Islam Standar Nilai Yang Haq - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, November 20, 2020

Islam Standar Nilai Yang Haq


Ainun Dawaun Nufus (Dir. Muslimah Care)

Manusia memiliki prioritas yang berbeda dalam mencapai nilai (qimah). Sehingga, jika sebuah nilai bentrok dengan nilai yang lain, dan saat itu hanya bisa mencapai satu nilai, maka apa yang menjadi parameter dan yang harus dijadikan referensi untuk menentukan nilai mana yang harus dicapai? Urusan ini tidak bisa diserahkan kepada akal manusia untuk menentukan karena terdapat lingkungan dan kondisi yang akan mempengaruhinya dan karena manusia lemah, terbatas dan punya kepentingan. Cara yang paling aman untuk menentukan prioritas nilai adalah dengan mengembalikannya pada Islam, wahyu dari Allah SWT pada manusia, Dia – Allah SWT – adalah Yang Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati manusia, Yang Maha Mengetahui apa yang manusia butuhkan.

﴿أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ﴾

"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" (TQS al-Mulk [67]: 14)

Islam tidak membuat pemenuhan nilai-nilai sebagai aturan kaku yang tidak dapat berubah. Mungkin saja pemenuhan nilai kemanusiaan sangat vital dibanding nilai spritual pada satu waktu. Contoh, seorang ibu sedang shalat sementara anaknya berdiri di dekat perapian, jika dia menunggu sampai shalatnya selesai lalu menjauhkan anaknya dari bahaya, sang anak mungkin sudah meninggal atau terluka, oleh karena itu wajib hukumnya sang ibu membatalkan terlebih dahulu shalatnya dan mengamankan si anak dari bahaya.

Mungkin dalam kondisi lainnya nilai materi harus diberikan prioritas di atas nilai spritual, seperti yang diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab melewati kerumunan orang di dalam mesjid yang sedang beribadah kepada Allah SWT di luar waktu shalat, dan pada saat orang-orang pergi bekerja, Umar berkata pada mereka, "Siapa kalian?" Mereka menjawab, "Kami adalah al-mutawakkilun, orang-orang yang bergantung pada Allah (dalam urusan rizki)" Umar memukul mereka dengan tongkat dan berkata pada mereka, "Bukan, kalian adalah al-mutawaakilun, kalian bergantung satu sama lain, kalian tahu bahwa langit tidak menurunkan hujan emas dan perak."

Namun, pada banyak kesempatan lain nilai spritual diberikan prioritas dibanding nilai materi, Allah SWT berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseur untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (TQS: al-Jumu'ah [62]: 9)

Tentu, nilai spritual diberikan prioritas dibandingkan nilai kemanusiaan dan nilai materi dalam kondisi lainnya. Seperti dalam firman Allah SWT:

﴿قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ﴾

"Katakanlah: 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasuln-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (TQS: at-Taubah [9]: 24)


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here