Fenomena Melesatnya Pertumbuhan Jumlah Muslim Disamping Tantangan Virus Islamofobia Elit Politisi Barat - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 2, 2020

Fenomena Melesatnya Pertumbuhan Jumlah Muslim Disamping Tantangan Virus Islamofobia Elit Politisi Barat




Umar Syarifudin (pengamat politik internasional)

Berbagai pernyataan bernuans Islamofobia selalu mewarnai media massa Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengacaukan pikiran yang membuat masyarakat di Barat merasa khawatir dan takut atas fenomena semakin berkembangnya Islam dan bertambahnya kaum Muslim di negara-negara Eropa.

Untuk itu, para penulis dan intelektual Eropa, begitu sibuk dalam melakukan kampanye (Islamofobia) untuk menciptakan ketakutan di dalam hati masyarakat Barat terhadap ancaman akan semakin meningkatnya populasi kaum Muslim di negara-negara Eropa. Hal ini terkonformasi dari apa yang pernah ditulis dan dipublikasikan oleh seorang peneliti, Jorgen Nielsen. Ia seorang Profesor Studi Islam di Center for Christian-Muslim Relations di Wina, Austria, dalam sebuah artikel yang ia tulis di surat kabar London "The Independent". Ia memulai dengan pernyataan (yang memperlihatkan fenomena Islamofobia) di Eropa, di mana dalam artikelnya ia memperingatkan akan terbitnya fajar Islam di Eropa. Ia berkata: "Perancis akan berubah menjadi Republik Islam setelah 39 tahun; setengah penduduk Belanda akan menjadi Muslim setelah 15 tahun; dan Jerman akan menjadi negara Islam pada tahun 2050 M."

Nielsen meminta untuk menghentikan fenomena pertumbuhan umat Islam di benua Eropa. Sang penulis itu mengatakan bahwa "50% dari bayi yang baru lahir di Belanda adalah keturunan kaum Muslim. Di Rusia terdapat 23 juta kaum Muslim. Jadi, rata-rata ada satu orang Muslim dari setiap lima orang Rusia. Bahkan diramalkan bahwa 45% tentara Rusia adalah kaum Muslim dalam beberapa tahun ke depan."

Dalam sebuah pernyataan yang pernah dikeluarkan oleh Kantor Statistik Federal Jerman mengatakan: "Penurunan populasi warga Jerman tidak dapat lagi dihentikan. Jerman akan menjadi sebuah negara Islam sebelum tahun 2050 M. Saat ini saja sudah terdapat 52 juta kaum Muslim di Eropa. Bahkan pemerintah Jerman meramalkan bahwa dalam sepuluh tahun ke depan jumlahnya akan bertambah dua kali lipat menjadi 104 juta kaum Muslim.” Laporan itu juga mengatakan bahwa di Kanada rata-rata tingkat kesuburan hanya 1,6. Sehingga dituntut agar tingkat kesuburannya dinaikkan hingga 2,11 untuk melestarikan budaya Barat."

Laporan itu mengatakan bahwa Islam telah menjadi agama yang perkembangnnya paling pesat. Dan dikatakan bahwa tingkat kesuburan di Amerika Serikat saat ini adalah 1,6. Di Amerika hanya ada 100 ribu kaum Muslim saja pada tahun 1970 M, sementara survei Pew Research Center pada April 2015 lalu memprediksi kenaikan pesat jumlah pemeluk Islam di AS. Pada 2010, warga AS yang menganut Islam berjumlah 2,77 juta jiwa dari total populasi sebanyak 310,38 juta jiwa. Pada 2020 mendatang, angka itu diperkirakan bergerak menjadi 3,85 juta jiwa pemeluk Islam dari total populasi 335,03 jiwa orang AS. Pada 2050 nanti, jumlah orang Islam Amerika Serikat diprediksi mencapai 8,09 juta jiwa dari total populasi 394,35 juta jiwa.

Sungguh fenomena Islamofobia telah menjadi sebuah ketakutan baru di Barat. Hal itu tampak dari semakin banyaknya dokumentasi yang dipublikasikan melalui video, buku-buku, dan artikel demografis, serta berbagai simposium, bahwa sejauh ini tingkat kelahiran tertinggi ada di kalangan kaum Muslim. Sehingga orang-orang Eropa dari kelompok kanan menilainya sama dengan "bom waktu" yang di waktu tertentu yang menurut kelompok anti Islam akan mengancam identitas Eropa. 

