AS Merancang Taktik Perang Dingin Tanpa Henti - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, November 24, 2020

AS Merancang Taktik Perang Dingin Tanpa Henti


Agung Wisnuwardana (Strategic And Military Power Watch)

Dikutip dari sindonews.com (21/11/2020) Amerika Serikat(AS) telah menyusun rencana setebal 74 halaman yang menguraikan ancaman dan tanggapan yang diperlukan untuk melawan tantangan yang disajikan oleh China. Salah satu cara Washington tersebut adalah dengan tetap mempertahankan perannya sebagai negara superpower atau adidaya.

"Memenuhi tantangan China mengharuskan Amerika Serikat untuk kembali ke fundamental," bunyi dokumen tersebut yang diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri AS, sebagaimana dikutip Reuters, Sabtu (21/11/2020).

Dokumen berjudul "Elements of the China Challenge" tersebut mencantumkan sepuluh tugas berbeda yang diperlukan untuk memastikan AS mempertahankan tempatnya dalam apa yang disebutnya era baru persaingan kekuatan besar.

Adapun langkah Cina, negara ini menyadari bahaya yang mengancamnya. Karena itu, Cina memikat beberapa negara untuk strategi koalisi seperti dengan beberapa negara dengan iming - iming berbagai investasi, meski dengan hati-hati. Juga dengan latihan militer bersama misalnya dengan Russia, dan memberi suara yang sama dengan Russia di Dewan Keamanan PBB berkaitan veto tentang Suriah. Semua itu untuk mencegah Washington menggunakan Russia untuk menentang Cina. Tetapi pandangan bermusuhan terhadap Russia hampir bercokol di benak para politisi Cina. Namun, kepentingan baru yang ditimbulkan oleh ekonomi Cina yang makin besar, dan kebutuhan mendesak terhadap bahan baku dan sumber energi yang keduanya tersedia di Russia, mendorong pandangan permusuhan itu tersembunyi di balik tirai.Cina juga menyadari permusuhan Amerika terhadap Cina.

Bagi AS, untuk melemahkan Cina, strategi konflik juga diterapkan Amerika Serikat di kawasan Asia Timur ini. Langkahnya adalah dengan membantu kekuatan militer Taiwan dalam upaya negara pulau tersebut menangkal kemungkinan serangan militer Cina yang menganggap negara ini provinsinya yang membangkang. Langkah yang sama juga diterapkan dengan membantu militer Korea Selatan dalam mengantisipasi kemungkinan serangan nuklir tetangganya, Korea Utara. Saat ini Amerika Serikat memiliki setidaknya dua pangkalan militernya di Asia Timur, yaitu di Okinawa Jepang sebagai bagian perjanjian di Perang Dunia Kedua dan di Korea Selatan.

Dengan kekuatan nuklir yang disinyalir dimiliki Korea Utara dan Cina, maka negara-negara tetangganya tentu menjadi sangat kuatir. Karena ketidakseimbangan kekuatan militer di kawasan ini, maka bantuan militer Barat menjadi sangat dibutuhkan. Akibatnya, hingga saat ini Korea Selatan, Jepang dan Taiwan sangat bergantung pada bantuan militer Barat, utamanya Amerika Serikat. Kondisi ini tentu menguntungkan Barat yang ingin tetap menguasai dunia dengan menempatkan beragam kekuatannya di berbagai belahan dunia, apalagi di kawasan-kawasan yang dapat menjadi ancaman kemapanannya.

Walhasil, konflik di berbagai wilayah di muka bumi ini terbukti menguntungkan Barat, khususnya Amerika Serikat. Konflik tentu membuat beragam kekuatan tidak bersatu. Sebaliknya, Barat dan AS dengan visi dan misi kapitalistiknya terus memelihara kondisi ini agar terus dapat menguasai dunia.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here