Jejak Sekulerisasi Pendidikan Di Dunia Islam - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, November 5, 2020

Jejak Sekulerisasi Pendidikan Di Dunia Islam


Indarto Imam (Ketua ForPeace)

Negara-negara Eropa khususnya Inggris, Perancis, dan Amerika berhasil menghancur-leburkan negara Khilafah Turki Usmani, setelah negara-negara kafir  tersebut bersepakat untuk menghapuskannya dari Islam kemudian membagi negeri-negeri muslim, dan menjalankan strateginya dengan beberapa cara: diantaranya adalah dengan pendidikan yang merupkan salah satu pintu yang akan berlangsung bertahun-tahun, melalui invasi misionaris, peradaban atas nama ilmu pengetahuan. Mereka telah merancang strategi tersebut dengan anggaran yang besar serta mengerahkannya dengan pasukan dari kalangan misionaris, orientalis, intelektual, pendeta, serta menjadikn  Istanbul dan Beirut sebagai dua markaz utama pemimpin mereka, tidak lama kemudian mereka melibatkan Kairo dan negara-negara di Afrika Utara. Meskipun adanya variasi arah politik Eropa dan Amerika sebagai kepentingan mereka skala internasional, akan tetapi mereka tetap konsisten pada tujuan, yaitu dengan mengirim peradaban Barat di wilayah Timur serta membuat ragu terhadap kaum muslimin atas agamanaya, menanamkan kebencian terhadap agamanya dan merendahkan sejarahya.

Intensitas aktivitas gerakan misionaris semakin kuat, terutama setelah pembentukan Pusat misionaris Beirut tahun 1820 M., dan misionaris Amerika ‘Eli Smith semakin aktif terlihat seperti yang bekerja sebagai relawan dan mengawasi pers yang di Malta, ia dan istrinya membuka sekolah bagi perempuan di Beirut dan mencukupkan hidupnya untuk bekerja di Beirut dan negeri syam pada umumnya. Sungguh gerakan misionaris tersebut berkerjasama dengan gerakan  pendidikan secara nyata, dengan fokus pada bahasa Arab yang terpisah dengan al-Quran. Maka pintu masuk yang lebar untuk kembali dengan bahasa Arab dijadikan perioritas utama, dengan memparkan literatur sastra lama serta menerbitkan buku-buku dan tulisan-tulisan karangan Barat, yang memiliki peran besar dalam merubah masyarakat agar berkiblat kepada Barat dan pemikirannya, untuk itu mereka merekrut  seorang nasrani yang bernama "Nassif Yazji" dan “ayah Louis Shehu” untuk mengontrol orang-orang yang ada di markaz Bairut yang bertujuan untuk mengembalikan aqidah islamiyah dan pemikira-pemikirannya, sampai pada tataran hasil yang sangat mengerikan dan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menghilangkan jejak Islam, termasuk dalam berbagai interaksi, transaksi, cara hidup serta menghancurkan Daulah Islamiyah. Kemudian orang-orang sosialis membuka sekolah-sekolah dan perguruan tinggi bagi mereka, seperti perguruan tinggi yang terkenal di University of Joseph Jesuit, juga membuka American prostestan College tahun 1866 M. Sekarang dikenal dengan Universitas Amerika di Beirut yang melakukan kampanye paling buruk dengan mendistorsi terhadap ide Islam dan sejarah kamu muslimin…..demikian juga hal tersebut terjadi di negeri Syam termasuk Suriah dan Palestina, yang diprovokasi oleh Ibrahim Pasha serta pengaruh dan ambisius Prancis, setelah itu mereka membuka pintu lebar  bagi para misionaris dan menemukan Perancis, Inggris  serta Amerika menyambut hangat dari pemerintahannya, membuat mereka berkeliaran dalam negara dengan pembukaan sekolah dan percetakan buku dan diterjemahkan kedalam bahasa Arab dengan judul “sains dan budaya"…

Adapun Pusat Istanbul, sangat dekat dengan Tsaqofah Islamiyah, melalui gerakan pendidikan yang jauh dari pengawasan negara karena tidak tunduk pada Departemen Awqaf Ottoman, setelah itu mereka mendirikan sekolah dan perguruan tinggi dengan menyelundupkan percetakan missi misionaris serta membuat ragu terhadap ide-ide dan hukum Islam. Di sisi lain, lahirnya undang-undang reformasi dalam kurikulum pendidikan Ottoman sesuai dengan perkembangan ilmiah di Eropa, dijadikan sebagai pintu untuk mengirim delegasi keluar negeri dari kalangan mahasiswa Muslim ke Perancis, Inggris, agar mereka terpengruh dengan kehidupan Barat dan cara pandang meterialistik serta pola hidup, yang akan mendorong mereka untuk melakukan reformasi pendidikan di setiap daerah dalam negara.

