Capitalism Is Not Working - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, November 14, 2020

Capitalism Is Not Working


Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD)

Dalam Kapitalisme, isu yang selalu menjadi kata kunci dalam ekonomi adalah pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi seolah menjadi istilah yang sakral saat bicara kemajuan ekonomi ataupun krisis ekonomi. Saat bicara kemajuan ekonomi, pertumbuhan selalu menjadi indikatornya. Saat bicara krisis ekonomi, pertumbuhan pun menjadi solusinya. Padahal faktanya, saat kemajuan ekonomi dicapai sekalipun, sering hal itu hanya dirasakan segelintir orang, sementara kebanyakan orang acapkali tak ikut merasakannya.

Sesungguhnya pertumbuhan bukanlah sebuah isu istimewa, karena persoalan pertumbuhan dalam ekonomi adalah perkara biasa. Maksudnya, ketika ekonomi berjalan normal, seiring dengan pertambahan penduduk, tentu kegiatan ekonomi juga akan makin meningkat (tumbuh). Hanya saja, bagaimana isu pertumbuhan itu dipandang, ini yang berbeda antara Islam dan Kapitalisme.

Dalam sistem kapitalis, ekonomi suatu negara dikatakan tumbuh jika terjadi peningkatan nilai total barang dan jasa yang diproduksi, termasuk jumlah uang yang beredar di sektor non-riil. Tidak diperhatikan apakah pertumbuhan ekonomi itu betul-betul nyata sebagai buah dari kegiatan ekonomi rill seperti pengerjaan proyek pembangunan, jual-beli barang dan jasa, ataukah berasal dari sektor non-riil atau sektor keuangan seperti perbankan, pasar modal, asuransi, reksadana dan lainnya yang cenderung menghasilkan pertumbuhan semu. Paul Krugman, pemenang Hadiah Nobel tahun 2000, menyebut pertumbuhan semacam itu sebagai bubble economy (ekonomi balon) yang, sebagaimana terlihat secara faktual, cenderung tidak stabil.

Dalam Islam, sektor finansial tidak dimasukkan ke dalam perhitungan pertumbuhan oleh karena sektor ini memang tidak ada. Pertumbuhan ekonomi dalam sistem Islam, meski mungkin tidak sespektakuler dalam sistem ekonomi kapitalis, adalah pertumbuhan yang nyata dan stabil karena memang benar-benar berasal dari sektor kegiatan ekonomi yang nyata.

Ketika sistem ekonomi Islam diterapkan, Islam bisa menjamin pertumbuhan ekonomi itu. Ekonomi sebuah negara akan terus tumbuh bila syarat atau keadaan untuk tumbuh dipenuhi, dan keadaan yang menghambat pertumbuhan dihilangkan. Dalam Islam, pertumbuhan ekonomi didorong di antaranya dengan memastikan bahwa uang terus beredar. Caranya, dengan melarang penimbunan emas (yang berarti melarang penimbunan uang, karena uang dalam Islam adalah dinar emas); melarang pembungaan uang (transaksi ribawi) dan judi (transasksi spekulasi). Penimbunan emas (uang) akan menghambat laju putaran uang (velocity of money), yang pada akhirnya akan mengurangi laju kegiatan ekonomi. Uang adalah lokomotif penggerak kegiatan ekonomi. Karena itu, uang harus terus beredar. Tidak boleh ditimbun dan tidak boleh diperlakukan secara salah seperti dijadikan komoditas dengan ditarik bunganya dan kegiatan lain (seperti judi dan kegiatan spekulasi) sedemikian sehingga membuat uang hanya bertemu dengan uang, bukan dengan barang dan jasa. Dengan kata lain, sistem ekonomi Islam menutup sama sekali berkembangnya sektor non-riil seperti yang dipraktikkan dalam sistem ekonomi kapitalis saat ini.

Selain itu, Islam juga mendorong orang untuk bekerja dan berusaha (berniaga). Islam sangat memuliakan orang yang mau bekerja dan mencari nafkah. Nabi saw. pernah mencium tangan kasar seorang sahabat karena bekerja keras. Nabi saw. juga menyatakan bahwa dari perniagaan terbuka banyak pintu rezeki. Di sisi lain, negara dalam Islam selain aktif sebagai pelaku ekonomi, juga giat memberikan kemudahan dan fasilitas agar orang bisa bekerja dan berniaga. Dengan cara itu, kegiatan ekonomi akan meningkat sehingga ekonomi akan terus tumbuh.

Pertumbuhan ekonomi menjadi tidak ada artinya jika perekonomian tidak stabil karena pertumbuhan itu bisa saja ambruk lagi. Krisis ekonomi yang saat ini tengah melanda negara-negara Eropa, juga yang pada tahun 2008 melanda AS dan pada tahun 1997 menimpa Indonesia, sesungguhnya bukan hal yang aneh. Pasalnya, keadaan ekonomi dalam sistem kapitalis memang tidak pernah sungguh-sungguh stabil. Menurut Dr. Abdul Muhsin Thahir Sulaiman dalam kitab 'Ilaj al-Musykilah al-Iqtishadiyah bi al-Islam (Menyelesaikan Problema Ekonomi dengan Islam) pertumbuhan ekonomi kapitalis itu bersifat siklik. Maksudnya, ketika ekonomi dalam sistem kapitalis tumbuh, ia tumbuh menuju puncak untuk kemudian jatuh. Mengapa? Karena pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh sektor finansial (di Indonesia bahkan mencapai 80%) ternyata sangat rawan gejolak, dan sangat berbahaya bagi keadaan ekonomi sebuah negara secara keseluruhan. Ketika bubble (gelembung) itu meledak, sektor moneter ambruk, maka ekonomi negara juga ambruk. Keadaan semacam ini ternyata selalu berulang. Menurut kajian Ikatan Sarjana Ekonomi Islam Indonesia (ISEII), selama 100 tahun terakhir di dunia terjadi 20 kali krisis.

