Haruskah Nasib Rakyat Diurus Dari Dalam "Kamar Hitam" & Di Ruang Logika Kekerasan? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 16, 2020

Haruskah Nasib Rakyat Diurus Dari Dalam "Kamar Hitam" & Di Ruang Logika Kekerasan?


 Achmad Fathoni (Direktur El Harokah Research Center)


Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengklaim telah menerima 1900 dokumentasi dalam bentuk foto dan video terkait tindak kekerasan aparat kepolisian selama menangani aksi massa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja tanggal 6-8 Oktober 2020.


"Berbagai dokumentasi yang kami terima menunjukkan praktik kekerasan oleh aparat kepolisian," kata KontraS sebagaimana disampaikan Peneliti KontraS Rivanlee Ananda melalui keterangannya pada Republika.co.id, Sabtu (14/11).


Praktik kekerasan itu di antaranya mengintimidasi dan merepresi massa aksi dengan memaki, menyemprotkan water cannon, menembakkan gas air mata, memukul, menendang, dan berbagai tindakan tidak manusiawi lainnya secara berulang-ulang.


Korban brutalitas aparat itu, menurut KontraS berasal dari berbagai macam kalangan, mulai dari mahasiswa, aktivis, buruh, jurnalis hingga warga yang tidak ada kaitannya dengan aksi massa. (republika.co.id, 14/11/2020)


Catatan


Inilah negara konstitusional dan lembaga-lembaga demokrasi di negeri ini dalam mengatasi aspirasi masyarakat yang menolak disahkannya UU Omnibuslaw Cipker yang dianggap. Kekerasan telah terjadi, rezim hendaknya tidak menutup mata dari tindakan-tindakan kekerasan ini.


Sungguh aneh apa yang terjadi di negeri ini bahwa mereka melihat tahta kekuatan liberalisme dengan pilar-pilar yang rubuh di bawah kaki-kaki rakyatnya disebabkan represifmenya terhadap kehormatan masyarakat, pengabaian terhadap aspirasi masyarakat dan pemberian cambuk keras kepada masyarakat. Meskipun demikian, pemerintah tetap saja bersikeras mengesahkan UU ini di atas "tengkuk masyarakat" dan nasib mereka ke "Kamar hitam" yang hanya diatur oleh logika kekuatan dan dugaan penindasan serta memperlakukan masyarakat kritis sebagai elemen hambatan potensial selamanya?


Di atas semua itu, kami kembali mengingatkan untuk yang keribuan kali -sebab tampak ingatan mereka itu lemah atau bisa jadi beban pikiran mereka terlalu berat- bahwa kita harus taat dan memperhatikan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya saw dan hanya dibuat bergetar oleh ancaman-ancaman Allah SWT, maka serangan-serangan teror dan ancaman tidak akan berguna sedikit pun mengendurkan semangat rakyat untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Suara umat hendaknya akan makin tinggi setiap kali pukulan diarahkan kepadanya. Hendaknya rezim sekuler melihat kembali arsip dosa-dosa mereka jika mereka tidak ingat.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here