Kecintaan Para Sahabat Terhadap Bendera Tauhid - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 9, 2020

Kecintaan Para Sahabat Terhadap Bendera Tauhid


Achmad Fathoni (Direktur El Harokah Research Center)

Al-Liwa' dan ar-Rayah telah berkibar dalam aksi damai mengutuk keras pelecehan terhadap Islam oleh Macron. Bendera ini merupakan simbol kenegaraan Rasulullah saw. Hal itu ditandai dengan praktik Rasulullah saw. sebagai kepala negara, sekaligus komandan pasukan perang yang menjadikan al-Liwa' di tangannya, semisal ketika Fathu Mekkah; atau secara resmi memberikan mandat al-Liwa dan ar-Rayah kepada orang pilihan yang diamanahi memimpin pasukan perang. Di antara dalilnya adalah sabda Rasulullah saw. ketika Perang Khaibar, "Sungguh aku akan memberikan ar-Râyah kepada seseorang, ditaklukkan (benteng) melalui kedua tangannya, ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya." (HR Muttafaqun 'alayh).

Ketika bendera al-Liwa' diserahkan Khalifah kepada pemimpin pasukan perang, maka ia menjadi simbol pemegang komando peperangan, sekaligus pemersatu para komandan detasemen pemegang ar-râyah dan para pasukan itu sendiri. Ibn Bathal menjelaskan bahwa hadis di atas menunjukkan bahwa tidak ada yang berhak memegang bendera dan panji ini (dalam jihad) kecuali orang yang ditunjuk oleh Imam (Khalifah) saja; tidak diemban seseorang pun kecuali dengan adanya mandat kekuasaan (kewenangan dan kedudukan Khalifah, pen.).

Lalu bagaimana sikap Rasulullah saw. dan para Sahabat terhadap al-Liwa' dan ar-Rayah? Hal itu terjawab dengan menilik sikap Rasulullah saw. dan para Sahabat yang memberikan keteladanan dalam mengemban keduanya; menjadikan itu sebagai tugas kenegaraan yang sangat mulia, yang tidak diemban kecuali oleh orang yang mulia. Hal itu sebagaimana penyifatan Rasulullah saw. kepada pemegang panji ar-rayah ketika Perang Khaibar, "Sungguh aku akan memberikan al-rayah kepada seseorang yang, ditaklukkan (benteng) melalui kedua tangannya; ia mencintai Allah dan Rasul-Nya; Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya." (HR Muttafaq[un] 'alayh).

Kalimat setelah kata rajul[an], "yuftahu 'ala yadayhi, yuhibbuLlaha...", menunjukkan sifat-sifat mulia dari lelaki (rajul[an]) yang akan diamanahi oleh Rasulullah saw. untuk mengemban ar-râyah, sesuai kaidah: "al-jumalu ba’da al-nakirat shifat[un]". Rasulullah saw. akhirnya menyerahkan ar-râyah kepada ’Ali bin Abi Thalib saw.

Bagaimana sikap para Sahabat? Dalam hadits ini digambarkan bahwa mereka mengharapkan kemuliaan tersebut, yang juga menunjukkan agungnya kedudukan al-liwa' dan al-rayah dalam Islam.

Ibn Bathal (w. 449 H) bahkan menegaskan bahwa mandat resmi dalam serah-terima al-Liwa' dan ar-Rayah termasuk sunnah Rasulullah saw. yang harus diteladani oleh kaum Muslim. Ia menuturkan: Rasulullah saw. bersabda, "Sungguh aku akan menyerahkan ar-Rayah." Kata ar-rayah yang diungkapkan dalam bentuk ma’rifat (dengan alif lâm, yakni sudah dikenal secara spesifik) menunjukkan bahwa ia merupakan sunnah Rasulullah saw. (min sunnatihi) dalam berbagai peperangannya. Karena itu sudah seharusnya hal tersebut diikuti (oleh kaum Muslim)."

Karena itu kaum Muslim tidak boleh memandang al-Liwa' dan ar-Rayah kecuali dengan pandangan Rasulullah saw. dan para Sahabatnya. Mereka harus tergerak untuk mengibarkan keduanya kembali, dengan berjuang menegakkan kehidupan Islam.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here