Pada tahun 1876 M, muncullah undang-undang yang menetapkan bahwa pendidikan dasar wajib bagi setiap anak dalam negara, serta mengeratiskan beaya pendidikan. Sejak tahun 1879 M, muncullah sekolah sekuler bersama dengan sekolah agama yang dikepalai oleh para ilmuwan, kemudian Daulah Utsmaniyyah bertanggung jawab kepada non-Muslim untuk memberikan hak nya dalam aspek pendidikan, hingga terbentulah sebuah sekolah untuk berbagai agama yang berbeda, yaitu, sekolah yang didirikan komunitas agama selain Islam yang tunduk pada negara.

Selesailah pembukaan sekolah-sekolah misionaris dengan misi kristenisasi AS, Austria, Perancis, Inggris, Jerman, Italia, kemudin dibukalah di sejumlah Kota-Kota besar wilayah Ottoman, sungguh Daulah Utsmaniyyah semakin lemah dengan banyaknya sekolah-sekolah dan tidak bisa mengotrolnya, sehingga sekolah-sekolah tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar dalam meruntuhkan Khilafah.

Misionaris Zuwmar mengatakan kepada teman-temanya dalam konferensi yang diselenggarakan di Al-Quds Islamiyah "wahai saudara-saudara sekalian sungguh dalam periode ini , yang dimulai sepertiga dari abad -19  sampai sekarang, kami telah menguasai program pendidikan di wilayah kekuasaan Islam... terima kasih kepada saudara-saudara sekalian, kalian telah menyiapkan generasi yang tidak lagi menyadari adanya hubungannya kepada Allah, tidak ingin mengetahuinya,  serta mengeluarkan orang Islam dari keislamanny".

Untuk menguasai pemerintahan di Turki, Mustafa Kemal menciptakan resafel pada kurikulum pendidikan, yang masih loyal terhadap syariah  Islam dan bahasa Arab, kemudian dihapuslah pendidikan agama, memerangi cendekiawan Muslim, serta merubah huruf-huruf latin dengan bahasa Arab, penerapan kebijakan sekularisasi dalam negara, perundang-undangan, pendidikan dan kekuatan senjata dan besi.

Sementara di Mesir, Muhammad Ali Pasha melakukan kampanye melawan pendidikan agama setelah menguasai pemerintahan di Mesir pada tahun 1805 M- 1842 M. dan mengeluarkan diri dari Daulah Utsmaniyah, kemudian menggabungkan diri ke Prancis secara kenegaraan dan perpolitikan dengan terbuka , setelah itu ia merebut Palestina, Lebanon, Suriah, berjalan menuju Anatolia; dalam perjalanan tersebut, diabaikanlah pendidikan di-Azhar, dan beberapa kuttab. Karena hal tersebut diluar lingkup perhatiannya, dan yang menjadi perhatian utamanya adalah system pendidikan baru untuk membentuk pasukan kuat yang akan digunakan untuk memerangi Daulah Utsmaniyyah sebagai perioritas.

Pada saat itu diangkatlah para Direktur pendidikan asing dari orang-orang Perancis dan Inggris bagi sekolah-sekolah  Mesir untuk mengontrol proses pendidikan secara langsung, dan menyiapan kompetensi lokal dalam misi luar negeri yang akan digunakannya dengan memandu reformasi pendidikan, di mana jumlah siswa yang mereka delegsikan ke Eropa pada saat itu berjumlah 319 mahasiswa (sebagai contoh dari mereka adalah Rifaah at-Tahthawi pengarang buku "Takhlish al-Ibriiz fii Talkhis Baariz" yang di tulis  setelah kembalinya dari Prancis dan kehidupannya di perancis memperluas metode berfikir, pendidikan serta interaksi diantara individu)" dan senada dengan apa yang telah digambarkan oleh Lord Cromr tentang terobosan intelektual seperti misi ini, ketika ia berkata, "Sesungguhnya pendekatan agama adalah dengan mereka menimbah  ilmu di Inggris dan Eropa, maka mereka akan kehilangan hubungannya secara intelektual dan spiritual dengan tanah kelahiran mereka, selanjutnya pada saat yang sama mereka tidak akan mampu memberikan loyalitasnya kepada negara yang memberikan  ilmunya, kemudian mereka akan memilihnya ditengah-tengah perpecahan".

Muhammad Ali Pasha dan keluarganya mulai menghimpun pendidikan sipil juga memarginalisasi pendidikan al-Azhar dan menjauhinya, dengan tujuan utama melalui kebijakan ini adalah dengan membuat agar Mesir menjadi bagian dari Eropa sebagaimana yang dikatakaan anaknya Ismail, ia meyakini bahwa perubahan ini tidak akan berhasil kecuali  dengan meng-asing-kan pendidikan.

