Proyek Ambisius China Rentan Patah


Umar Syarifudin (Pengamat Politik Internasional)

Laporan Institute of Keuangan Internasional (IIF) menyebut utang perusahaan non-keuangan di China naik menjadi lebih dari 165 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal III 2020. Posisi itu lebih tinggi dibandingkan 150 persen dari PDB pada kuartal yang sama tahun lalu. Pertumbuhan utang tersebut, tidak hanya yang tertinggi di antara negara-negara berkembang, tetapi juga telah melampaui semua pasar maju. Sementara itu, total utang China di sektor rumah tangga, pemerintah, dan perusahaan non-keuangan naik menjadi hampir 290 persen dari PDB pada kuartal III 2020. Jumlah tersebut naik dibanding 255 persen dari PDB pada periode yang sama tahun lalu. Utang ini tidak termasuk utang keuangan untuk menghindari potensi penghitungan ganda. (cnnindonesia.com, 24/11/2020)

Sebelumnya kebijakan Bank Sentral China membuat perang mata uang global (currency war) semakin berkecamuk. Sebagaimana diketahui, sejumlah bank sentral melakukan berbagai langkah untuk memperlemah mata uang mereka baik dengan menurunkan tingkat suku bunga ataupun meningkatkan pasokan uang beredar. kebijakan tersebut semakin memanaskan hubungan antara kedua negara raksasa tersebut. Bagi China, mencegah pelemahan ekonomi di negara tersebut jauh lebih berbahaya ketimbang memburuknya hubungan dengan AS.

Adapun penyebab turunnya pertumbuhan ekonomi China melambat dan ekspornya adalah meningkatnya ekspor negara-negara Asia lainnya ke AS, seperti Singapura, Korea Selatan, Jepang dan Taiwan yg keseluruhannya telah meningkat 9%, sementara ekspor Cina menurun 9%.  Sejauh ini AS baik-baik saja dalam menggunakan sekutunya di Pasifik Tenggara untuk mengendalikan Tiongkok dengan mengurangi ekspornya. Keuntungan lain yang dimiliki Amerika terhadap Cina adalah bahwa Cina sangat bergantung pada investasi luar negeri yg berteknologi Amerika, yang mana peralatan teknologi manufaktur buatan Cina masih dibawah standar yg dari manufaktur Amerika. Cina menyelesaikan ini melalui pelanggaran hak-hak IP karena itu, China bergantung pada AS dan menempatkan Cina pada posisi yang lebih lemah.

Adapun proyek Belt and Road Initiatives (BRI) Cina tidak lebih dari rancangan semu, karena meminjamkan miliaran dolar ke beberapa negara untuk proyek infrastruktur, yang sebenarnya digunakan untuk membayar pekerja Cina di negara yang diinvestasikan untuk membayar konstruksi. Uang itu kemudian dikembalikan ke kantong orang-orang Cina, selain itu tidak menerima satu sen pun, seperti misalnya CPEC di mana Pakistan masih belum mendapatkan keuntungan dari investasi Cina di negara itu.

China membangun institusi dan mendirikan proyek BRI diasamping memiliki aspirasi global, adalah upaya yg menyedihkan untuk menghadapi AS di kawasan Asia.  Masalah dengan semua ini adalah bahwa ini merupakan cara pragmatis untuk mengatasi AS.  Amerika menjadi negara adikuasa, telah mengeksploitasi dunia melalui hegemoni ekonomi sejak 1950-an, karenanya, dunia sudah berhutang budi kepada AS dan di bawah hegemoni dolar.  Oleh karena itu tidak masuk akal bagi seluruh dunia untuk bergerak ke China, karena tidak menawarkan sesuatu yang baru. Sistem kapitalisme global ini diciptakan oleh Amerika pasca-Perang Dunia II, yang telah melanggar kedaulatan setiap negara dan membuatnya bergantung pada Amerika.

Cina mencoba menggunakan diplomasi perangkap utang untuk mendapatkan pengaruh terhadap negara-negara di seluruh Asia dan Afrika yang mana pengaruh tersebut akan segera terjadi.  Negara yang telah masuk kedalam perangkap utang Cina diantaranya Sri Lanka dan Maladewa. Sri Lanka misalnya, dengan pinjaman dari Cina sebesar $ 1,12 miliar untuk infrastruktur, akhirnya China berhasil menguasai Merchant Port Holdings Limited (CM Port) dengan menyewa selama 99 tahun, hal ini disebabkan oleh karena Sri Lanka tidak lagi mampu membayar utangnya yang diberikan oleh pemerintah Cina.

