Boikot Layaknya Gertakan Sambal - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, November 12, 2020

Boikot Layaknya Gertakan Sambal


Oleh : Ainur M. Dzakiyah
Agama dan kekuasaan bagaikan saudara kembar. (Imam Al Ghazali) 
Gelombang boikot produk perancis terus membesar, di Kuwait, jaringan supermaket swasta mengatakan lebh dari 50  gerainya berencana memboikot produk Perancis. Kampanye boikot ini juga memanaas di Yordania dan Yaman.

Begitu  pula di berbagai toko di Qatar, melakukan hal yang sama. Sebelumnnya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara menyerukan untuk jangan mendekat barang -barang Perancis dan tidak membelinya.)sripoku.com/28/10/2020)

 Seruan boikot  adalah butut panjang dari tanggapan Presiden Perancis Emanuel Macron yang mengatakan bahwa menggambar Nabi Muhammad SAW sebagai kartun bukan hal yang salah. Kemudian Macron juga menyampaikan untukk menghormati guru sekolah, Ssamuel Paty (28)  yang tewas dibunuh karena membahas kartun Nabi Muhammad di kelas. Kartun karya Majalah Charly  Hebdo dianggap sebagai pelajaran kebebasan berkespresi. 
Apakah boikot produk-produk Perancis cukup untuk menggertak negara tersebut  agar tidak mengulangi kesalahannya lagi?  Tindakan boikot Produk ini adalah tindakan yang baik, setidaknya mereka tahu bahwa kaum muslimin marah dan terluka adtas tindakan penghinaan yang mereka lakukan. Namun boikot ini ibarat gertakan sambal, terasa pedas dan mebakar hanya untuk sesaat saja. Kemudian kaum muslimin lupa dan terjadi hal serupa lagi. Karena akar dari permasalahan yang menjadikan suburnya penghinaan terhadap islam, nabi dan kaum muslimin adalah sistem berasas sekulersme. Sistem sekulerisme liberalisme menjadikan masyarakat   memisahkan agama dari keidupan. Agama tidak boleh ikut campur dalam mengatur masaalah yang terdi di masyarakat. Agama dalam paham ini hanya boleh mengurusi masalah ibadah dan akhlak individu. Dampak lain diterapkannya sistem sekulerisme adalah adanya sikap islamophobia yang berakibat menyulut tindakan-tindakan yang menyudutkan islam. Penghinaan terhada islam berupa gambar, kartun, foto, aksi, ucapan bahkan film. 

Lebh parahnya di bawah payung sistem sekuler yang dianut oleh  berbaga negara penghinaan yang dilakukan dianggap tindakan yang “halal” bahkan dilindungi oleh Undang-Undang. Mereka menjadikan pilar kebebasan di dalam bertigkahlaku, beragama, berkata dan mengekspresikan diri sebagai kartu sakti untuk menginjak-injak harga diri Islam dan kaum muslimin.  Dalam sistem liberal negara hadir sebagai penjaga kebebasan idividu.  Seringkali atas nama kebebasan mereka juga bebas untuk menghina islam.  Ketiadaan institusi yang menjaga agama islam secara jantan membuat kaum muslimin menjadi bulan-bulanan barat. Pemimpin pemimpin di negeri-negeri yang mayoritas Islam  hanya mampu mengecam. Tanpa ada tindakakan lanjut secara fisik berupa pengerahan  para prajurit terlatihnya untuk keluar dari markas  militer.  Atau setidaknya dengan mengusir kedutaan negara penghina tersebut dari negerinya. Namun hal itu tidak pernah dilakukan Sehingga kecaman tersebut tidak menimbulkan rasa takut sedikitpun di benak para musuh –musuh Alllah.
Islam bukan hanya sekedar agama, islam adalah sebuah ideologi yang mengatur sperangkat sistem kehidupan. Islam juga mengatur bagaimana konsep kepemimpinan yang baik menurut Sang Mudabbir, Allah Subhanallah wa ta’ala. Fungsi pemimpin  adalah sebagai  perisai. Sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadist .Nabi Muhammad Saw bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)
Sayangnya tidak ada institusi pelindung menjadikan agama  Islam sebagai santapan orang kafir. Meskipun jumlah kaum muslimin besar, namun tidak berart bak  buih di lautan. 
Sungguh berbeda ketika Islam tegak dalam isntitusi yang negara. Fungsi pemimpin juga sebagai  sebagai penjaga agama dan mengurusi dunia terlaksana dengan baik. Sebagaimana ketika masa Sultan Abdul Hamid II, pernah akan ada pementasan teater yang menghina Nabi Muhammad SAW. Ketika itu Perancis pernah merancang mengadakan pementasan drama teater yang diambil dari karya Voltaire (seorang pemikir Eropa) yang menghina Rasulullah SAW. Drama itu bertajuk “Muhammad atau Kefanatikan” dan disamping mencaci Rasulullah SAW, ia juga menghina Zaid dan Zainab. Seketika itu juga, setelah Sultan Abdul Hamid II -pemimpin pada saat itu- mengetahui kabar akan ada pementasan drama tersebut, beliau langsung memerintahkan duta besarnya yang ada di Perancis untuk memberhentikan pementasan drama tersebut. Tidak hanya itu, Sultan Abdul Hamid II juga mengingatkan akan akibat politik yang bakal dihadapi oleh Perancis jika masih meneruskan pementasa itu.

Pementasan tersebut serta merta dibatalkan. Tidak berhenti sampai disitu, kumpulan teater tersebut pindak ke Inggris untuk melakukan pertunjukan yang sempat batal. Namun lagi-lagi, Sultan Abdul Hamid II tidak setuju dengan pementasan itu. Beliau memerintahkan Inggris untuk menghentikan acara tersebut, namun pemerintah Inggris menolak dengan alasan tiket sudah dijual dan sekiranya dibatalkan, hal itu melanggar prinsip kebebasan rakyatnya. Perwakilan Utsmaniyah di Inggris mengatakan kepada Inggris bahwa walau pun Perancis mengamalkan ‘kebebasan’ tetapi mereka telah mengharamkan pementasan drama itu. Inggris juga menegaskan bahwa kebebasan yang dinikmati oleh rakyatnya adalah jauh lebih baik dari apa yang dinikmati oleh Perancis.

Setelah mendengar jawaban itu, Sultan Abdul Hamid II kembali memberikan perintah:
“Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengumumkankan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami! Saya akan kobarkan Jihad al-Akbar (Jihad yang besar).”
Britania dengan serta merta melupakan keinginannya mengamalkan “kebebasan berpendapat” (freedom of speech) dan pementasan drama itu dibatalkan.

Inilah bukti kehebatan Islam, ketika diterapkan oleh Negara. Tak heran jika Imam Al Ghazali dalam Al Iqtishad fil I’tiqad menuliskan:
Agama dan kekuasaan bagaikan saudara kembar agama adalah asasnya dan kekuasaan adalah penjaganya, apa saja yang tidak memiliki asas maka akan hilang dan apa saja yang tidak memiliki penjaga maka akan hancur.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here