Sunggguh terngianglah generasi Mesir setelah itu, membawa obornya dan memimpin perang sekularisasi dan permusuhan terhadap tsaqofah islamiyah dengan mengatasnamakan evolusi, sains dan menjaga waktu, terutama setelah menggabungkan/mencampur-adukkan antara laki-laki dan perempuan dalam pendidikan, serta mengikuti kurikulum yang sudah terpengaruh dengan peradaban Barat, baik dalam bidang sains, seni, sastra, sejarah, dan bahasa.

Tidak hanya berhenti sampai pada kurikulum Cromr dan Danlub saja, akan tetapi ending pemikiran Barat tersebut tidak mengurangi keinginan keduaanya dalam mewarnai Mesir di dunia Islam dengan corak keagamaan Barat, seperti pemikiran Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani memiliki peran besar dalam  mempengaruhi pendidikan di Mesir, dengan jelasnya keterpengaruhan keduaanya  terhadap Tasqofah Barat dan Inggris khususnya. Sebagaimana penulis Mesir "Qasim Amin" pengarang buku "Tahrir Al-Mar’ah” dengan dukungan“ Muhammad Abduh" terutama setelah ia melakukan perjalanan dalam misi studi ke Perancis dan bergabung dengan Universitas Montpellier, setelah itu kembali ke Mesir di 1885 M. dalam kondisi sudah penuh dijejali dengan pemikiran Barat, dengan mendistorsi pemahaman hijab, poligami, perceraian, warisan, sebagaimana dalam tulisannya,  buku-buku karanganya, beberpa artikelnya dalam surat kabar serta mentransfer pemikiran-pemikiran Barat dan ide kebebasan secara mutlak. kemudian Taha Hussein dan Thofa As-Sayyid  setelahnya seorang pembisnis besar dalam mentransfer ide-ide sekuler, manifestasinya, serta mempromosikannya. Demikian juga Ali As-sya’raawi istri Huda As-Aya'raawi dan masih banyak lagi  selain mereka.

Sebagaimana terpengaruhnya Ibrahim Pasha, sebagai percobaan Muhammad Ali Pasha, kemudian ia bertopang pada pencetusan perubahan program pendidikan di dua wilayah yaitu Suriah, Lebanon, yang terinspirasi dari  program pendidikan di Mesir yang diambil dari program pendidikan Perancis, ini dijadikan sebagai kesempatan emas oleh para misionaris untuk mengambil bagian dalam pergerakan pendidikan secara nyata di negara Syam.

Demikian ini, terdapat perbedaan yang sangat besar antara evolusi pendidikan sipil dibandingkan dengan kentalnya pendidikan agama di Daulah Ottoman, melalui mengabaikan ilmu syari’ah, para kuttab,  beberapa universitas lama seprti Al-Azhar, Az-Zaitun serta membatasi peran mereka dalam pendidikan agama. Adapun para delegasi yang dikirim keluar adalah yang tidak memiliki peran dalam lembaga negara karena hal itu merupakan efisiensi ilmiah yng mampu mengatur dan sejalan dengan evolusi. Pada Era Khedive Ismail telah mengeluarkan undang-undang tahun 1872 terutama dengan mengorganisir al-Azhar dan mereformasinya “dan menyatakannya dalam sebuah paragraphnya B, bahwa : "bahwa pembatasan study diberikan kepada  al-Azhar dengan 11 mata kuliah saja, yaitu : Fiqih, Ushuluddin, Tauhid, hadits, Tafsir, Nahwu, Shorf, Ma’aani, Bayaan, Badii’, dan ilmu manthiq".

Saatnya, dimulai misi sekulerisasi yang berkesinambungan di negeri Islam, dengan menjadikan pendidikan sebagai senjata intelek untuk menghancurkan Benteng umat islam dari dalam, setelah itu mulailah seruan-seruan orientalis, misionaris, westernisasi membanjiri kurikulum pendidikan, serta mulai memasarkan doktrin sekuler (pemisahan agama dari kehidupan yang dikaitkan dengan istilah Science dalam memberikan doktrin keyakinan tersebut yang bertentangan dengan Islam. Hal ini merupakan bentuk penyesatan yang sangat besar dengan memberikan doktrin istilah “al-ilmaniyah” yang berasal dari kata bahasa Arab “al-‘Ilm” sebagaimana menerjemahkan kata secularism dalam bahasa inggris dan yag tidak ada kaitananya dengan kata "al-'ilm" dalam kamus mereka. Padahal istilah secularism adalah pemikiran menyeluruh tentang manusia, alam semesta dan hidup menurut Barat.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here