Oleh karena itu pada dasarnya China tidak menawarkan sesuatu yang baru kepada dunia, melainkan benar-benar membuatnya berputar-putar dalam sistem Amerika dan hanya sekedar berganti nama saja. Bahkan alternatif ekonomi baru yang ditawarkan Cina ke berbagai negara dengan menawarkan pinjaman untuk pembangunan pelabuhan dan kereta api sangat mengingatkan kita pada kerajaan kolonial Inggris. China melalui pinjaman akan mencoba menciptakan “perangkap utang” untuk mendapatkan pengaruh atas negara-negara dan menggunakan pengaruh ini untuk kepentingan politiknya sendiri, negara-negara seperti Sri Lanka dan Maladewa telah tersentuh oleh proyek BRI neo-kolonial Tiongkok, dan sekarang menderita  konsekuensinya.  CPEC juga mengarah ke jalan yang sama, di mana utang Pakistan ke Cina lebih banyak jika dibandingkan dengan utangnya terhadap Amerika.

Perang dagang telah menyeret dunia ke dalam perang mata uang, dan sekarang semua orang telah ikut serta dalam pemotongan suku bunga.  Pemotongan suku bunga dan devaluasi mata uang menyebabkan inflasi di mana setiap negara telah mulai menderita, contoh sempurna dari dilema saat ini di kawasan Asia adalah Pakistan.  Selain itu, India juga telah merasakan tekanan dari perang dagang, di mana pengangguran lebih tinggi dari sebelumnya dan pertumbuhan PDB telah merosot ke level terendah 6 tahun sebesar 5% dan inflasi juga melanda. Ini telah mengakibatkan investor asing menarik diri dari Foreign Direct Investment mereka.  Uni Eropa juga telah menghadapi tarif dari AS tentang airbus dan anggur Prancis, menurut presiden AS Trump, UE tidak adil untuk waktu yang lama mengenai perdagangan dengan AS. Bahkan Turki menghadapi inflasi dan harga-harga komoditas yang diperlukan seperti harga teh dan gas telah meningkat secara signifikan dan pemerintah memiliki sejumlah opsi yang terbatas untuk mengubahnya.

Kepala ekonom OECD Laurence Boone mengatakan: “Tatanan global yang mengatur perdagangan telah hilang dan kita berada di era baru yang kurang pasti, lebih bilateral, dan terkadang hubungan perdagangan yang asertif.”

Rencana serangan Trump bukan hanya menyakiti China, tetapi juga dunia melalui perang dagang saat ini dan merobohkan standar protokol perdagangan yang telah ada sejak Amerika naik ke panggung global.  Bahkan jika Trump kalah dalam pemilihan, sistem perdagangan global masih akan membutuhkan penyelarasan karena kerusakannya di luar jangkauan.  Trump dan pemerintahannya telah kehilangan harapan dalam sistem global perdagangan bebas liberal, menurut pemerintah AS, Amerika tidak mendapatkan banyak manfaat, dibandingkan dengan yang lebih menjadi korbannya.

Disamping beban utang yang besar, meskipun memiliki kekayaan alam yang berlimpah, tetap saja ketergantungan negara tersebut terhadap impor terutama bahan baku industri cukup tinggi seperti: minyak bumi, gas dan batubara, biji logam dan sirkuit elektronik. Sebagai negara terbuka, Tiongkok sangat bergantung pada perdagangan luar negeri. 

Walhasil, kerapuhan ekonomi Tiongkok sejatinya tidak banyak berbeda dengan negara-negara kapitalis lainnya seperti Amerika dan negara-negara di kawasan Uni Eropa. Tanpa ada perubahan yang fundamental terhadap sistem ekonomi di negara tersebut, ‘awan hitam’ yang menyelimuti perekonomian terbesar kedua dunia itu dapat berubah menjadi krisis yang akan kembali mengguncang perekonomian dunia.

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS ar-Rum [30]: 41)


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post