Kepemilikan Negara Dalam Konsep Islam - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 30, 2020

Kepemilikan Negara Dalam Konsep Islam


Aji Salam (ASSALIM Jatim)

Islam mengenal konsep kepemilikan negara. Kepemilikan negara berbeda dengan kepemilikan umum dan kepemilikan individu. Kepemilikan negara ada pada harta yang hak pengelolaannya berada di tangan Khalifah sesuai pandangan dan ijtihadnya, seperti harta fai', kharaj, harta orang yang tidak memiliki ahli waris dan semisalnya, dengan syarat syara’ memang tidak menentukan arah pengelolaannya. Jika syara' telah menetapkan arah pengelolaannya maka harta itu tidak termasuk kepemilikan negara, tetapi menjadi milik pihak yang telah ditentukan itu. Hal itu seperti harta zakat yang merupakan milik delapan golongan yang berhak menerima zakat.

Kepemilikan negara dikelola oleh Khalifah sesuai dengan pandangan dan ijtihadnya dalam berbagai urusan negara dan rakyat. Misalnya, menciptakan keseimbangan finansial di tengah masyarakat sehingga harta itu tidak hanya beredar di tangan orang-orang kaya saja. Allah SWT berfirman:

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

"Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." (QS. al-Hasyr [59]: 7)

Oleh karena itu, Khalifah berhak memberi orang-orang miskin dari harta milik negara dan tidak memberikannya kepada orang kaya. Seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam pembagian fai' Bani Nadhir dimana Beliau hanya memberikannya kepada kaum Muhajirin saja dan tidak memberikannya kepada kaum Anshar. Tidak seorang pun dari kaum Anshar yang diberi harta itu, kecuali dua orang saja karena keduanya termasuk orang fakir seperti halnya kaum Muhajirin. Kedua orang itu adalah Abu Dujanah dan Sahal bin Hanif. Itu dilakukan Rasulullah SAW sesuai dengan ayat yang mulia itu sehingga harta tidak beredar di tangan orang-orang kaya saja.

Sedangkan kepemilikan individu adalah harta yang pengelolaannya diserahkan kepada individu, pada selain harta milik umum. Kepemilikan individu itu terlindungi. Negara tidak boleh melanggarnya. Tidak ada seorang pun yang boleh merampasnya hatta oleh negara sekalipun. Maka apa yang disebut nasionalisasi, yaitu penguasaan negara terhadap kepemilikan individu, merupakan bentuk perampasan dan merupakan dosa besar.

Sesungguhnya menjadikan kepemilikan sebagai satu jenis saja, yang dimiliki oleh negara saja atau yang dikelola oleh sektor swasta saja, pasti akan menyebabkan krisis lalu kegagalan. Teori ekonomi komunisme telah gagal karena menetapkan kepemilikan semuanya dimiliki oleh negara. Teori ekonomi Komunisme hanya sukses pada apa yang memang tabiatnya harus ditangani negara, seperti industri berat, minyak, dan sejenisnya. Sebaliknya Komunisme gagal pada apa yang tabiatnya harus ditangani oleh individu seperti umumnya pertanian, perdagangan dan industri menengah. Akhirnya Komunisme sampai pada keruntuhannya. Kapitalisme juga telah gagal. Kapitalisme juga telah sampai pada tahap kehancurannya tidak lama lagi. Hal itu karena Kapitalisme menetapkan individu, perusahaan-perusahaan, dan lembaga-lembaga bisa memiliki apa yang termasuk kepemilikan umum, seperti minyak bumi, gas, macam-macam sumber energi, berbagai industri persenjataan berat hingga yang sensitif sekalipun. Negara tetap berada di luar pasar dalam segala jenis kepemilikan. Semua itu sebagai pelaksanaan liberalisme ekonomi pasar, privatisasi, dan globalisasi. Hasilnya adalah goncangan yang terjadi bertubi-tubi dan keruntuhan yang merambat dengan cepat dari satu bursa efek ke bursa efek lainnya lainnya dan dari satu lembaga keuangan ke lembaga keuangan lainnya.

Begitulah Sosialisme Komunisme telah runtuh. Begitu pula Kapitalisme telah runtuh atau hampir runtuh.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here