Pel*cur - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, November 18, 2020

Pel*cur


 Gus Uwik 


Saat ini ramai orang membincangkan pelacur. Atau dalam istilah kasarnya lonte. Dalam fiqih Islam, sudah dijelaskan apa definisi pelacur, siapa yang terkategori pelacur dan apa hukumnya bagi dia. Bahkan dalam Al-Qur'an menjelaskan dengan tegas bagaimana hukumannya. Sangat berat sekali. Bagi pelacur yang sudah nikah maka hukumannya adalah di rajam hingga mati. Dan bagi yang belum menikah, hukumannya di cambuk sebanyak 100 kali. Dahsyat. Hukuman pun wajib dilaksanakan tanpa kasihan.


Motif pelacuran, saat ini banyak yang karena faktor ekonomi. Walau ada faktor lainnya. Demi uang, perhiasan atau bahkan kehidupan glamor rela menjual kehormatan diri. Tak peduli lagi halal-haram, surga-neraka, apalagi ingat Tuhannya.


Selain itu, secara sosial maka pelacur akan mendapat cap jelek dan sanksi sosial. Entah itu berupa dikucilkan, pembatasan interaksi, dll. Wajar, karena perilakunya jelas sebagai perusak moral dan kehidupan. Semua sudah paham bagaimana daya rusak pelacuran itu terhadap individu, keluarga, masyarakat bahkan negara. Sungguh sangat mengerikan.


Dan, jikalau ada pelacur yang masih hidup "namun tidak dalam proses taubatan nasuha" maka sejatinya dirinya adalah mayat yang hidup. Adanya adalah seperti tidak adanya. Karena sejatinya dia seharusnya sudah mati karena di rajam. 


*


Ada lagi jenis pelacur. Daya rusaknya juga sama-sama dahsyat. Bahkan bisa jadi lebih dahsyat dari pelacur di atas. Apa itu? Ya, "pelacur politik." Orang yang rela menjual agama dan keyakinannya demi mendapatkan kekuasaan dan jabatan. Rela menyuap, memakai klenik/menggadai iman dan aktivitas haram lainnya demi mendapatkan itu semua. Halal dan haram bukan lagi sebagai patokan. Tuhan di anggap tidak ada. Dosa dan pahala di anggap angin lalu. Apalagi surga-neraka. Mereka tahu itu semua, namun disaat yang sama mereka abaikan semua. Demi kenikmatan sekerat daging dunia. Termasuk juga didalamnya orang-orang yang menjual asset dan kekayaan negara pada asing/aseng. Sejatinya, sama saja, pelacur politik. Seharusnya itu semua  untuk rakyat.


Anehnya, dalam alam demokrasi seperti saat ini pelacur politik di anggap sebagai aktivitas yang lumrah dan biasa. Menduduki jabatan/kekuasaan dengan cara itu di anggap hal yang lumrah. Dan bahkan orangnya malah ada yang dianggap sebagai pahlawan politik bahkan negara. Menyedihkan memang. Padahal mereka melakukan perbuatan keji, kotor lagi nista. Namun semua diam bahkan mengaminkan.


Pelacur politik dalam demokrasi adalah hal yang wajar. Karena watak demokrasi adalah asas manfaat dan sekulerisme. Dengan ini mereka 'sah' melakukan apa saja, walau melabrak halal-haram. So, syariat agama adalah musuhnya. Pasti bertolak belakang. Disamping itu pelacur politik juga semakin mengokohkan OLIGARKI.


Inilah daya rusak lain dari demokrasi. Muncul dan tumbuh suburnya 'pelacur politik.'

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here