Tidak Ada Alasan Untuk Menolak Khilafah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 16, 2020

Tidak Ada Alasan Untuk Menolak Khilafah


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Dalam sebuah diskusi bertajuk "Indonesia Damai Tanpa Khilafah" (9/11), Wapres KH. Makruf Amin menyatakan bahwa tidak ada negara normal yang menggunakan sistem Khilafah (www.republika.co.id, 09 Nopember 2020). Lebih lanjut wapres menjelaskan bahwa saat ini tidak ada negara yang menggunakan Khilafah. Menurutnya, hanya ISIS yang menggunakan Khilafah. Kaum muslimin mengikuti sistem negara di negeri tempat tinggalnya. Khilafah itu memang islami, tapi tidak selalu yang islami itu Khilafah, imbuhnya.

Memang benar adanya bahwa saat ini tidak ada negara yang menggunakan sistem Khilafah. Setelah dihapusnya Khilafah Utsmaniyah di tahun 1924 M, kaum muslimin terpecah menjadi puluhan nation state (negara bangsa). Pada masing-masing nation state tersebut dipaksakan untuk menerapkan sistem kenegaraan yang tidak bersumber dari Islam. Ada yang menggunakan sistem republik parlementer, presidensial, maupun sistem monarki atau kerajaan. Kesemua sistem kenegaraan tersebut bersumber dari demokrasi. Artinya berubahnya sistem kenegaraan di dunia Islam merupakan suatu proses sosial dan politik, bukanlah sesuatu yang fix sehingga kaum muslimin harus apatis terhadap realitas. 

Kaum muslimin disebut oleh Allah SWT sebagai umat terbaik. Dan salah satu karakter umat terbaik adalah melakukan aktifitas amar bil makruf dan nahyu anil munkar. Wujud aktifitas amar bil makruf dan nahyu anil munkar adalah dengan melakukan dakwah. Sedangkan dakwah sejatinya aktifitas untuk mengubah keadaan yang tidak islami menjadi islami. Dalam konteks sistem kenegaraan, dakwah dilakukan agar terwujud penerapan Islam secara paripurna dalam sistem Khilafah. Upaya memperjuangkan tegaknya Syariat Islam dan Khilafah adalah suatu bentuk proses sosial dan politik. Jadi adalah sebuah keniscayaan sistem kenegaraan di dunia Islam berubah dari sistem sekuler demokrasi menjadi sistem Khilafah.

Di samping itu, fakta tidak bisa digunakan untuk menolak sistem Khilafah, apalagi fakta yang rusak. Andaikan fakta dijadikan sebagai sumber hukum dalam Islam, tentu akan banyak ajaran Islam yang dianulir. Menurut akal manusia, tatkala seseorang yang batal wudhunya lantaran buang angin, seharusnya yang dibasuh untuk bersuci kembali adalah bagian duburnya. Sedangkan dalam ketentuan Islam, orang tersebut harus mengulangi aktifitas berwudhunya. Bisa terbayang ribetnya bila ketentuan akal yang dipakai yaitu membasuh bagian duburnya. Tentunya hal demikian tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan.

Contoh yang lain lagi. Menurut akal manusia, mestinya status hukum atas air kencing dan air mani itu sama karena keluarnya dari tempat yang sama. Akan tetapi Islam membedakan status hukum di antara air kencing dan air mani yang menurut akal kelihatannya sama. Artinya akal manusia tidak mampu menjangkau hakikat segala sesuatu. Bahkan menurut akal manusia, mengusap bagian bawah sepatu khuf itu lebih baik daripada mengusap bagian punggungnya. Padahal jika keputusan akal ini digunakan justru hanya akan mempersulit manusia itu sendiri. Jadi akal yang sehat dan benar akan menyadari keterbatasannya. Dengan demikian akal yang sehat dan benar akan mengantarkan manusia sebagai hamba Allah SWT yang pasrah dan patuh sepenuhnya kepada ketentuan Allah SWT.

