Menunggu Peran Militer Dunia Islam Dalam Upaya Membela Negeri-Negeri Islam Yang Tertindas - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 2, 2020

Menunggu Peran Militer Dunia Islam Dalam Upaya Membela Negeri-Negeri Islam Yang Tertindas



Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)

Berdasarkan situs data statistik militer dunia, Global Power Fire (GPF) tahun 2020 menunjukkan Indonesia termasuk dalam negara dengan kekuatan militer yang diperhitungkan dunia. Dari 137 negara, kekuatan militer Indonesia berada di peringkat 16. Indonesia mengalahkan banyak negara maju, antara lain Arab Saudi (peringkat 17) Israel (peringkat 18) Australia (peringkat 19), dan salah satu negara yang selama ini ditakuti, yakni Korea Utara. Dari data GPF, Indonesia yang berpenduduk 262 juta memiliki 800 ribu personel militer yang terdiria atas 400 ribu tentara aktif dan 400 ribu tentara cadangan sebagaimana dikutip dari sindonews.com.

Catatan:

Seharusnya keberadaan militer di Indonesia termasuk dunia Islam dapat melindungi nasib umat Islam dari berbagai bahaya yang mengancam mereka. Sayang, kondisinya saat ini belum optimal dalam mewujdkan cita - cita tersebut.

Militer dianggap belum berperan membela negeri-negeri Islam yang tertindas seperti di Suriah, Palestina, Rohingya, Uighur dan sebagainya. Misalnya untuk kasus penghancuran Aleppo, observatorium Suriah untuk HAM mengatakan lebih dari 50.000 orang dari sekitar seperempat juta penduduk kota itu telah mengungsi akibat serangan terhadap wilayah Aleppo Timur. Duta Besar Prancis untuk PBB, Francois Delattre, mengatakan bahwa Aleppo menjadi salah satu pembantaian terbesar terhadap penduduk sipil sejak Perang Dunia II. Warga Aleppo Timur juga telah melaporkan penggunaan amunisi bom cluster, yakni bom yang berisi ratusan bom-bom kecil yang meledak dan terbakar di wilayah yang luas sehingga membakar seluruh lingkungan yang dibom.

Semua kejahatan tersebut terjadi di hadapan para penguasa negeri Islam yang berbatasan dengan Suriah seperti Yordania, Arab Saudi dan Turki. Negeri-negeri tersebut memiliki militer dan persenjataan yang kuat, namun tidak digunakan untuk membela umat Islam yang dizalimi di Aleppo. Sebagaimana yang diberitakan oleh islammemo.cc (30/8/2016) bahwa Vladimir Putin dan John Kerry telah sepakat untuk melancarkan operasi bersama antara Amerika Serikat dan Rusia melawan faksi-faksi pejuang revolusi di Aleppo Utara. Ini menjadi bukti bahwa pembantaian umat Islam di Aleppo adalah hasil operasi militer AS dan Rusia. Sangat memilukan karena pembantaian itu terjadi di hadapan para penguasa negeri Islam yang hanya meletakkan militer dan senjatanya di barak mereka.

Hal serupa juga menimpa etnis Muslim Rohingnya yang digempur oleh militer Myanmar menggunakan helikopter, meriam dan tank. Daerah yang menjadi sasaran adalah Myaw Taung, Dargyizar, Yekhechaung Kwasone, Pwinpyu Chaung, Thu Oo La, Longdun, Kyin Chaung, dan Wabaek di utara Maungdaw yang memang dihuni oleh komunitas Muslim di sana. Warga yang mencoba melarikan diri dihadang dan ditembak di sawah-sawah dan sungai. Bahkan sebagian korban dikurung dan dibakar hidup-hidup di kampung Yekhechaung Kwasone. Organisasi Nasional Arakan Rohingya memperkirakan sejak ketegangan meletus di Rakhine 9 Oktober lalu, korban di pihak Rohingya mencapai 350 orang meninggal dan 300 orang lainnya cedera. Arab News (30/10/2016) melaporkan bahwa setidaknya delapan perempuan dari desa U Shey Kya, Rakhine, telah ditangkap dan diperkosa oleh militer Myanmar di bawah todongan senjata.

Para penguasa negeri Islam hanya mengutuk peristiwa pembantaian di Rohingnya tersebut. Padahal semestinya mereka menggerakkan militernya untuk mencegah dan menghukum militer Myanmar yang telah melakukan kezaliman secara sadis terhadap etnis Muslim Rohingnya.

Padahal militer bagi suatu negara memiliki peran yang sangat penting dan strategis. Di antaranya adalah untuk menangkal setiap bentuk ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah serta keselamatan rakyat dan negara. Dalam sejarah Islam yang panjang, Khilafah Islamiyah pun telah menjadikan militer sebagai salah satu penopang utama aktivitas dakwah Islam ke seluruh dunia. Karena itu sangat terkenal pada masa itu bahwa politik luar negeri negara Khilafah adalah dakwah dan jihad. Namun, kondisi umat Islam sejak keruntuhan Khilafah terus mengalami degradasi hingga saat ini. Umat ini terpuruk hampir di segala bidang, termasuk di bidang keamanan. Sangat tragis, militer yang dulu diarahkan untuk menjaga keamanan dan keselamatan umat Islam, kini tidak digunakan oleh rezim sekular di negeri-negeri Islam untuk melindungi tumpah darah umat Islam.

Peristiwa disintegrasi Sudan Selatan dan Timor Timur itu terjadi di hadapan militer Sudan dan Indonesia. Namun, militer tidak mampu menghalangi disintegrasi tersebut karena penjajah Barat "seakan memborgol" para penguasa melalui berbagai perjanjian yang berujung pada referendum. Padahal jelas sekali bahwa disintegrasi tersebut akan memperlemah dan memecah belah negeri-negeri Islam.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here