Indonesia Sehat Tanpa Miras - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 16, 2020

Indonesia Sehat Tanpa Miras


M. Arifin (Ketua Tabayyun Center)

Rancangan Undang-Undang (RUU) terkait larangan Minuman Beralkohol (Minol) yang diusulkan Fraksi PPP, Fraksi PKS dan Fraksi Gerindra, menuai pro dan kontra di masyarakat. Pembahasan RUU ini diketahui terus tertunda sejak pertama kali diusulkan pada 2015. RUU ini kemudian masuk kembali dalam daftar Prolegnas Prioritas 2020 sebagai usul inisiatif DPR RI. Melansir dokumen RUU di laman resmi DPR, RUU tersebut terdiri atas 7 bab dan 24 pasal.

Produsen hingga penjual minuman beralkohol terancam pidana dalam RUU Larangan Minuman Beralkohol. Ketentuan ini diatur dalam Bab III RUU yang berbunyi: "Setiap orang dilarang memproduksi Minuman Beralkohol golongan A, golongan B, golongan C, Minuman Beralkohol tradisional, dan Minuman Beralkohol campuran atau racikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4" RUU ini melarang setiap orang memproduksi, memasukkan, menyimpan, mengedarkan, dan/atau menjual minuman beralkohol di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Adapun sanksi bagi orang yang melanggar ketentuan tersebut adalah pidana dengan pidana penjara paling sedikit 2 tahun dan paling lama 10 tahun atau denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar. Apabila pelanggaran yang dilakukan mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain akan dipidana dengan pidana pokok ditambah satu pertiga.

Bir beralkohol berapapun kadarnya tentu haram dalam syariat Islam. Ia termasuk khamr, disebut juga dengan "ummul-khaba'ith" atau pangkal kejahatan dan keburukan.

Menolak keberadaan pabrik bir legal maupun illegal maupun peredarannya di Jatim adalah tanggung jawab bersama sebagai wujud keimanan dan kepedulian menyelamatkan generasi. Produk yang dihasilkan (bir) adalah produk yang jelas keharamannya menurut syariat Islam, keberadaan pabrik-pabrik bir merupakan penodaan terhadap masyarakat Jatim yang mayoritas muslim.

Kita sepakat miras adalah musuh bersama.  Kita pun sepakat bahwa kerugian akibat miras sudah tak terhitung, baik kerugian ekonomi, kerugian sosial, hingga kerugian peradaban berupa ancaman kerusakan generasi bangsa. Miras juga menjadi pemicu beberapa tawuran massal seperti yang pernah terjadi di beberapa daerah dan hingga menyebabkan sejumlah korban tewas. Begitu juga tak sedikit orang yang tewas setelah menenggak miras.

Masyarakat pun tahu konsumsi miras sudah menjalar hingga ke pelosok-pelosok kampung.  Kita pun menyaksikan sudah banyak korban jatuh, dan mereka adalah anak-anak muda, generasi penerus bangsa. Miras sudah mewabah di mana-mana, uang dihamburkan untuk membelinya. Harus ada langkah tegas untuk menghadang laju perusakan generasi yang diakibatkan oleh jeratan minuman beralkohol, juga belitan narkoba. Miras dan alkohol seperti jebakan setan yang nyata.

Masih ingat tragedi Yuyun? Hendaknya menyadarkan semua pihak akan bahaya minuman keras. Karena pengaruh miras, sejumlah pemuda melakukan tindakan keji tersebut. Apakah kita menunggu jatuhnya korban menjadi Yuyun-Yuyun yang lain? Sudikah keluarga Anda menjadi korbannya?


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here