Cap Islam Radikal Mengkonfirmasi Bahwa Perancis Mengidap Islamophobia - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 2, 2020

Cap Islam Radikal Mengkonfirmasi Bahwa Perancis Mengidap Islamophobia


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Radikalis Islam menjadi istilah sakti menjadi pembenaran sikap Islamophobia. Paling tidak bisa dipahami dari pernyataan Kedubes Perancis di Indonesia akhir-akhir ini terkait pernyataan Macron terhadap Islam. Kedubes Perancis beralibi bahwa yang dimusuhi Perancis adalah Radikalis Islam. Perancis menghormati hak-hak kebebasan rakyatnya termasuk kaum muslimin di Perancis. 

Dengan pernyataan demikian, tersirat sebuah pesan bahwa pembunuhan Samuel Paty yang menunjukkan karikatur Muhammad Saw sebagai pencederaan terhadap apa yang disebut hak kebebasan. Bahkan menanggapi seruan pemboikotan produk Perancis oleh Turki dan sejumlah negara-negara Arab, Uni Eropa justru memberi dukungan pada Perancis. Belanda, Itali, Jerman dan lainnya mengkonfirmasi bersama Perancis memerangi Radikalisme dan Ekstremisme Islam. Dengan kata lain, Islamophobia meningkat di Eropa.

Menghadapi tudingan demikian, kaum muslimin tidak boleh bersikap defensif apologetik. Bersikap mempertahankan diri dengan membenarkan tuduhan yang diarahkan kepadanya. "Islam itu agama damai, tidak mengajarkan kekerasan", "Rasul Saw itu Cinta damai dan pema'af", adalah contoh sikap defensif apologetik tersebut. Akibatnya Islam menjadi pihak tertuduh. Endingnya ajaran Islam yang di dalamnya terdapat unsur kekerasan akan dianulir. 

Sebagai contoh, di dalam Fathu Mekah. Rasul Saw tetap mengeksekusi orang-orang yang memusuhi dan menyakiti Islam walaupun mereka bergelantungan di dinding ka'bah. Begitu pula Rasul Saw meminta kepada sahabatnya untuk mengeksekusi Ka'ab bin al Asyraf yang kelewatan dalam menyakiti Islam dan kaum muslimin. Tim eksekutor yang dipimpin Muhammad bin Maslamah ra akhirnya berhasil mengeksekusinya di malam hari. 

Melihat fragmen dalam sirah Nabi sedemikian, maka mereka pun menyembunyikannya. Mereka sudah terlanjur mengklaim Islam agama damai, tidak mengajarkan kekerasan. Akhirnya mau tidak mau mereka harus memaknai ulang ajaran jihad. Kalaupun dalam sejarah Islam terdapat perang, maka mereka akan mengatakan bahwa jihad di era sekarang yang relevan adalah jihad memerangi hawa nafsu, memerangi kebodohan dan kemiskinan. 

Jika demikian, kaum muslimin sudah masuk ke dalam jebakan batman. Moderasi Islam telah berhasil. Entri poinnya, kaum muslimin dijauhkan dari upaya untuk menegakkan Khilafah Islam.

Sikap terbaik mestinya adalah menjelaskan dengan gamblang konsepsi Islam terutama terkait Khilafah dan ajaran jihad dalam Islam. Hukum sangsi Islam yang diterapkan negara seringkali menjadi sasaran Islamophobia.

Sebagai contoh, sangsi terhadap kasus pembunuhan. Secara naluriah, keluarga korban pastinya menuntut hukuman yang setimpal terhadap pelaku pembunuhan. Lantas vonis yang dijatuhkan berdasar hukum saat ini adalah penjara sekian tahun dan atau seumur hidup. Ini disebut lebih sesuai dengan hak asasi manusia. Pertanyaannya, haknya siapa? Tentunya untuk pihak pelaku. Bagaimana dengan hak korban dan keluarganya? Bagaimana pula dengan hak masyarakat umum? Masyarakat umum berhak atas jaminan keamanan. Artinya sangsi demikian belum mampu memberikan jaminan keamanan di masyarakat. Bahkan kasus pembunuhan berpotensi terus berulang dan berulang. Bukankah ini sesuatu yang radikal dan ekstrimis? Jadi sekulerisme justru mengorbankan hak masyarakat umum untuk hidup aman.

