Songsong Kebangkitan Intelektual Muslim - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 2, 2020

Songsong Kebangkitan Intelektual Muslim


 Agus Kiswantoro (Direktur FORKEI)


Islam diterapkan di masyarakat oleh tiga pilar: ketakwaan individu, kontrol sosial masyarakat dan oleh negara.  Setelah didalami, ternyata Islam memiliki lebih banyak kewajiban yang berupa fardhu kifayah daripada fardhu 'ain.  Yang fardhu ‘ain juga lebih banyak yang baru sempurna dengan suatu aktivitas kolektif.


Contoh: shalat adalah aktivitas individual.  Namun, bagaimana menciptakan suasana yang kondusif, agar orang termotivasi untuk shalat, misalnya dengan penyediaan fasilitas yang baik dan memadai, pengaturan jadwal kegiatan, dan pengumandangan azan pada waktunya dll, adalah tanggungjawab kolektif.


Nah, saat ini, dari dua pilar itu tinggal satu yang tersisa, yaitu ketakwaan individu. Itu pun relatif sedikit dibandingkan dengan populasi yang ada.  Adapun kontrol sosial sekarang sudah sangat kabur.  Sudah puluhan tahun, kultur yang ada hanya mentoleransi pengamalan ajaran Islam, bukan memotivasi. Bahkan sebagian hal-hal yang diwajibkan oleh Islam masih memerlukan ijin untuk diterapkan.  Inilah opini yang saat ini berkuasa. Contoh paling aktual adalah jilbab. Dulu jilbab tidak boleh ada di pasfoto ijazah atau KTP. Sekarang sudah ditoleransi, kecuali di kepolisian. 


Inilah opini umum yang sekular dan liberal. Disebut sekular adalah tatkala orang sampai beranggapan bahwa manusia lebih tahu urusannya dan tidak perlu membawa-bawa Tuhan ketika berbicara tentang pengaturan masyarakat.  Setelah masyarakat memisahkan Islam dari persoalan kehidupan publik, yang terjadi adalah: di satu sisi muncul asketisme (ibadah yang berlebihan dan tidak peduli urusan dunia) dan di sisi lain muncul liberalisme (yaitu yang untuk urusan politik, ekonomi, peradilan, pendidikan, pergaulan dan hubungan luar negeri tidak perlu bawa-bawa nama Tuhan).


Adapun negara, yang mestinya memaksa mereka yang ketakwaannya ataupun kontrol sosial di lingkungannya belum mendorong menaati Islam, justru saat ini hanya mengikuti opini tadi.  Demokrasi adalah doktrin bahwa hukum atau aturan bermasyarakat harus diambil dari kehendak rakyat.  Ketika opini umum yang dominan di tengah rakyat masih sekular dan liberal, otomatis demokrasi hanya akan menghasilkan hukum yang sekular-liberal. Pemilu di beberapa negeri Islam membuktikan itu.


Apalagi bila demokrasi ini sudah bias dengan kepentingan para sponsor dan pemainnya. Para sponsor ini mampu membayar media, pengamat, konsultan politik, LSM, hingga para penegak hukum yang bisa disuap.  Para sponsor ini adalah kaum kapitalis hitam, baik domestik ataupun asing. Mereka memandang aktivitas politik selayaknya investasi bisasa. Para pemain ini memandang politik hanya sebagai petualangan untuk mencari keuntungan, bukan aktivitas untuk melayani urusan publik. Akibatnya, demokrasi tersandera tiga kali: pertama oleh opini sekular-liberal, kedua oleh dominasi para kapitalis hitam, dan ketiga oleh para petualang.


Kalau kita mempelajari sejarah Nabi saw. dalam konteks transformasi masyarakat, kita akan melihat bahwa Nabi saw. melakukan perubahan yang fundamental di tiga aspek tersebut. Nabi saw. mengubah individu dengan menanamkan tauhid.  Selanjutnya Nabi saw. membalikkan opini umum di masyarakat dengan menyodorkan ayat-ayat yang bertentangan dengan opini tersebut.


Oleh sebab itu, ketika pada masa kini, opini umum yang dominan dan bertentangan dengan ayat-ayat suci adalah sekularisme dan liberalisme, maka tugas para intelektual juga untuk membalikkan opini ini. Sekularisme-liberalisme sudah dari awal bertentangan dengan tauhid. Proses transisi pembalikan opini ini tentu memerlukan proses yang panjang dan menyakitkan. Namun, ini semua proses yang perlu dilalui, sampai didapatkan suatu "massa kritis" yang siap memanggul beban perubahan.


Setiap perubahan selalu dimulai dengan satu orang dengan sekelompok kecil pengikutnya sebagai "pioner" yang tak akan lebih dari 0,5% populasi.  Kemudian mereka akan diikuti oleh kelompok "early adopters".  Jumlahnya akan mencapai 5%. Selebihnya perkembangan akan bergulir cepat sehingga sebagian besar populasi akhirnya akan mengikuti sebagai "early majority". Di sinilah terjadi massa kritis. Total 50% lebih.  Sisanya akan ikut sebagai "late majority". Kemudian akan ada sedikit sisa yang ketinggalan ("laggard"), yang tak akan sampai 1%. Sepertinya sunnatullah di mana-mana memang begitu.


Massa kritis ini adalah mereka yang memang siap dengan segala risiko sebuah transformasi sosial. Tidak ada transformasi sosial yang langsung dapat dinikmati  Selalu akan ada masa-masa sulit; masa-masa kurang tidur; masa-masa penuh ketakutan, kekurangan dan ketidakpastian.


Di situlah peran dan tanggungjawab yang harus diambil alih para intelektual. Merekalah yang harus menginspirasi para pemimpin politis agar maju, mengambil alih tanggungjawab memimpin masyarakat menghadapi masa-masa yang berat.


Bila para intelektual ini lebih cinta dunia dan takut mati, para pemimpin pun akan menjadi lemah dan akhirnya rusak. Kala pemimpin rusak, umat pun akan rusak. Sebaliknya, jika para intelektual ini lebih mencintai Allah dan mati syahid, mereka tidak takut menderita, maka para pemimpin pun akan menjadi kuat, menjadi besar hatinya, dan berusaha menjauhi kerusakan. Jika ada pemimpin-pemimpin yang seperti ini, umat pun akan bisa diperbaiki, karena ada teladan yang bisa dipercaya. Umat akan bisa dibangkitkan dan bisa diajak bergerak menuju tugas sejarahnya.


Sebagaimana sebuah pekerjaan raksasa, perubahan ini tidak bisa tidak kecuali secara bersama-sama dalam sebuah jejaring (network).  Inilah dakwah berjamaah, di dalamnya para intelektual akan saling mengisi, saling memperkuat dan saling mengoreksi.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here