Dibalik Isu Gender


M. Ismail (Direktur eLSaD)

Isu gender dibahas seiring masih santernya pembahasan problem kekerasan berbasis gender yang dialami perempuan yang dianggap fenomena gunung es karena tidak semua korban mengadukan kasusnya.

Keterpurukan kaum wanita yang massif telah menumbuhkan sikap dan perilaku pemberontakan terhadap status quo dalam tatanan sosial sekarang ini. Letupan-letupan perlawanan tersebut ternyata justru terdominasi oleh rasa dan emosional, sehingga kehilangan alur logika yang sehat. Oleh karena itu, para penguasa sistem kapitalisme sekuler dan pengusaha yang telah berhasil menguras kekayaan masyarakatnya sehingga menjadi kaya raya, berusaha cuci tangan atas tindakannya. Mereka menggunakan dananya untuk membeli intelektual oportunistik guna menelikung fenomena tersebut. Motif itulah yang menjadikan gerakan feminis telah kehilangan esensinya, yang maunya memperjuangkan nasib kaumnya agar mendapat keadilan, telah berubah menjadi dunia transaksi demi uang. Uang telah manjadi tuhannya. Mereka telah menjual dirinya untuk kepentingan penguasa dan pengusaha Barat serta para kompradornya yang Islamophobia.

Gerakan femenisme dengan gendernya telah menjadi kuda tunggangan Barat dan kompradornya untuk menghantam rival ideologis yakni Islam dan para pejuangannya. Oleh karena itu, mereka telah memunculkan orang-orang pembenci Islam dan para pejuangannya dengan berbagai statemen serta pendapat anti Islam. Bahkan tidak segan-segan dengan memutarbalikan dalil-dalil yang menjadi pijakan Kaum Muslimin. Sementara media massa telah menjadi saluran massif bagi terwujudnya gerakan tersebut.

Cikal bakal "gender" yang kemudian menjadi petaka bagi masyarakat khususnya kaum muslimin, telah digelontor secara massif oleh Barat dan kroninya. Isu “gender” muncul melalui ICPD (International Conference on Polpulation and Development ) di Kairo 5 – 13 September 1994, kemudian dilangsir dengan Konferensi Wanita Sedunia ke-4 di Beijing (1995) yang memunculkan Beijing Platform for Action. Istilah gender selanjutnya menggelontor dengan deras di tengah-tengah masyarakat, walaupun mereka masih banyak yang latah. Namun persoalannya upaya tersebut telah di buck up oleh pemerintah melaui menteri pemberdayaan perempuan. Masyarakat yang berkesetaraan gender yang mereka impikan didefinisikan:” sebuah masyarakat yang memberikan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan wanita, tanpa ada hambatan gender sosiokultural untuk berpartisipasi secara sukarela dalam berbagai aktifitas di semua level sebagai mitra sejajar, dan tidak mendapatkan halangan untuk menikmati hail-hasil serta bersama-sama bertanggung jawab di bidang politik, ekonomi, sosial, sosial, dan budaya.dalam.” (Vision of Gender Equality, Creating New Values for The 21st. Century, Council for Gender Equality, 1996).

Mereka selalu mempropagandakan pembelaan pada wanita untuk keadilan, kesetaraan, kemakmuran dan sederet alasan yang nampak baik. Mereka tidak pernah mengungkap fakta sebenarnya. Dampak program gender itu telah menjadi petaka bagi masyarakat, perempuan dan khususnya kaum muslimin. Dengan istilah Gender Mainstreaming (pengarusutamaan gender), KKG (Keadilan dan Kesetaraan Gender), bias gender, mereka telah mengharu biru masyarakat menuju petaka dunia dan akhirat. Lihatlah dengan konsep tersebut banyak isteri yang durhaka pada suami, berkembangnya free sex di kalangan remaja dengan ATM kondom, perselingkuhan kalangan orang tua dan perceraian, pelacuran baik terang-terangan ataupun tersembunyi yang di picu dengan pornografi dan pornoaksi baik di dunia nyata maupun maya, maraknya HIV-AIDS akibat pelacuran, bahkan di Barat telah terjadi lost of generation (generasi yang hilang) sebab para wanita tidak mau menikah alih-alih hamil, karena hal itu dianggap bentuk kekerasan pada wanita. Sebuah contoh, demi mengejar kekayaan materi dan kebebasan mereka mengabaikan peran wanita sebagai ibu yang dampak signifikan bagi negara yang telah menerapkan konsep-konsep gender, melalui berbagai cara termasuk lewat undang-undang, seperti: “negara-negara skandinavia utamanya Swedia dan Denmark dan Norwegia memiliki partisipasi paling tinggi di dunia dalam hal perempuan bekerja. Di Norwegia pada tahun 1963 wanita pekerja hanya 14% yang punya bayi, pada tahun 1969 meningkat 69%. Pada tahun 1985 di Denmark hanya 5% anak-anak di bawah 6 tahun yang mendapat asuhan dari ibunya. Negara-negara di Skandinavia terkenal dengan tingkat ketidakstabilan atau perpecahan keluarga yang paling tinggi di dunia saat ini. Angka perceraian meningkat 100% dalam kurun waktu 20 tahun." (Ratna Megawangi dalam "Membiarkan Berbeda, 2003). Sadar atau tidak para pengusung gender dan feminis telah menciptakan malapetaka dan menimbulkan kemurkaan Allah SWT.Kita saksikan berbagai kemaksiatan termasuk para feminisme dan genderisme telah menimbulkan adzab Allah SWT dengan multi bencana. Naudzubillahi mindzalik.

Gender yang telah menjadi istilah baru bukan lagi sekedar jenis kelamin, namun sudah terkait dengan posisi sosial dan budaya. Istilah tersebut telah berhasil membuat alibi guna mempecundangi politisi maupun tokoh-tokoh agama dan masyarakat. Betapa tidak, mereka telah meloloskan berbagai undang-undang untuk memaksakan ide-ide feminisme dengan gendernya. Mereka berangan-angan dengan ide gender itu masyarakat dapat hidup dengan baik, padahal survey telah membuktikan hal tersebut menghasilkan malapetaka.

Aktifitas para genderis itu sungguh aneh. Apa yang mereka perjuangkan dan mengapa justru memusuhi sistem Islam yang merupakan sumber kebaikan dan rahmat bagi alam semesta. Aneh memang, mengapa mereka menuduh sesuatu sementara mereka tidak tahu apa yang mereka tuduhkan? Dimana logika mereka yang selama ini di agung-agungkan? Bukankah gerakan femenisme dan genderime itu muncul akibat penindasan para lelaki yang tidak beriman? Atau setidaknya jika mereka beriman tetapi hidupnya dengan sistem kapitalisme-sekulerisme. Mengapa justru bukan sistem hidup mereka yang jelas-jelas sudah tidak laik lagi di gunakan itu, diganti dengan sistem lain. Sistem Islam justru memuliakan wanita/perempuan. Mereka pun alergi dengan kata wanita yang cenderung lembut, halus dan taat. Kata perempuan menurut mereka lebih pas. Memang kesan kata perempuan lebih menantang. Sering para penyair menggunakan kata perempuan-perempuan yang di rangkai dengan kata jalang, sehingga kesan menantang dan perlawanan cukup kental. Jika mereka tetap menuduh Islam dan para pejuangnya berarti ada sesuatu dibalik perlawanan itu yakni para feminis/genderis. Mereka adalah manusia absurd.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post