Jejak Sekulerisasi Pendidikan Dunia Islam (2) - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, November 5, 2020

Jejak Sekulerisasi Pendidikan Dunia Islam (2)


Indarto Imam (Ketua ForPeace)

Doktrin sekularisasi menjadi senjata ampuh barat untuk menghancurkan dunia Islam saat runtuhnya Khilafah , sementara Barat sendiri mengasingkan diri dari masyarakat, permusuhan yang bergejolak dalam diri mereka sendiri serta kedengkian yang melahap hati mereka hanya untuk Islam, serangan kuat yang terdapat pada umat serta penjajahan intelektual sangat varitif. Pada Konferensi misionaris Adnbruj, yang diselenggarakaan pada tahun 1910 M. Komite ketiga yang membahas aktifitas sekolah yang dilakukan para misionaris mengatakan: pendapat para duta Negara-negara besar yang ada di ibukota kesultanan Ottoman telah bersepakat bahwa lembaga pendidikan menengah yang didirikan oleh Eropa memiliki pengaruh untuk menyelesaikan masalah-masalah ke-Timur-an, yang mendominasi atas pengaruh aktifitas kerjasama yang dilakukan oleh negara-negara Eropa secara keseluruhan...

Adapun di negara-negara Maroko-Afrika, maka penjajahan perancis berlindung secara langsung pada pendidikan dengan menganggapnya  sebagai lahan subur untuk menaburkan Bibit tanaman francophone, dengan memerangi bahasa Arab dan menggantinya dengan bahasa Perancis. Untuk menyempurnakan perbudakan bangsa Maroko tersebut, serta mencabutnya dari akar-akarnya yang berupa peradaban dan sejarah yang berkaitan dengan perluasan islam.

Jenderal al-lyuty yang secara umum berdomisili di Perancis, ketika berada di Maroko mengatakan disela-sela patrolinya yang terkenal pada tahun 1921 "bahwasanya Arab merupakan salah satu faktor penyebaran Islam, karena melalui bahasa ini akan dapat menyempurnakan pembelajaran al-Quran, Sementara kepentingan kita menuntut untuk mengembangkan Barbar diluar lingkup Islam".

Maka pintu masuk Tsaqofah dan linguistik, dari perspektif penghapusan Tsaqofah Islam dan bahasa Arab, dengan menjadikan bahasa Prancis  merupakan bahasa yang paling banyak dipelajari dari pada bahasa yang diajarkan disekolah, bahkan pengajaran bahasa ini adalah dengan makna البيداغوجي, ideologis yang menghubungkan Muslim dengan Perancis, melenyapkan kepribadian kaum muslimin serta loyalitas mereka, dan hal ini dikonfirmasi oleh George Hardy, Direktur pendidikan di Maroko selama fase kolonial di mana ia berkata, "Sedangkan untuk materi Umum yang akan mencakup pendidikan terapan, hal ini tentu saja kondisi bahasa Perancis, merupakan bahasa yang dengannya kami akan dapat mengikat sisws-siswa kami dengan Perancis, juga sejarah yang harus memberikan kepada mereka ide untuk kebesaran Prancis".

Di Aljazair, sebagaimana dalam salah satu laporan Perancis (Komisi pinjaman luar biasa tahun 1847 M): "sungguh kami telah membiarkan sekolah berjatuhan dan memporak-porandakannya, saya telah mempadamkan lampu di sekitar kami, yakni bahwasanya kami telah merubah  masyarakat Muslim menjadi masyarakat paling bodoh dan biadab akan terjadi padanya sebelum mereka mengetahui  kita".

Pada tingkat pendidikan yang berlaku di Aljazair sebelum pendudukan Perancis, seperti yang dinyatakan oleh "dechy" – penanggung jawab pendidikan umum di Aljazair – dengan mengatakan: "sekolah di Aljazair dan Kota dalam negeri, Bahkan terdapat di tengah-tengah suku itu dengan kesiapan yang baik, penuh dengan manuskrip. Di kota Aljazair terdapat sekolah di setiap masjid, pendidikan didalamnya gratis, dan pemberian gaji guru-gurunya diambil dari kas pemasukan masjid, dan di antara pengjarnya merupakan guru-guru professional yang memikat bangsa-bangsa arab untuk belajar kepadanya.."

