Saat Bahasa Arab Dimarjinalkan Melalui Iklan Dan Propaganda - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, November 19, 2020

Saat Bahasa Arab Dimarjinalkan Melalui Iklan Dan Propaganda


Boedihardjo, S.H.I

Sudah menjadi hal yang lumrah di tengah masyarakat bahwa Media Sosial adalah alat yang paling efektif dalam mempengaruhi masyarakat dan perasaan mereka, lalu bagaimanakah jika media social itu bernama peradaban barat, yang hidup dan dan dapat berbicara? Apa yang akan terjadi jika seandainya kecendrungan  masyarakat beputar sesuai garis edar yang ditetapkan peradaban tersebut?

Tentu ini adalah bencana besar yang dilakukan oleh musuh Islam dan musuh bahasa Arab, mereka menggunakan cara ini untuk menyiarkan racun yang akan menggoyahkan akidah, mencabut keunikan dan keistimewaanya, dan bahkan mereka juga menstigmatisasi ummat Islam dengan kekerasan (dengan mencap mereka teroris) , mendzolimi hak-hak mereka terutama kaum perempuan. Sebuah upaya yang sengaja di lemparkan untuk merealisasikan rencana mereka yang keji agar menjauhkan agama dari kehidupan dan  hanya mengurusi urusan individu.

Sebagaimana kita lihat hari ini acara-acara di televisi sarat akan konten faham sekularisme, telah mengampanyekan sekularisme sebagai solusi bagi permasalahan kehidupan saat ini, dan kunci kemajuan peradaban. Di sisi lain acara-acara tesebut menyerang apapun yang identik denga hal-hal keIslaman, seperti masalah hijab, jenggot, tempat –tempat mengaji, ataupun konsep pendidikan Islam. Seharusnya, ini membuat kita merenung sejenak , mulai berfikir dan meyakinkan diri bahwa ini adalah perang yang nyata, yang menyerang dari semua sisi, dan media adalah salah satu alatnya, yang bertujuan untuk memaksakan penjajahannya, menyingkirkan peradaban Islam sehabis-habisnya karena jika Islam kuat barat aka resah, dan akan jumud berabad-abad .

Bahasa Arab tidak  bisa lolos dari serangan ini, karena media memiliki peran strategis  dalam memarjinalisasi  bahasa Arab melalui iklan dan propaganda, iklan-iklan ini (hasil dari sekularisme) telah meraup  banyak untung , konten iklan tersebut mengandung pesan untuk menjerat generasi kaum muslimin dengan tsaqafah mereka. Wlaupun antara dua peradaban ini (Islam dan barat) memiliki banyak perbedaan, akan tetapi kampanye-kampanye yang dihembuskan telah melebur dua peradaban ini yang menyebabkan masyarakat sulit membedakan kekhasan dua peradaban tersebut, dan pada kampanye-kampenye tersebut tidak pernah lengah untuk terus mempengaruhi ummat Islam, anak-anak, para pemuda yang membuat mereka mengikuti gaya hidup para artis dan penyanyi terkenal, bahkan menggunakan istilah asing yang bertentangan dengan akhlakul karimah.

Iklan adalah sebuah ajakan yang dapat diterima oleh khalayak baik secara audio maupun visual, untuk mengajak mereka membeli barang yang dijual atau jasa yang ditawarkan. Ini adalah salah satu sarana yang cukup ampuh untuk menarik perhatian, dan yang harus diperhatikan secara seksama bahwa media-media menggunakan bahasa ammiyah dengan alasan bahwa bahasa ammiyah lebih mudah disampaikan dan dipahami. Mereka tidak  ragu-ragu  untuk menggunakan bahasa ini, masyarakat menjadi malu dan ragu untuk menggunakan bahasa yang benar dan  fusha, bahkan mereka juga terang-terangan  menyebarkan bahasa amiyah dengan istilah-istilah yang sama sekali tidak mengindahkan masyarakat dan kekhasan peradaban mereka, sepeti inilah kapitalisme tidak pernah memperdulikan masyarakat, mereka hanya berfikir tentang keuntungan, dengan cara yang licik. Cara yang mereka gunakan ibarat "mengusir sekumpulan burung dengan hanya menggunakan satu krikil" .  Mereka  mempromosikan, membuka pasarnya, membuat ummat  memiliki ketergantungan dan tidak produktif, berikutnya mereka terus mempromosikan bahasa amiyah dan bahasa yang lainnya untuk benar-benar menghapuskan bahasa Arab, jika demikian dipastikan bahasa Arab tidak akan pernah lagi kembali digunakan.

Melalui sinetron-sinetron yang diterjemahkan yang dibagi menjadi beberapa episode , masyarakat mulai terbelenggu, dan susah untuk melepaskannya, operah diperlombakan di stasiun- stasiun televisi, kemudian  ditayangkan dengan bahasa ammiyah sebelumnya menggunakan bahasa Arab fusha,  maka dengan mudah bahasa Arab dijauhkan dari kehidupan kaum muslimin melalui tayangan sinetron-sinetron tersebut, mereka mencuri kekhasan dan keistimewaan yang dimiliki bahasa ini (bahasa yang menyatukan ummat muslim) dan menggantinya dengan bahasa yang memecah belah mereka, tersekat-sekat oleh batasan negara, yang menjadikan ummat Islam ummat yang terpecah belah, masing-masing memiliki bahasa, sejarah, dan peradaban yang berbeda.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here