Cakar Kapitalisme Global Dan Gelombang Penyakit - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, November 24, 2020

Cakar Kapitalisme Global Dan Gelombang Penyakit


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP) 

Sistem kesehatan di bawah kebijakan neoliberal telah menyerahkan urusan kesehatan pada bisnis swasta, dan institusi-institusi bisnis kesehatan swasta kini menjadi tidak relevan dalam melindungi rakyat dari pandemi. Virus yang menyerang tanpa diskriminasi kemudian ditangani dengan cara-cara yang paling diskriminatif. Di satu sisi banyak warga biasa yang luntang-lantung mencari perlindungan dari pandemi. Di sisi lain segelintir elit merasa hidupnya lebih berfaedah dari orang kebanyakan tanpa malu-malu mengajukan diri untuk mendapatkan pemeriksaan dan pelayanan lebih dulu.

Setelah membebani masyarakat dengan berbagai macam penyakit, kekuatan Kapitalisme global melalui lembaga-lembaga internasional, seperti IMF (International Monetery Fund) dan WTO (World Trade Organization) terus melucuti dan memandulkan fungsi sosial negara, termasuk kewajiban negara memberikan jaminan pelayanan kesehatan berkualitas bagi semua warga negara.

Bersamaan dengan itu, MNC (Multi National Coorporate) dan TNC (Trans Nasional Coorporation) terus mengokohkan keberadaan  lembaga-lembaga kesehatan internasional seperti WHO (World Heath Organization), CDC (Centers for Disease Control and Prevention)  dan FDA (Food and Drug  Administration) sebagai  kendaraan Kapitalisme global.  Terbongkarnya bisnis fantastis (Rp 5,220 triliun) di atas mayat penderita avian infuleanza baru-baru ini bukanlah bukti yang pertama WHO sebagai kacung Kapitalisme. Sebab, ternyata GISN (Global Infuleanza Surveilance Network) WHO telah melakukan hal serupa terhadap berbagai seed virus influenza selama 50 tahun.

Kasus vaksin rotavirus yang menghebohkan masyarakat AS pada tahun 1999 adalah bukti lain tentang  keterlibatan lembaga bergengsi CDC dan FDA dalam kepentingan Kapitalisme global. Vaksin yang membahayakan nyawa puluhan sampai ratusan bayi itu ternyata tetap lolos ke pasaran lebih karena pengambil keputusan di CDC dan FDA ditentukan oleh para pemilik saham di perusahaan pembuat vaksin, antara lain adalah John Modlin, yang juga memiliki saham senilai $26.000 di Merck; Paul Offit, M.D., anggota penasihat CDC yang memegang hak paten untuk vaksin rotarovirus.

Dolar kembali menunjukkan kekuasaannya pada kasus kadar aman merkuri di dalam vaksin, yaitu memilih kompromi antara AAP, yaitu asosiasi ahli bedah Amerika, CDC dan FDA (Juli 1999). Meskipun kehadiran vaksin penuh dengan polemik, sungguh "menakjubkan" MNC mampu memandulkan daya nalar, tak terkecuali insan kesehatan, yaitu mengubah paradigma preventif  yang bersifat alamiah-konvensional—seperti mengkonsumsi gizi seimbang dan meningkatkan daya kelola stres—menjadi paradigma "preventif" dengan  vaksinasi.  Semua ini tidak terlepas dari keuntungan fantastis yang bisa diperoleh dari bisnis vaksin.  Contoh, untuk program vaksinasi HPV perorang dibutuhkan  biaya  sekitar Rp 3.000.000.

Cukup mudah menemukan tulisan tentang pembenaran harm reduction, yaitu pengurangan bahaya penularan HIV bagi pengguna narkoba dengan subsitusi metadon dan pembagian jarum suntik steril. Namun, jika ditimbang secara rasional terdapat beberapa kejanggalan atas upaya ini, dan semakin mencurigakan, ketika WHO mengalokasikan dana secara irasional untuk pencegahan HIV/AIDS, yaitu 15 kali lebih besar daripada untuk pencegahan penyakit TBC. Padahal HIV/AIDS hanya pembunuh nomor empat dunia, setelah TBC, malaria dan busung lapar (Majalah Time, 2006).

Peran lembaga-lembaga kesehatan internasional sebagai kendaraan Kapitalisme global juga terlihat nyata ketika WHO bergandengan tangan dengan raksasa-raksasa farmasi internasional seperti Bayer, Pfizer dan Aventis melalui World Economic Forum untuk menyediakan obat pada masyarakat miskin Dunia Ketiga. Banyak pihak yang meyakini rekanan ini lebih untuk kepentingan para coorporate raksasa itu.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here