Pengangguran Naik, Rakyat Panik - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, November 24, 2020

Pengangguran Naik, Rakyat Panik


Lukman Noerochim (stafsus Forkei)

Indef memprediksi, jumlah pengangguran akan bertambah 3,6 juta jiwa, menjadi 10,4 juta jiwa pada 2021 dengan persentase 7,8 persen dari 4,99 persen. Rinciannya berasal dari 2,5 juta angkatan kerja baru yang tidak terserap optimal dan 1,1 juta angkatan kerja yang masih belum terserap akibat dampak Covid-19. Adanya penambahan pengangguran ini membuat angka kemiskinan naik di atas 2 digit.

Berbagai problem kemiskinan yang terus mendera bangsa ini merupakan ujian sekaligus pelajaran berharga untuk disikapi dengan bijak. Berdasarkan fitrah manusia selayaknya menjadi kewajiban seorang ayah menghidupi nafkah keluarganya, apabila ada sebuah keluarga dirundung kemiskinan maka yang paling utama memberikan respon adalah kerabat atau tetangganya, jika tidak mampu maka tanggung jawab beralih kepada masyarakat atau warga sekitar yang mampu secara ekonomi. Dan apabila juga tidak sanggup maka semuanya diserahkan lepada pemerintah yang tentu mempunyai kapasitas dan tanggung jawab lebih dibanding yang lainnya. 

Dalam istilah Islam, maka dana bisa diambil dari baitul mal atau kas negara yang memang telah dipersiapkan untuk hal-hal darurat. Sayang dan anehnya institusi atau departemen yang mengurusi bidang-bidang ini ternyata kurang terlihat atau bahkan tidak bergerak cepat ditengah masyarakat yang memang sangat membutuhkan.

Berkaca dalam lintasan sejarah peradaban Islam telah memberikan pelajaran bagaimana yang ditunjukkan dalam jaminan pemenuhan kebutuhan hidup ini kepada semua warga negara tanpa melihat agamanya; tercatat dalam piagam kesepakatan pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq ra. yang ditulis oleh Khalid bin Walid untuk menduduk Hirah di Irak yang beragama Nasrani, disebutkan: “Saya tetapkan bagi mereka, orang yang lanjut usia yang sudah tidak mampu bekerja atau ditimpa suatu penyakit, atau tadinya kaya kemudian jatuh miskin, sehingga teman-temannya dan para penganut agamanya memberi sedekah; maka saya membebaskannya dari kewajiban membayar jizyah. Dan untuk selajutnya dia beserta keluarga yang menjadi tanggungannya, menjadi tanggungan Baitul Mal kaum Muslim.”

Adanya kesenjangan kaya miskin di era saat ini adalah buah dari diterapkannya sistem Kapitalisme yang sangat individualis berdampak tererosinya rasa kepedulian dan tolong-menolong. Dalam pandangan kapitalis penanggulangan kemiskinan merupakan tanggungjawab si miskin itu sendiri, kemiskinan bukan merupakan beban bagi masyarakat/ umat, negara atau kaum hartawan. Inilah pandangan yang harus dihilangkan dan dijauhi masyarakat. Sudah saatnya kita mencari dan menerapkan sistem alternatif yang shahih selain Kapitalisme, tanpa perlu ada tawar menawar lagi, jika benar-benar berkomitmen untuk mengakhiri episode kemiskinan ini.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here