Mahabbah Kepada Rasul - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 9, 2020

Mahabbah Kepada Rasul


Aji Salam (ASSALIM JATIM)

Mahabbah (cinta) dan ittiba' kepada Rasul saw. jelas diwajibkan oleh syariah. Cinta dan ittiba' kepada Rasul itu harus diwujudkan sesuai kehendak syariah, bukan berdasarkan kehendak kita. Cinta dan ittiba' yang mengikuti kehendak kita biasanya hanya diwujudkan pada sebagian perkara dan tidak pada sebagian yang lain. Perkara yang sesuai dengan keinginan kita, kita lakukan; yang tidak sesuai keinginan kita, kita tinggalkan. Akibatnya, mungkin kita hanya mengikuti dan meneladani Nabi saw. pada aspek-aspek personal, moral dan ibadah mahdhah-nya saja; tidak mengikuti dan meneladani Nabi saw. dalam urusan menerapkan hukum syariah, mengelola pemerintahan, berpolitik, mengelola perekonomian, membangun interaksi kemasyarakatan, menyelesaikan berbagai perkara dan perselisihan yang terjadi di masyarakat dengan hukum Islam serta menegakkan kekuasaan dan sistem yang menerapkan syariah Islam.

Padahal yang dituntut dan diperintahkan oleh syariah adalah agar kita mewujudkan cinta dan ittiba' kepada Nabi saw. sesempurna mungkin. Kita dituntut untuk mewujudkan cinta dan ittiba' kepda Nabi saw. secara totalitas (kaffah).

Allah SWT memerintahkan agar kita mengambil apa saja yang Nabi saw. bawa dan meninggalkan apa saja yang beliau larang:

] … وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ [

Apa saya yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah; apa saja yang dia larang atas kalian, tinggalkanlah; dan bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya (TQS al-Hasyr [59]: 7).

 Maknanya, apapun yang beliau perintahkan, lakukanlah; apapun yang beliau larang, jauhilah (Imam Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur'an al-'Azhim).

Menerima apa saja yang Nabi saw. bawa dan menjauhi apa saja yang beliau larang hakikatnya adalah mengambil seluruh syariah yang beliau bawa dalam segala aspeknya sebagai pedoman. Hal itu bukan hanya Allah SWT perintahkan, namun juga Allah SWT jadikan sebagai bukti kebenaran iman.

] فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[

Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara apapun yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS an-Nisa'. [4]: 65).

 Imam ath-Thabari menjelaskan makna ayat tersebut: Falâ maknanya tidak seperti yang mereka klaim, bahwa mereka beriman kepada kamu, tetapi mereka berhukum kepada thaghut dan berpaling dari kamu saat mereka diseru. 'Demi Rabb-mu', ya Muhammad, 'mereka tidak beriman’, yakni tidak membenarkan Aku, engkau dan apa pun yang Aku turunkan kepada engkau, 'sampai mereka menjadikan engkau hakim dalam semua perkara yang mereka perselisihkan (Imam ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabar').

Sepeninggal Nabi saw., menjadikan beliau sebagai hakim tidak lain adalah dengan menjadikan syariah yang beliau bawa sebagai hukum untuk memutuskan segala perkara yang terjadi. Itu berarti menerapkan syariah Islam secara totalitas dalam semua urusan. Untuk itu mutlak memerlukan kekuasaan. Rasul saw. pun telah mencontohkan bagaimana beliau memohon kekuasaan kepada Allah SWT untuk mewujudkan hal itu.

)… وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا(

...dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong (TQS al-Isra' [17]: 80).

 Imam Qatadah menjelaskan, "Nabi saw. menyadari bahwa tidak ada daya bagi beliau dengan perkara ini kecuali dengan sulthan (kekuasaan). Karena itu beliau memohon kekuasaan yang menolong untuk Kitabullah, untuk hudud Allah, untuk kewajiban-kewajiban dari Allah dan untuk tegaknya agama Allah (Imam ath-Thabari, Tafsir ath-Thabari).

Kekuasaan itu tidak ada artinya jika bukan sulthan[an] nashir[an] (kekuasaan yang menolong). Kekuasaan yang menolong itu hanyalah kekuasaan yang sedari awal memang ditujukan untuk menolong agama Allah SWT, Kitabullah dan untuk menegakkan syariah-Nya. Kekuasan seperti ini hanyalah kekuasaan yang Islami sejak dari asasnya, bentuknya, sistemnya, hukumnya, perangkat-perangkatnya, struktur dan semua penyusunnya.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here