Butuh Pemimpin Yang Tidak Ingah - Ingih - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, November 20, 2020

Butuh Pemimpin Yang Tidak Ingah - Ingih


Hadi Sasongko (Direktur PoroS)

Rakyat butuh pemimpin yang adil, melayani, mengayomi. Untuk menilai apakah penguasa betul-betul bekerja demi rakyat yang mayoritas Muslim, maka perlu dilihat implementasi dari makna jabatan sebagai amanah yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah saw. Apa saja amanah jabatan itu?

Pertama: amanah untuk mengurus urusan umat. Rasulullah saw. bersabda:

«اْلإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

Seorang pemimpin adalah pengurus rakyat dan dia bakal dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Seorang pemimpin bertanggung jawab atas kebutuhan dasar rakyat, baik perindividu (seperti sandang, pangan, dan papan) maupun kolektif (seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan atau keselamatan masyarakat). Pejabat harus memastikan bahwa tidak ada rakyatnya yang kelaparan, telanjang, dan menjadi gelandangan. Pejabat harus memfasilitasi agar para pria memiliki pekerjaan supaya bisa memenuhi kebutuhan dasarnya dan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam hal kebutuhan kolektif rakyat, pejabat negara harus berpikir keras untuk bisa memenuhi kebutuhan itu sehingga rakyat tercukupi kebutuhannya secara gratis. Penguasa yang demikian disebut penguasa yang mengurusi rakyat (sulthan ri'ayah). Sebaliknya, jika penguasa hanya memikirkan bagaimana menarik pajak dari rakyat, itu namanya penguasa tukang palak (sulthan jibayah).

Kedua: amanah menjaga terjaminnya kebutuhan rakyat, mengatasi konflik-konflik yang terjadi di tengah masyarakat tatkala mereka menjalani kehidupan dalam memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang adil, dan berhukum kepada hukum Allah Swt. Dengan kata lain, ia menjalankan kekuasaan dengan menerapkan syariah Allah secara kaffah. (Lihat: QS al-Maidah [5]: 48). Dulu para khalifah dibaiat untuk menjalankan pemerintahan dengan al-Quran dan as-Sunnah.

Ketiga: amanah untuk menasihati rakyat agar taat kepada Allah Swt. dalam menjalani kehidupan. Biasanya, dulu para pejabatlah yang menjadi khatib-khatib Jumat untuk menyampaikan wasiat takwa kepada para jamaah. Rasulullah saw. bersabda:

«مَنْ اسْتُرْعِيَ رَعِيَّةً فَلَمْ يُحِطْهُمْ بِنَصِيحَةٍ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ»

Siapa saja yang diangkat menjadi pejabat untuk mengurusi kepentingan rakyat, lalu tidak memberikan nasihat kepada mereka, dia tidak akan mencium harumnya surga. (HR Ahmad).

Keempat: amanah untuk melindungi mereka dan tidak menipu mereka. Pejabat harus melindungi seluruh kepentingan rakyat. Mereka harus menjaga rakyat dari serangan pihak luar yang membahayakan seluruh kepentingan rakyat. Dalam suatu hadis dikatakan bahwa imam atau pemimpin itu laksana perisai; mereka harus betul-betul melindungi rakyat. Mereka tidak menipu rakyat demi kepentingan pribadi, kelompok, atau bahkan kepentingan asing. Rasulullah saw. bersabda:

«مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ«

Tidaklah seorang pemimpin memimpin rakyat dari kalangan kaum Muslim, lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali diharamkan baginya masuk surga. (HR al-Bukhari dan Muslim).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here