Berbeda halnya dengan Islam. Sangsi qishash (balas bunuh) mampu memberikan efek jera dan jaminan keamanan bagi masyarakat umum. Allah Swt menyatakan:
ولكم في القصاص حياة 
Di dalam hukum qishash itu terdapat jaminan hidup bagi kalian. 

Pertanyaannya sekarang,  manakah yang lebih baik, sangsi penjara bagi pembunuh dan atau sangsi qishash? Tentu yang mampu menjamin rasa aman adalah sangsi qishash.

Dalam skala yang lebih makro. Ideologi Kapitalisme yang diemban AS menjadikan penjajahan sebagai metode dalam menyebarkan ideologinya. Kejahatan kemanusiaan lantaran penjajahan menjadi lembaran hitam sejarah AS. Pada tahun 1968, terjadi pembantaian My Tai terhadap penduduk sipil selama perang Vietnam. Sekitar 300 hingga 500 penduduk menjadi korban kemarahan pasukan AS. Peristiwa Highway of Death di tahun 1991. Sesuai resolusi PBB nomor 660, Irak menarik pasukannya dari Kuwait. Akan tetapi iring-iringan pasukan Irak tersebut dibombardir pesawat-pesawat tempur AS. 2000 kendaraan pasukan Irak dan orangnya menjadi korban. Begitu pula, selama masa kepemimpinan Komunisme Soviet. Misalnya di masa Stalin, jutaan manusia menjadi korban kebiadaban dan kebijakannya hingga tahun 1950. Di Jerman, ada gerakan Fasisme Hitler melakukan kejahatan kemanusiaan serupa. Bangsa Arya dipandang lebih mulia dibanding ras suku bangsa lainnya. Ini sekelumit contoh tentang brutalnya ideologi-ideologi di luar Islam. Kekerasan mereka melahirkan kesengsaraan bagi kemanusiaan. 

Sedangkan kekerasan dalam Islam melahirkan keadilan. Jihad dilakukan pasukan Islam di saat dakwah dihalangi untuk membebaskan manusia dari kedholiman sesamanya. Lihatlah hasil penaklukan Andalusia oleh Islam. Andalusia dengan Cordovanya menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia. Begitu pula, pasca ditaklukannya Konstantinopel. Islam telah melebur rakyat asli Konstantinopel dengan pendatang muslim di sana. Non muslim dilindungi hak-haknya dalam naungan Islam. 

Manusia dalam kehidupannya membutuhkan terpenuhinya kemaslahatan dhoruriy.  Tanpa memandang suku, ras, dan agama, semua manusia membutuhkan keadilan dengan terjaminnya kemaslahatan dhoruriy. Kemaslahatan dhoruriy itu terkait dengan penjagaan terhadap agama, keturunan, jiwa, harta, kehormatan dan negaranya. Sebagai contoh, dalam penjagaan agama. Islam menetapkan sangsi bagi yang murtad dengan hukum bunuh bila tidak mau bertaubat. Termasuk sangsi berat bagi penghina Islam termasuk menghina Nabi Saw. Hal demikian akan mampu menjamin ketenangan dalam beribadah bagi kaum muslimin. Ini adalah hak bagi kaum muslimin agar keyakinan dan agamanya tidak dirong-rong. Di samping itu, Islam menetapkan adanya hukuman takzir terhadap upaya mengganggu kafir dzimmi dalam beribadah kepada tuhannya. Bukankah Nabi saw menyatakan bahwa barangsiapa yang menyakiti kafir dzimmi, maka sesungguhnya ia telah menyakiti Rasul saw. 

Islam sebagai ideologi yang sempurna berasal dari Allah SWT guna mewujudkan keadilan bagi manusia. Islam hadir bukan untuk menimbulkan kerusakan dan kesengsaraan. Islam akan memperbaiki dan membangun kehidupan ini yang telah dirusak oleh kerasukan Kapitalisme maupun Komunisme. 

# 01 Nopember 2020


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here