MUI Baru dan Masa Depan Umat Islam - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, November 28, 2020

MUI Baru dan Masa Depan Umat Islam


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Pada Munas X MUI, KH Miftakhul Akhyar terpilih menjadi ketua umum MUI untuk periode 2020-2025. Beliau terpilih dari 17 tim formatur (www.kompas.com, 27 Nopember 2020).

Selanjutnya jajaran pengurus baru MUI pun diumumkan. Sejumlah nama lama di jajaran kepengurusan MUI tidak tercantum. Beliau adalah Prof Din Syamsuddin, Tengku Zulkarnaen, Ustadz Bachtiar Nashir, dan Ustadz Yusuf Martak. Artinya bisa dikatakan ada refresh kepengurusan MUI. 

Dari aspek keorganisasian tentunya refresh jajaran kepengurusan adalah hal yang biasa. Di samping ada suasana baru, laju organisasi diharapkan akan lebih improve dibanding kondisi sebelumnya. 

Hanya saja adalah kewajaran bila timbul tanda tanya terhadap jajaran nama pengurus lama yang tidak masuk kedalam kepengurusan MUI yang baru. Notabenenya beliau-beliau sudah dikenal termasuk ulama dan cendekiawan yang kritis kepada kebijakan pemerintah. Apakah MUI akan dibersihkan dari tokoh-tokoh yang kritis terhadap pemerintah?

Adalah Ustadz Bachtiar Nashir dan Ustadz Yusuf Martak termasuk penggerak aksi 411 dan 212 dalam kasus Ahok. Beliau berdua berada dalam GNPF MUI. Begitu pula Tengku Zulkarnaen yang dikenal sangat kritis. Sementara itu Prof Dien Syamsuddin sendiri termasuk jajaran penggerak KAMI (Komite Aksi Menyelamatkan Indonesia). 

Sedangkan jabatan Ketua Wantim MUI diserahkan kepada Wapres, KH. Makruf Amien. Sebelumnya jabatan Ketua Wantim MUI dipegang oleh Prof Dien Syamsuddin. Pertanyaannya, bukankah tugas sebagai Wakil Presiden itu sudah berat? Mestinya beliau bisa lebih fokus untuk mengurus persoalan kenegaraan yang saat ini memang lagi banyak menghadapi banyak masalah, terutama pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir. 

Muncul kesan bahwa pemerintah ingin mengendalikan MUI. Kalau kita mau menilik ke belakang, beberapa fatwa MUI bisa dinilai berseberangan dengan pemerintah. Ambil contoh fatwa MUI terkait RUU HIP. 

Fatwa MUI terkait RUU HIP telah melahirkan gelombang besar aksi massa menolak RUU HIP. Bisa dikatakan bahwa penolakan terhadap RUU HIP layaknya tsunami politik. Hasilnya efektif, pembahasan RUU HIP ini tidak dilanjutkan. 

Indikasi berikutnya adalah pesan yang disampaikan oleh Wapres dan Menteri Agama terhadap kepengurusan baru MUI ini. MUI ke depannya agar semakin bisa menguatkan Islam jalan tengah. Wujudnya adalah dengan menggalakkan program moderasi Islam.  

MUI itu sejatinya adalah wadah bagi para ulama. Sedangkan ulama itu sendiri adalah pewaris Nabi Saw. Dari Abu Darda ra, Nabi Muhammad Saw telah bersabda:

ان العلماء ورثة الانبياء، وان الانبياء لم يورثو دينارا ولا درهما وان يورثو العلم ومن اخذه اخذ بحظ وافر، او كما قال. 
Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Sesungguhnya para nabi telah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan ilmu, tentunya ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.

Seorang ulama menyadari betul konsekwensi dari mengambil warisan ilmu dari para nabi. Melaksanakan dan menyebarluaskannya adalah konsekwensi keilmuwan para ulama. Dengan kata lain, konsekwensi ilmu adalah dengan mendakwahkannya. Oleh karena itu terkait pemahaman agama tentunya para ulama yang menjadi sandarannya. Bukankah Allah SWT menyatakan dalam firmannya sebagai berikut ini. 

