang benar-benar menarik perhatian saya bahwa ia berbicara tentang perlunya menghapus perbedaan antara Syiah dan Sunni, perluasan hak-hak perempuan di dunia Islam, dan juga berbicara secara positif dan percaya diri tentang keberadaan "demokrasi Islam". Ia adalah tokoh yang sama, yang mendirikan Konferensi Bangsa Arab Islam, yang dipimpin oleh Sudan. Ia mengenakan pakaian tradisional dan sorban, serta sering menjadi tamu kehormatan para pemimpin gerakan ekstrimis dari seluruh dunia."

Ghannouchi juga mengirim surat pada Amerika secara rahasia! "Demikian pula, setelah saya menyampaikan pidato di "Meridian House". Saya menerima sepucuk surat panjang dari Rasyid Ghannouchi, seorang pemimpin Islam (Ikhwanul Muslimin), oposisi rezim Tunisia yang melarikan diri ke London pada tahun 1989, agar selamat dari hukuman penjara seumur hidup. Ghannouchi, dalam suratnya mengungkap rasa senangnya kepada saya, bahwa isi pidato saya menjelaskan di mana Amerika Serikat benar-benar tidak menganggap Islam sebagai musuh. Ini adalah sebagian dari apa yang ia tulis kepada saya: "Kaum Muslim tidak memiliki perasaan benci bagi Anda, sebagai orang Amerika, dan bukan karena kedudukan Anda sebagai negara adidaya. Namun kami ingin kebebasan kami di negara kami. Kami ingin hak untuk memilih sistem yang kami puas dan senang dengannya. Kami ingin hubungan kami dengan Anda dibangun berdasarkan persahabatan, bukan ketergantungan atau ketundukan. Sehingga, ada kemungkinan untuk bertukar ide dan informasi antara kita, dan pertukaran informasi dan budaya dalam era yang dikuasai oleh landasan kompetisi dan kerjasama, bukan landasan dominasi dan ketundukan."

Djerejian mengatakan: "Saya sepenuhnya menyadari bahwa tujuan Ghannouchi tidak langsung, yaitu meraih simpati agar mendapatkan visa untuk memasuki Amerika Serikat, di mana kami selalu menolaknya melalui Kementerian Luar Negeri kami untuk memberikan visa kepadanya. Dan ini mencerminkan kata-kata cerdas, yang tentunya AS ingin mendengarnya dari seorang pemimpin Islam yang terkenal. Jika ada bukti konkret atau alasan untuk percaya bahwa suratnya mencerminkan kenyataan ide-idenya! Namun, orang seperti Turabi, yang begitu dihormati oleh Ghannouchi, ia selalu memiliki wajah lain. Ia mendukung revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini, bahkan sering menggunakan istilah Khomeini yang menggambarkan Amerika sebagai "Setan Besar". Dia juga menggambarkan pemerintahan Bush Senior sebagai "ancaman terbesar bagi peradaban, agama dan perdamaian dunia". Dan sayangnya, selama badai perang menyapu padang pasir, Ghannouchi mendukung Saddam Hussein."


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post