Efek Korosif Sistem Ribawi Yang Dimainkan Kapitalisme - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 30, 2020

Efek Korosif Sistem Ribawi Yang Dimainkan Kapitalisme


Lukman Noerochim (Stafsus FORKEI)

Pasar modal dan bursa efek dalam sistem Kapitalisme memainkan peranan seperti yang dimainkan oleh sistem riba dalama hal mengkonsentrasikan kekayaan pada tangan segelintir orang. Namun lebih dari itu, Pasar modal dan bursa efek menghalangi sirkulasi harta yang hakiki, baik berupa barang maupun jasa, dan mengubahnya menjadi perekonomian angka dan kertas. Orang-orang mengambil keuntungan di dalamnya dan sebaliknya sejumlah orang juga mengalami kerugian. Di dalamnya kekayaan menggelembung berkali-kali lipat tanpa diikuti produksi barang dan jasa yang riil. Di dalam dunia finansial, balon ditiup besar membuat orang mengkhayal bahwa itu adalah pertumbuhan ekonomi. Kemudian jika balon itu tiba-tiba meletus lenyaplah kekayaan yang mereka miliki atau dalam banyak kasus, yang mereka duga menjadi milik mereka. Letusan balon itu menyisakan stok keuangan yang hakiki di tangan sekelompok para perampok spekulan keuangan. Jika investor di pasar normal mendapat keuntungan melalui pembelian saham lalu menjualnya setelah harganya naik, maka spekulan memperoleh keuntungan kadang dengan jalan melakukan aktivitas pembelian dan penjualan saham dengan tujuan untuk menurunkan harga-harga saham dalam praktek yang disebut short selling.

Bursa-bursa efek dan pasar-pasar modal dalam sistem kapitalisme ini sesungguhnya merupakan sumber munculnya berbagai krisis yang hanya menyebabkan bertambahnya orang miskin. Ini terjadi setelah krisis melenyapkan kekayaan mereka atau menjerumuskan mereka ke dalam kerugian yang sangat besar.

Dalam pandangan Islam, pasar jual beli harus diatur dengan hukum syara’ yang menjamin tidak adanya konfllik dan tidak adanya aktivitas memakan harta dengan jalan yang batil. Di antara hukum-hukum itu adalah:

a. Syara' melarang penjualan barang jika barang itu belum dimiliki oleh penjual dan belum berada di bawah kuasanya. Jadi tidak boleh membeli barang lalu menjualnya kembali sebelum pembeli menerimanya seperti yang terjadi di bursa efek. Di bursa efek, barang bisa diperjual-belikan berkali-kali padahal barang itu masih tetap di tempatnya dan belum diterima oleh penjual maupun pembeli.

b. Syara' melarang tanâjusy atau spekulasi. Yaitu harga barang dinaikkan bukan untuk pembelian yang sebenarnya, melainkan untuk menaikkan harga barang. Hal itu seperti yang terjadi di pasar modal dan bursa efek sekarang ini. Naiknya harga minyak selama satu tahun lalu menjadi buktinya.

c. Syara' melarang jual beli enam jenis komoditas ribawi tanpa serah terima secara langsung jika jual beli berlangsung antar jenis yang berbeda; dan tanpa serah terima langsung dan kesamaan dalam hal jumlah jika jual beli berlangsung pada jenis yang sama. Keenam jenis komoditas ribawi itu adalah: emas, perak, gandum, jewawut, kurma, dan garam. Uang dengan berbagai jenisnya mengikuti emas dan perak dari sisi hukum ini. Jika berbeda jenis maka itulah yang dinamakan pertukaran uang (sharf), tidak sah jika bertempo.

Jadi jual beli antar jenis yang berbeda tidak sah tanpa serah terima langsung. Jual beli jika sesama jenis tidak sah tanpa serah terima langsung dan kesamaan dalam jumlah (kuantitas). Misalnya jual beli emas dengan emas atau gandum dengan gandum. Maka tidak boleh ada saling lebih dalam jumlah (kuantitas) dan tidak boleh ada tempo (penundaan).

Apa yang berlangsung di bursa efek tidak sah hukumnya karena menyalahi ketentuan ini. Penundaan serah terima di dalam komoditi-komoditi ini dan khususnya dalam sharf (pertukaran uang), telah menciptakan krisis dan kegoncangan karena terjadi perbedaan harga dan nilai dengan adanya tempo. Hal ini selanjutnya menciptakan apa yang mirip dengan perjudian (gambling) dan akibatnya pun sudah dikenal yaitu kerugian dan krisis.

Syara’ melarang sirkulasi saham karena perseroan terbatas (PT) dan sahamnya adalah batil (tidak sah). Saham itu merupakan surat berharga yang mengandung campuran antara sejumlah modal yang halal dan keuntungan yang haram, dalam satu akad yang batil dan muamalah yang batil, tanpa bisa dibedakan antara harta pokok dan keuntungan. Semua lembar surat berharga itu mengandung nilai tertentu dari aset perusahaan yang batil. Kadang kala aset itu diperoleh dengan muamalah batil yang dilarang oleh syara’, sehingga harta itu merupakan harta haram. Jadi saham perseroan terbatas mengandung sejumlah harta yang haram. Dengan demikian, surat berharga ini, yaitu saham menjadi harta yang haram, tidak boleh diperjual-belikan. Juga tidak boleh bertransaksi dengannya baik saham biasa maupun apa yang disebut saham preferen yang mendapatkan keuntungan dalam semua kondisi dan memiliki prioritas pembayaran sebelum jenis-jenis lainnya pada saat kliring perusahaan atau pada saat pembagian deviden.

Tidak boleh membeli saham dengan utang ribawi yang diberikan oleh broker atau yang lain kepada pembeli dengan mengagunkan saham. Sebab hal itu merupakan perbuatan riba dan peneguhan riba dengan agunan. Padahal keduanya termasuk perbuatan haram berdasarkan nash yang menerangkan adanya laknat atas pemakan riba, pemberi makan dengan riba, penulis riba, dan dua orang saksi riba.

Juga tidak boleh menjual saham yang tidak dimiliki oleh penjual. Hal itu dilakukan melalui diperolehnya komitmen dari broker dengan mengutangkan saham pada waktu penyerahan. Ini tidak boleh, sebab termasuk menjual sesuatu yang tidak dimiliki oleh penjual (broker). Larangan terhadap jual beli itu semakin keras jika disyaratkan penyerahan harga kepada broker untuk mengambil manfaat melalui deposito berbunga untuk mendapat kompensasi mengutangkan saham.

Tidak boleh pula memperjual-belikan dan mensirkulasikan obligasi (bonds). Sebab obligasi merupakan surat utang yang diinvestasikan dengan riba. Lebih-lebih lagi ada keharaman jual beli utang dengan utang.

Walhasil, pasar jual beli dalam Islam merealisasikan perdagangan yang halal, aman, dan bebas dari krisis, konflik, spekulasi, gambling, dan penipuan. Pasar dalam Islam merupakan pasar yang bersih yang senantiasa memperhatikan hukum-hukum syara' dalam sirkulasi harta.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here