Melawan Islamophobia - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 2, 2020

Melawan Islamophobia


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)

Berbagai fakta terbaru terkait Islamophobia sejumlah petinggi negara Eropa membela Presiden Prancis Emmanuel Macron dari sejumlah kecaman. Sebelumnya, Macron menjadi sorotan dunia lantaran ucapannya yang dinilai menyudutkan umat Islam. Tentu saja hal ini menyadarkan kita umat Islam terhadap sejumlah hal. Pertama: kaum kafir penjajah sesungguhnya tidak akan pernah berhenti memusuhi Islam dan umatnya. Penghinaan dan penganiayaan terhadap umat Islam yang hidup di negeri Barat adalah wujud nyata dari pertarungan peradaban (clash of civilization). Propaganda mereka di tengah-tengah umat Islam seperti demokrasi, HAM, kebebasan, dialog antarperadaban dan sebagainya sejatinya merupakan peluru mereka untuk memenangkan pertarungan tersebut. Gerakan anti-Muslim oleh para politisi Barat seperti yang ditunjukkan oleh Breivik di Norwegia, pelarangan jilbab atau burqa, pengawasan masjid, pembakaran al-Quran dan sikap diskriminatif lainnya merupakan jurus handal mereka untuk mencegah pertumbuhan ideologi dan sistem hukum Islam.

Kedua: sikap Islamophobia, xenophobia dan sikap diskriminatif Barat terhadap umat Islam pada dasarnya merupakan indikasi kekalahan Barat secara intelektual. Mereka tidak mampu membendung gelombang kebangkitan Islam yang diindikasikan dengan banyaknya warga Barat yang masuk Islam. Sebagaimana diketahui, saat ini Islam merupakan agama yang paling cepat perkembangannya di Eropa dan Amerika. Menurut Pew Research Center (2010), dalam 30 tahun terakhir jumlah kaum Muslim di seluruh dunia telah meningkat pesat hingga 300 persen sehingga menjadi 1,57 miliar jiwa. Eropa memiliki sedikitnya 38 juta Muslim yang membentuk lima persen dari total populasi benua tersebut. Di benua Amerika terdapat lebih dari 46 juta Muslim. Jumlah pemeluk Islam yang terus berkembang itu telah menyebabkan perubahan secara demografi. Pada beberapa wilayah, penduduk Muslim telah lebih banyak dibandingkan dengan pemeluk Kristen Protestan dan Yahudi. Majalah terkemuka L’Express (2010) dalam sebuah artikelnya bahkan berani memprediksikan bahwa dalam 20 tahun ke depan, Islam bisa menjadi agama dominan di ibukota Brussel, Belgia.

Sistem Kapitalisme telah terbukti gagal dalam menyelesaikan problem ekonomi, sosial, budaya, hukum dan politik. Karena itu, secara argumentatif mereka tidak mampu lagi menolak kecemerlangan sistem Islam. Mereka lalu mengambil jalan pintas yang memalukan, yakni sikap diskriminatif dan teror fisik terhadap kaum Muslim yang hidup di negara-negara Barat.

Ketiga: Islam dan umatnya akan tetap mengalami penistaan dan penghinaan oleh negara-negara Barat selama Islam dan umatnya tidak memiliki benteng sebagai pelindung mereka. Benteng tersebut tidak lain adalah sebuah institusi negara yang mempersatukan mereka di seluruh dunia, yakni Khilafah Islamiyah. Institusi tersebut akan menjadi pemersatu dan pelindung umat dari segala ancaman dan penistaan. Itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah saw. melalui sabdanya:

اَلإِمَامُ جُنَّةٌ يَقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهَ وَ يُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah laksana tameng (perisai), orang-orang berperang di belakangnya dan belindung dengannya (HR al-Bukhari dan Muslim).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here