Satu Masalah Intelektualitas Hari Ini - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 2, 2020

Satu Masalah Intelektualitas Hari Ini


Hadi Sasongko (Direktur PoRoS)

Beberapa gagasan yang sering muncul di Dunia Islam menunjukkan potensi besar Intelektual Muslim dalam membangun peradaban Islam.  Mereka telah mengusulkan banyak sekali solusi dalam banyak topik seperti: politik, ekonomi, sains, teknologi dsb.

Ragam masalah masalah umat telah banyak didiskusikan dan diseminarkan secara akademis, namun pada umumnya hanya secara parsial.  Penyelesaiannya secara terintegrasi masih jarang didengar.  Hal ini karena para intelektual di Dunia Islam memang masih belum terbiasa melakukan sesuatu di atas atau di luar lingkup akademisnya.  Para akademisi dididik untuk fokus hanya pada bidang kajian yang sangat sempit sehingga justru sering kehilangan konteks atau framework yang melingkupi persoalan itu.

Para akademisi di Dunia Islam juga sering belum memiliki paradigma keilmuan yang khas Islam.  Akibatnya, sebagian dari mereka terjebak pada 'Islamisasi sains' yang tak lebih dari mencocok-cocokkan penemuan sains dengan ayat suci, 'saintifikasi islam' yaitu mencari-cari sains di balik suatu ajaran Islam, atau 'sains ta'wili' yaitu menebak-nebak sains sebagai makna suatu ayat yang sebenarnya mutasyabihat (Amhar, 2012).

Memang, ada persoalan-persoalan pengaturan manusia yang memerlukan sistem, dan itu memang sebagian diselidiki secara ilmiah. Muncullah ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu pendidikan dan sebagainya, yang seharusnya dapat dipisahkan mana yang merupakan sistematisasi fenomena empiris, dan mana solusi yang muncul dari sebuah pandangan hidup.  Ini mestinya menjadi 'sains ijtihadi'.

Adapun terhadap fenomena alam seperti fisika, astronomi atau biologi, juga sains yang dibangun di atasnya, al-Quran bukanlah alat penguji kebenaran ilmiah karena memiliki domain yang sama sekali berbeda. Namun, al-Quran memberikan ratusan ayat yang sebaliknya memotivasi dan menginspirasi ilmuwan Muslim untuk meneliti.  Pada saat yang sama Islam memberikan berbagai batasan syar'i atas metodologi ilmiah yang dilakukan. Ada beberapa cara pengungkapan ilmiah atau eksperimen yang dilarang karena akan melanggar syariah, misalnya eksperimen terhadap manusia. Di hilir, Islam memberikan arah, untuk apa sebenarnya sains dan teknologi itu ada. Islam tanpa sains dan teknologi akan terjajah. Sains dan teknologi tanpa Islam akan menjajah. Islam yang memandu sains dan teknologi akan membebaskan manusia dari penjajahan.

Setiap orang yang diberi kapasitas lebih oleh Allah SWT tentu diharapkan memiliki tanggungjawab yang lebih besar kepada umat. Demikian pula seorang akademisi. Setelah memerintahkan seorang Muslim untuk mempelajari alam semesta (QS 88: 17-20), Allah SWT memerintahkan untuk menyampaikan  peringatan (QS 88: 21-22). Ketika mulai  menjalankan peran tanggung jawab keumatan inilah, dia beralih dari sekadar seorang akademisi menjadi seorang intelektual. Cuma mulai dari mana?

Akademisi Muslim yang telah merasa terpanggil tanggungjawabnya terhadap umat ini lalu mencoba ikut memunculkan solusi. Namun, lack konteks dan paradigma membuat mereka sering terseret pada suatu jebakan 'lingkaran setan'. Ini bisa berawal dari asumsi yang mendasari tentang apa sesungguhnya akar persoalannya. Berikut ini adalah gambaran contoh jebakan lingkaran setan.

Ada yang menyangka bahwa umat ini terpuruk karena lemah dalam sains dan teknologi.  Karena itu mereka fokus pada penguasaan teknologi, membangun lembaga-lembaga untuk meraih keunggulan teknologi, atau mengirim anak-anak Muslim untuk belajar teknologi ke negara maju.

Apakah upaya ini berhasil?  Berapa sarjana Muslim yang telah menguasai teknologi tinggi? Apakah ini berkorelasi dengan kemajuan umat secara keseluruhan?  Setelah dianalisis, penguasaan teknologi tinggi tersebut ternyata tidak dapat diaplikasikan, karena kecilnya dana yang tersedia atau kesempatan yang ada untuk mewujudkannya menjadi industri dan lalu menjadi bisnis mandiri yang memicu pertumbuhan ekonomi.

Apakah memang seharusnya lebih fokus ke ekonomi? Kalau demikian, yang diperbanyak adalah membangun sektor ekonomi dan keuangan untuk permodalan umat. Wujudnya antara lain berupa pendirian lembaga-lembaga pengembangan calon enterpreneur dan pengucuran kredit mikro.

Namun, mengapa sudah banyak pakar ekonomi, tetapi negaranya termasuk negara miskin? Mengapa negeri kita sangat kaya-raya, tetapi rakyatnya sangat miskin? Setelah dianalisis: kekayaan dan kepakaran ekonomi tidak berguna jika orang-orangnya tidak bermoral (berakhlak), banyak yang KKN atau menjalankan bisnis yang tidak halal.

Kalau begitu, apakah akhlak lebih penting? Apakah fokus pada perbaikan akhlak akan berhasil? Kalau demikian maka diperbanyak pengajian-pengajian yang menyentuh hati; diperbanyak kesempatan orang untuk beristighfar, berzikir, atau berdoa bersama; diperbanyak siraman ruhani di televisi atau media lainnya.

Namun, mengapa orang-orang yang semula berakhlak baik, ketika masuk sistem negara (duduk di legislatif, birokrasi, penegakan hukum), atau dunia bisnis, malah lebih sering menjadi rusak, secara sadar maupun tidak?  Kalaupun ada yang tetap baik, mengapa justru dia akan teralienasi dan tersingkirkan?  Kalau ada yang mencoba sedikit memperbaiki sistem, mengapa mereka justru malah ditendang?

Apakah ini berarti kita perlu melahirkan lebih banyak manusia yang berakhlak untuk mewarnai sistemnya?  Lalu apakah mewujudkan pendidikan Islam menjadi fokus yang lebih penting? Apakah dengan mendirikan banyak sekolah Islam dan pesantren akan berhasil?

Setelah pendidikan ini dirintis, sekarang sudah banyak sekolah Islam, namun mengapa mutunya justru lebih rendah dari sekolah negeri?  Mengapa yang didirikan sekolah Islam, tetapi tetap memakai kurikulum yang sama dengan sekolah negeri?  Mengapa sekolah Islam yang baik iuran SPP-nya jauh lebih mahal dari sekolah negeri? Mengapa lulusan sekolah Islam kualitas dan perilakunya tidak lebih baik dari sekolah negeri?

Ternyata, setiap upaya yang dilakukan seakan-akan seperti masuk ke dalam lingkaran setan yang tak berujung pangkal. Lantas apa yang seharusnya diupayakan oleh para intelektual Muslim? Ini perlu dirumuskan solusinya.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here