Selain itu, dalam era globalisasi sekarang ini, ketika ekonomi telah terintegrasi secara global, maka krisis di sebuah negara dampaknya juga akan menyebar secara global. Sebaliknya, sebuah negara yang semula tampak sehat bisa tiba-tiba limbung karena terkena dampak krisis ekonomi negara lain. Lihatlah, bagaimana hancurnya sektor perbankan di Thailand yang terlalu agresif membiayai sektor properti akhirnya memicu krisis di Indonesia pada 1997 lalu. Begitu juga krisis 2008 yang melanda AS dampaknya merambah hingga ke Eropa dan Asia. Krisis yang saat ini tengah melanda Zona Euro pun sudah mulai membawa dampak kepada AS, juga kawasan Asia seperti Jepang, Cina dan Indonesia dengan menurunnya volume ekspor.

Lalu apakah sistem ekonomi Islam sendiri bisa menjamin kestabilan ekonomi? Jawabannya kita harus yakin bahwa pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dalam sistem Islam akan berjalan stabil. Pasalnya, semua keadaan yang membuat ekonomi tidak stabil, yakni penggunaan uang kertas (fiat money) dan praktik ekonomi ribawi dan spekulasi (judi) seperti bursa saham, bursa komoditas berjangka dan lainnya, yang dilakukan dalam sistem ekonomi kapitalis itu telah dihilangkan.

Penggunaan mata uang dinar dan dirham akan membuat sistem ekonomi Islam tahan terhadap inflasi dan gejolak nilai tukar uang karena ketika harga barang-barang dan mata uang asing naik, harga emas juga ikut naik. Artinya, gejolak itu tidak akan membawa efek berantai. Tidak seperti keadaan ekonomi sekarang, termasuk Indonesia, yang masih menggunakan mata uang kertas dan nilainya masih terikat dengan mata uang asing (biasanya US dollar), keadaan moneter tidak pernah stabil.

Kalaupun dalam sistem ekonomi Islam terdapat sektor keuangan, sektor itu pasti berhubungan langsung dengan kegiatan sektor rill melalui akad-akad seperti mudharabah dan musyarakah (kerjasama usaha) atau murabahah (jual-beli) dan yang sejenisnya.

Untuk mencapai kesejahteraan untuk seluruh rakyat, sistem ekonomi Islam sangat memperhatikan sistem distribusi kekayaan. Dalam pandangan sistem ekonomi Islam, buruknya distribusi kekayaan di tengah masyarakat itulah yang membuat timbulnya kemiskinan dan ketimpangan ekonomi.

Dengan garis kemiskinan yang dibuat oleh World Bank, 2 USD perorang perhari, ada lebih dari 100 juta orang miskin di Indonesia. Pertanyaannya, mengapa mereka menjadi miskin? Apakah tidak ada uang di tengah masyarakat? Tentu saja ada, namun uang yang beredar lebih dari Rp 240 triliun itu tidak sampai kepada mereka. Untuk mendapatkan Rp 30.000 sehari saja banyak rakyat Indonesia yang kesusahan. Jadi, benarlah bahwa akar masalahnya terletak pada buruknya distribusi. Ketika Uganda dan Ethiopia dilanda kemiskinan, pada saat yang sama kedua negara itu menjadi pengekspor sayur dan buah-buahan.

Ini berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis yang menyatakan bahwa problem ekonomi adalah kelangkaan (scarcity) akibat, menurut mereka, tidak berimbangnya antara kebutuhan dan alat pemuas kebutuhan. Oleh karena itu, untuk mengatasinya mereka fokus pada aspek produksi dan pertumbuhan ekonomi. Soal distribusi, mereka menyerahkannya pada mekanisme pasar. Karena itulah peran negara dalam mendistribusikan kekayaan sangatlah terbatas. Akibatnya, kesenjangan kaya miskin sedemikian lebar. Sedikit orang kaya menguasai sebagian besar kekayaan, sementara sebagian besar manusia hanya menikmati sedikit sisa-sisa kekayaan.

Sebaliknya, dalam ekonomi Islam, distribusi kekayaan terwujud melalui mekanisme syariah, yaitu mekanisme yang terdiri dari sekumpulan ketentuan syariah yang menjamin pemenuhan barang dan jasa bagi setiap individu rakyat. Mekanisme syariah ini terdiri dari mekanisme ekonomi (aktivitas ekonomi yang bersifat produktif) dan mekanisme non-ekonomi (aktivitas non-produktif, misalnya dengan jalan pemberian zakat, hibah, sedekah, dan lain-lainnya). Distribusi non-ekonomi mencakup pula sejumlah larangan, antara lain tindak korupsi, pemberian suap dan hadiah kepada para penguasa; yang ujung-ujungnya menyebabkan penumpukan harta hanya di tangan orang kaya atau pejabat saja.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here