Adapun terkait sikap sejumlah petinggi negara Eropa membela Presiden Prancis Emmanuel Macron semakin memprovokasi masyarakat untuk memusuhi Islam. Islamophobia tidak bisa dilepaskan dari kesalahan logika berpikir dan generalisasi yang kebablasan. Ironisnya hal ini terus dipelihara oleh elit-elit politik dan media massa liberal. Mereka, misalnya, mengkaitkan Islam dengan pandangan dan tindakan yang dituduh sarat dengan kekejaman dan kekerasan.

Menguatnya islamophobia ini tentu sangat mengkhawatirkan karena akan memperkuat pandangan dan sikap yang menyudutkan warga Muslim di Barat. Semua ini akan mendorong sikap saling curiga, kebencian, dendam dan kemarahan yang berujung pada menguatnya konflik horizontal di tengah-tengah masyarakat. Terbukti, tidak sedikit muslimah yang menggunakan hijab diludahi dan dilecehkan. Ironisnya, itu dilakukan di tempat umum dan kadang dari orang yang selama ini sudah dikenal.

Islamophobia yang berbalut dengan xenophobia sedang berkembang di seluruh negara-negara Eropa dan negara-negara sekular Barat. Ini merupakan buah dari monsterisasi tanpa henti terhadap Islam dan kaum Muslim oleh media dan para politisi di negara-negara tersebut. Ini didukung pula oleh adanya kebijakan dan undang-undang anti-teror diskriminatif yang banyak jumlahnya oleh pemerintah barat.

Berbagai undang-undang anti teror ini menargetkan dan menjelek-jelekkan komunitas Muslim, juga menciptakan rasa takut dan kecurigaan terhadap Islam di tengah masyarakat. Sebuah survei (tahun 2011) yang dilakukan beberapa kelompok dari universitas Australia menemukan bahwa separuh dari masyarakat Australia memiliki pandangan anti-Muslim.

Islamophobia juga seakan melegalkan tindakan pihak keamanan yang melampui batas hukum atas nama perang melawan terorisme. Beberapa pertemuan keagamaan umat Islam dihalang-halangi, dibubarkan dan dilarang. Komunitas umat Islam juga menjadi target penggerebekan pihak keamanan secara berlebihan, kadang hanya dengan alasan kecurigaan dan dugaan.

Media yang sejalan dengan kebijakan pemerintah juga bertindak dengan kekuatan penuh untuk menyebarkan berita bahwa di dalam negeri tidak aman bagi kaum muda Muslim yang sedang mengalami "radikalisasi". Pemberitaan berlebihan tentang terorisme "yang tumbuh di dalam negeri" menganggap kaum ibu Muslimah perlu untuk "dilibatkan".

Para ibu juga didesak untuk memata-matai anak-anak mereka sendiri dan mencegah mereka untuk menjadi teroris agar negara tetap "aman". Nilai-nilai Islam yang ditanamkan oleh para Muslimah kepada anaknya justru dipertanyakan karena dianggap sebagai bibit terorisme. Kaum Muslimah harus selalu dan terus menanggung beban serangan rasis yang muncul dari rasa takut yang terus-menerus dihembuskan oleh pemerintah dan media.

Islamophobia yang masif belakangan ini patut dicurigai sebagai propaganda sistematis dari negara-negara Barat terhadap Islam. Sangat mungkin, hal ini muncul sebagai cerminan dari ketakutan Barat melihat Islam sebagai alternatif dunia bagi Kapitalisme yang sedang sekarat saat ini. Meningkatnya warga negara Barat yang memeluk agama Islam saat mereka melihat Islam sebagai solusi dalam kehidupan mereka bisa jadi dianggap sebagai ancaman.

Makin seriusnya umat Islam untuk mempertimbangkan syariah Islam sebagai solusi kehidupan akibat kegagalan ideologi sekular di negeri-negeri Islam tentu sangat mengkhwatirkan Barat. Untuk mencegah hal ini, negara-negara Barat merasa perlu membangun stigma negatif terhadap ajaran Islam, terutama yang berhubungan dengan syariah Islam.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here