Dengan demikian, tujuan penguasaan untuk menutup banyak sekolah-sekolah, mengusir para pengajar, memerangi bahasa Arab, mengeluarkan para pemuda dari lingkungan Islam berpendidikan menjadi lingkungan masyarakat yang bodoh, seperti pemberlakuan undang-undang pelarangan pembukaan sekolah-sekolah, mempersempit sekolah al-Qur'an dalam kerangka kebijakan merger dan sekularisasi. Menetapkan segala sesuatu yang memungkinkannya, dalam rangka strategis kolonial, sekiranaya mampu membentuk sekelompok dari bangsa Aljazair yang akan mempercayai ketokohan orang-orang Perancis, seperti Said al Fassi, Rabii’ Azzanaaty, Farhaat Abbas dan selain mereka yang telah memposting budaya Barat, mereka mengingkari bangsanya dan meleburkan dirinya pada peradaban Eropa melalui politik pendidikan.

Di Tunisia guru Prancis mulai berperan utama dalam bidang ini, untuk menonjolkan kelebihan peradaban Barat dan mengarahkan kepada generasi baru agar mencontoh orang-orang Eropa, melepaskan warisan mereka yang dalam pandangannyaa cenderung kepada bangsa yang semangat, dan ini memungkinkan Eropa dalam kelangsungan proyek kolonial dengan menisbtkan pada keawaman pada  francophone,  yang membentuk arena latar belakang Perancis dalam penjajahannya. Dan inilah yang dinyatakan secara eksplisit dari kalangan mengecoh orientalis Perancis "Jude fury" yang mengatakan, “Anda harus memanfaatkan semua sarana yang ada dalam kekuasaan kami untuk memerangi kemajuan Arab dan Islam".

"Bourguiba" Kepala Tunisia setelah kemerdekaan pemberian, bersandar kepada sekulerisasi pendidikan secara jelas dan bertarget identifikasi Islam agar tumbuh sebagaimana yang ditentukan oleh jurnal Ahwaal as-syahkhsyiyah yang diterbitkannya. Yang diambil oleh "Mustafa Kemal sebagai satu-satunya model baginya", dan tidak lebih buruk dari itu kecuali kurikulum yang diajarkan di sekolah-sekolah negeri, yang dipenuhi untuk menikam dan meracuni apa saja yang ada keterkaitannya dengan Islam, sejarah, peradabanya, dihargai dengan nilai dan kebesara yang sampai derajat pada pengkultusan terhadap apa saja yang ada hubungannya dengan Eropa, sejarah dan peradabannya.  Adapun Universitas Zaituniyyah  yang dianggap sebagai University Islam pertama, yang dibangun dalam sejarah Islam telah ditargetkan Bourguiba secara langsung dan dijadikan "prestasinya" perdana pada pagi hari, yang memungkinkan bagi penguasa untuk menutup Zaituniyyah dengan sumber-sumber kepemilikannya sebagai dasar dalam penahanan, pemberhentian, menunjuk alumninya serta penghapusan pendidikan dan pengajaran didalamnya dengan alasan generalisasi kurikulum pendidikan.  Maka tahun 1965M merupakan tahun "akhir realistas" untuk menyalakan obor zaituniyyah ke dunia serta memadamkan obor intelektualitas.

Demikianlah tujuan barat terhadap kurikulum pendidikan dan lingkupnya memiliki peran besar dalam  menghancurkan Daulah Utsmaniyyah dan menguasai generasi kaum muslimin setelah hilangnya Daulah Utsmaniyah, yang terpisah dengan aqidah islamiyyah dan intrik jalan bangsa secara intelektual dan peradaban... dan senada dengan kesaksian salah seorang penyair Muslim di India, yang mengatakan, "kolonisasi lebih cerdas dari pada Firaun, yang menggunakan politik pembunuhan anak laki-laki, dan tidak membukakan  kepada mereka sekolah dan perguruan tinggi akan tanpa mereka sadari sebagaimana yang dilakukan para kolonialis".


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here