Skenario Barat & Islam Moderat (1) - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, November 24, 2020

Skenario Barat & Islam Moderat (1)


Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD)

Frank Carlucci, Presiden Carlyle Group, perusahaan raksasa AS, Menteri Pertahanan terakhir pada pemerintahan Ronald Reagan, menyatakan dengan tegas strategi Amerika untuk Timur Tengah. Ia mengutip laporan Dewan Hubungan Luar Negeri di New York, "Kami memiliki strategi tertinggi yang sangat sederhana, yaitu kami ingin rezim di negeri itu setia kepada kami, tidak menolak kehendak kami, lalu kami ingin kekayaan di negeri ini tanpa ada penentang, dan pada puncaknya kami ingin menjamin keamanan (Israel) karena ia satu-satunya teman yang dapat diandalkan di kawasan Timur Tengah ini!"

Barat yang dipimpin oleh Amerika tahu dengan pasti bahwa umat Islam sudah cukup muak dengan kepalsuan rezim-rezim yang didukung oleh Barat sendiri. Barat juga tahu bahwa umat ini menginginkan Islam sebagai alternatif satu-satunya. Oleh karena itu, sejumlah pusat penelitian di Amerika dan yang lainnya mengajukan proposal dengan menawarkan rezim-rezim yang tunduk pada Barat.

Rezim-rezim itu dimunculkan seolah-olah sebagai alternatif dengan mengenakan pakaian Islam. Semua dilakukan dalam rangka memuluskan pencurian Barat di tengah kegelisahan umat dan revolusi yang mereka impikan. Dengan cara itu, Barat berupaya menjauhkan umat dari kebangkitan yang sesungguhnya, yang dapat mewujudkan penerapan Islam sepenuhnya.

Barat dengan berbagai institusi dan para politisinya tidak akan terpaksa menggunakan rencana itu kecuali karena adanya opini publik yang sangat kuat menginginkan Islam di tengah-tengah umat. Tujuan utamanya adalah untuk menipu umat yang mulia ini sehingga pada tahun-tahun terakhir umat kembali mundur dan jauh dari kebangkitan yang sesungguhnya, melalui berdirinya rezim-rezim yang mengusung slogan-slogan Islam, tetapi memimpin dengan sistem kehidupan Barat dan loyalitas terhadap Barat, sebagaimana sebelumnya. Bedanya, yang ini dengan baju baru.

Salah satu strategi penting untuk mengontrol perubahan di Timur Tengah agar jauh dari kebangkitan Islam adalah mempromosikan demokrasi dan Islam moderat. Jauh sebelum terjadi revolusi Arab, strategi ini telah dirumuskan oleh berbagai lembaga think-tank Amerika. Pada 2007 Institut Amerika untuk Perdamaian (United States Institute of Peace-USIP) mengeluarkan hasil penelitian seputar "Islam Moderat" yang berjudul, "Integrasi Para Aktivis Islam dan Promosi Demokrasi: Sebuah Penilaian Awal." Penelitian memutuskan bahwa pertempuran Amerika Serikat dengan arus kekerasan dan ekstremisme harus dilakukan dengan mendukung dan memperkuat proses demokratisasi di dunia Arab.

Penelitian ini menegaskan pentingnya mendukung para aktivis Islam "moderat" ini. Sebab, mereka adalah dinding pertahanan pertama dalam menghadapi para ekstremis dan radikal. Oleh karena itu, penelitian ini menuntut pentingnya AS terus mendukung demokrasi di Timur Tengah, dan mempromosikan integrasi para aktivis Islam dalam kehidupan politik Barat.

Pada tahun 2007, Yayasan RAND menerbitkan sebuah hasil penelitian komprehensif tentang "Building Moslem Moderate Network-Membangun Jaringan kaum Muslim Moderat" di Dunia Islam. Penelitian ini dimulai dari teori dasar bahwa konflik dengan Dunia Islam dasarnya adalah "pergolakan pemikiran". Tantangan utama yang dihadapi Barat adalah apakah Dunia Islam akan berdiri melawan gelombang jihad fundamentalis, atau akan jatuh menjadi korban akibat kekerasan dan intoleransi. Temuan penting penelitian ini adalah "Perlunya Amerika Serikat menyediakan dan memberikan dukungan bagi para aktivis Islam moderat dengan membangun jaringan yang luas, serta memberikan dukungan materi dan moral kepada mereka untuk membangun sebuah benteng guna melawan jaringan fundamentalis."

Penelitian ini menunjukkan bahwa sekutu yang paling penting (potensial) dalam menghadapi apa yang disebut dengan "Islam radikal" adalah kaum Muslim liberal dan sekular yang percaya pada nilai-nilai liberal Barat dan cara hidup masyarakat Barat modern. Bahkan "mereka bisa digunakan untuk melawan ideologi Islam militan dan radikalisme serta dapat memiliki peran yang berpengaruh dalam perang pemikiran”.

Jadi, inilah beberapa karakteristik kaum Muslim moderat menurut kacamata Barat, yaitu "kaum liberal dan sekular". Semua tahu bahwa dua karakteristik ini adalah bagian budaya Barat.

Mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton (24/02/ 2011) menegaskan pemerintah AS tidak akan menentang kelompok Ikhwanul Muslimin Mesir untuk menduduki kekuasaan selama mereka meninggalkan kekerasan, berkomitmen untuk demokrasi dan hak-hak semua anggota masyarakat. Ia menambahkan bahwa harus dijamin bahwa konstitusi di Mesir benar-benar demokratis.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here