RAND Corp. Dan Agenda Westernisasi - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, November 24, 2020

RAND Corp. Dan Agenda Westernisasi


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)

Adalah lembaga "RAND Corporation" yang didirikan pada tahun 1948, dalam bidang politik luar negeri, di mana pada awalnya hanya difokuskan pada Uni Soviet. Namun, kemudian ruang cakupannya diperluas meliputi wilayah-wilayah lain di dunia. Setengah dari aktivitas lembaga ini fokus pada pertahanan dan keamanan nasional, dan setengahnya lagi fokus pada kebijakan dalam masalah-masalah lokal di bidang pengembangan sosial dan ekonomi.

Proyek ini bermula dari kebutuhan Departemen Pertahanan Amerika (Pentagon) untuk membangun Pusat Penelitian yang bekerja untuk memberikan arahan dan masukan bagi pertahanan Amerika. Dan bekerja sebagai konsultan di beberapa proyek lembaga ini adalah mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, Brent Scowcroft, serta tiga mantan pejabat dari Departemen Pertahanan AS, yaitu Harold Brown, Frank Carlucci dan William Perry. Sehingga "RAND Corporation" ini mencerminkan sebagai model yang jelas dan langsung dalam berbagai kontrak penelitian (atau para kontraktor pemerintah) bersama dengan Departemen Pertahanan AS.

Charlie Benard–Peneliti Yayasan "RAND"-telah membuat laporan hasil penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2004. Di mana dalam laporannya itu ia mengklasifikasikan "Islam Politik" menjadi beberapa bentuk, dan yang paling penting adalah "Islam Moderat".

Pada tahun 2007,  Yayasan "RAND" menerbitkan sebuah hasil penelitian komprehensif tentang "Building Moslem Moderate Network, Membangun jaringan kaum Muslim moderat di dunia Islam". Penelitian ini melibatkan empat peneliti, yang dipimpin oleh Cheryl Benard, Angel Rabasa, Lowell H. Schwartz dan Peter Sickle.

Penelitian ini dimulai dari teori dasar bahwa konflik dengan dunia Islam dasarnya adalah "pergolakan pemikiran." Dan tantangan utama yang dihadapi Barat adalah apakah dunia Islam akan berdiri melawan gelombang jihad fundamentalis, atau akan jatuh korban akibat kekerasan dan intoleransi.

Teori Barat ini dibangun atas dua faktor utama: "Pertama, bahwa meskipun kuantitas para aktivis Islam radikal besar di dunia Islam, namun pengaruh dan akses mereka hanya di wilayah-wilayah berpenduduk Muslim, baik di Eropa atau Amerika Utara. Kedua, lemahnya arus gerakan Islam moderat dan liberalisme karena tidak memiliki jaringan luas di seluruh dunia seperti yang dimiliki oleh kaum fundamentalis."

Berangkat dari teori ini, maka temuan penting penelitian ini adalah "Perlunya Amerika Serikat menyediakan dan memberikan dukungan bagi para aktivis Islam moderat dengan membangun jaringan yang luas, serta memberikan dukungan materi dan moral kepada mereka untuk membangun sebuah benteng guna melawan jaringan fundamentalis."

Penelitian ini mengatakan bahwa para pembuat kebijakan di Amerika menghadapi tiga tantangan utama yang sama sekali berbeda dengan apa yang terjadi selama Perang Dingin: Tantangan pertama adalah kesulitan memilih antara strategi bertahan (defensif) atau menyerang (ofensif). Dalam hal ini, beberapa orang lebih suka untuk menggunakan strategi menyerang (ofensif) dalam rangka untuk mengacaukan rezim komunis di Eropa Timur dan bekas Uni Soviet, dengan cara menciptakan jaringan internal untuk menyerang semua pemerintahan komunis. Sementara beberapa orang lainnya masih meyakini pentingnya menggunakan strategi bertahan (defensif) dengan cara mengadopsi strategi al-ihtiwa'’ "penghadangan" melalui dukungan terhadap pemerintah demokratis di Eropa Barat, Asia dan Amerika Latin.

Tantangan kedua adalah bagaimana mekanisme mempertahankan kredibilitas para sekutu lokal di depan rakyat mereka karena hubungannya dengan AS. Oleh karena itu, mereka benar-benar berusaha untuk membuat jarak yang jelas antara setiap kegiatan mereka dan hubungannya dengan Washington.

Tantangan ketiga adalah terkait bentuk dan bangunan koalisi yang dapat dibangunnya dalam menghadapi Komunisme, yaitu apakah melalui hubungan dengan para mantan kaum sosialis yang telah berbalik melawan komunisme, namun mereka  juga masih kritis terhadap kebijakan luar negeri AS, atau masih mencari sekutu-sekutu yang lain? Pada akhirnya, AS terpaksa untuk membangun koalisi besar yang melibatkan semua orang yang mengkritik ideologi komunisme. Oleh karena itu, dibentuklah apa yang disebut dengan "Kongres untuk Kebebasan Budaya, Congress of Cultural Freedom".

Penelitian ini menunjukkan bahwa sekutu yang paling penting (potensial) dalam menghadapi apa yang disebutnya dengan "Islam radikal" adalah kaum Muslim liberal dan sekuler yang percaya pada nilai-nilai liberal Barat dan cara hidup masyarakat Barat modern. Bahkan "mereka bisa digunakan untuk melawan ideologi Islam militan dan radikalisme, serta dapat memiliki peran yang berpengaruh dalam perang pemikiran". Jadi inilah beberapa karakteristik kaum Muslim moderat menurut kaca mata Barat, yaitu "kaum liberal dan sekuler". Semua tahu bahwa dua karakteristik ini adalah bagian budaya Barat.

Namun penelitian ini menegaskan keharusan untuk menyediakan semua sumber pendanaan yang memungkinkan kaum moderat menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka, sehingga mereka mendapatkan para pendukung dan penolong dalam masyarakat Muslim, serta memberi dukungan politik dengan menekan pemerintah otoriter supaya memungkinkan mereka untuk bergerak bebas dan tanpa ada pembatasan.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here