فاسئلوا اهل الذكر ان كنتم لا تعلمون
Maka bertanyalah kepada ahlinya al-qur'an, jika kamu tidak mengetahui (Surat an-Nahl ayat 43).

Yang dimaksud dengan ahlinya al-qur'an adalah para ulama. Para ulama itu ibarat pelita di tengah gelap gulita. Jadi adalah hal yang sia-sia bila kita menggarami lautan yang sudah asin.

Walhasil, ulama memegang peran yang penting dalam kehidupan kaum muslimin. Ulama yang menjadi panutan umat memiliki beberapa kriteria sebagai berikut ini. 
Pertama, ulama itu mempunyai keimanan dan ketaqwaan yang tinggi kepada Allah SWT.  Di samping itu memliki pengetahuan keilmuwan Islam yang mumpuni. Dengan begitu seorang ulama akan sangat berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa hukum. Dengan ketaqwaannya, seorang ulama menyadari betul konsekwensi dari berfatwa sembarangan. Nabi Saw bersabda:

اجرئكم على الفتيا اجرئكم على النار
Kalian yang serampangan dalam berfatwa, kalian adalah orang yang berani untuk dimasukkan ke dalam neraka. 

Kedua, seorang ulama akan senantiasa melakukan aktifitas amar makruf dan nahi munkar. Seorang ulama akan senantiasa menentang kedholiman. Bahkan seorang ulama akan melakukan koreksi kepada penguasa. Demikianlah yanh dicontohkan oleh para ulama salafush sholih. 

Adalah al-imam Ahmad bin Hanbal harus merasakan jeruji besi penguasa. Beliau menolak memfatwakan akan kemakhlukan al-Qur'an. Begitu pula, Said bin Jubair yang harus menemui syahid di tangan Hajaj bin Yusuf yang diktator. Dan masih banyak ulama lainnya yang istiqomah dan sabar menghadapi ujian dalam dakwahnya.

Ketiga, Ulama itu tidak akan memperbesar hal-hal yang termasuk furu khilafiyah (hal-hal fiqih yang boleh berbeda ijtihad). Dalam hal-hal tersebut, mereka sangat toleran. 

Adalah Imam Ahmad bin Hanbal saat ditanya, mengapa mau bermakmum kepada orang yang berbekam tapi belum berwudhu? Maka Imam Ahmad menjawab:"Apa yang menghalangimu untuk menjadi makmum dari Said bin Musayib?". Padahal Imam Ahmad sendiri berfatwa bahwa orang yang berbekam wajib berwudhu bila akan melakukan sholat. 

Keempat, Ulama itu adalah sosok yang tidak akan condong kepada kedholiman. Allah SWT berfirman:

ولا تركنوا الى الذين ظلموا فتمسكم النار
Janganlah kalian condong kepada orang-orang dholim, maka oleh karenanya, kalian disentuh oleh api neraka (Surat Hud ayat 113).

Lafadz wala tarkanu itu bermakna janganlah cenderung. Artinya kita dilarang oleh Allah SWT untuk ridho kepada orang-orang dholim. Ridho di sini adalah bentuk kecenderungan. 

Kongklusinya barangsiapa yang meridhoi orang-orang dholim itu artinya meridhoi kedholiman mereka. para ulama panutan bukanlah sosok yang cenderung kepada kedholiman dari mana saja dan dari siapa saja. Para ulama tidak akan meridhoi kedholiman dari orang biasa maupun orang besar, dari rakyat maupun penguasa.

Walhasil mengutip Prof Dien Syamsuddin bahwa fungsi MUI adalah sebagai pelayan umat dan mitra kritis pemerintah. Oleh karena itu para ulama yang ada di MUI maupun yang di luar MUI untuk saling bersinergi dalam membina umat Islam dengan petunjuk yang bersumber dari al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saw serta sumber yang ditunjukkan keduanya. Membimbing umat agar melaksanakan seluruh ajaran Islam di seluruh aspek kehidupannya. Membentengi umat dari persepsi-persepsi, ide-ide, dan pemahaman-pemahaman yang bersumber dari Ideologi selain Islam, yang hanya menjauhkan umat dari petunjuk Islam yang murni dan paripurna. 

# 28 Nopember 2020


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here