Dalam kehidupan sekuler seperti sekarang, kaum muslimin terus menerus mengalami ketidakadilan. Penistaan terhadap agama dan Nabinya terus saja terjadi. Yang terbaru Presiden Perancis melegitimasi penistaan terhadap Nabi Saw atas nama freedom of speech. Di dalam negeri, para pelaku penistaan terhadap Islam tidak tersentuh oleh hukum, walaupun telah dilaporkan berulang kali. Sementara mereka yang kritis terhadap kebijakan pemerintah justru mengalami kriminalisasi. Kekayaan alam mereka diserahkan kepada swasta dan asing atas nama investasi. Hasilnya kaum muslimin dipaksa menjadi miskin di negerinya sendiri. Akibat ikutan berikutnya kejahatan dan dekadensi moral seolah menjadi pemandangan harian kehidupan mereka. Pertanyaannya, apakah kehidupan yang demikian bisa disebut sebagai kehidupan bernegara yang normal dan menjadi cita-cita kehidupan kaum muslimin? Tentunya tidak. Maka adalah selayaknya bila kaum muslimin bercita-cita kehidupannya diatur dengan Syariat Islam. Dengan penerapan Syariat Islam secara paripurna, keberkahan hidup akan dapat diwujudkan. Bukankah Allah Swt menyatakan dalam firmanNya bahwa tatakala penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa niscaya sungguh Allah akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi manusia itu kebanyakan mengingkari nikmat Allah lalu Allah pun menurunkan adzabNya atas apa yang sudah mereka lakukan. Kesimpulannya, berbagai ketidakadilan, kejahatan dan dekadensi moral yang terjadi akan semakin mengingatkan kaum muslimin untuk bisa hidup secara normal dalam tatanan Islam.

Adapun mengenai syubhat bahwa yang islami tidak selalu Khilafah. Yang jelas bahwa Khilafah itu ajaran Islam. Islam sendiri telah menjadikan Khilafah sebagai metode dalam melaksanakan Islam secara paripurna. Jadi sistem kenegaraan yang kompatibel dengan Islam adalah Khilafah.

Pertanyaannya apakah sistem kenegaraan seperti kerajaan, republik, dan parlementer itu melaksanakan Islam secara paripurna? Menurut hukum Islam, kekayaan alam itu adalah milik umum dan haram untuk diserahkan kepada swasta dan asing. Bukankah kekayaan alam dikangkangi swasta dan asing justru di dalam sistem kenegaraan di luar Islam? Kekayaan alam Indonesia dieksploitasi swasta dan asing sebagai contoh tambang emas di Papua dieksploitasi oleh Freeport. Blok minyak di Cepu dieksploitasi oleh Exxon Mobile, dan blok Tangguh di Minahasa dieksploitasi oleh Newmont.

Ditambah lagi sebutan ulil amri tidak bisa disematkan pada kekuasaan di luar Islam. Sebutan ulil amri menurut An-Nisa ayat 59 hanya dari kalangan umat Islam. Mereka dipilih dalam rangka mewujudkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sedangkan penisbatan penerapan Khilafah kepada ISIS adalah jauh panggang dari api. Deklarasi ISIS sejatinya tidak memenuhi pilar-pilar dari tegaknya Khilafah yang syar'i. Bisa disebut yang dideklarasikan ISIS itu adalah Khilafah abal-abal. Khilafah itu negara super power umat Islam. Kehadirannya bagaikan petir yang menggelegar di siang bolong, menyiutkan nyali negara-negara imperialis. Kehadirannya akan disambut suka cita oleh kaum muslimin. Khilafah yang ditunggu kaum muslimin bukanlah bentuk negara yang justru menjadikan mereka menjauh dari Islam dan perjuangan penegakkan Khilafah. Khilafah yang ditunggu kaum muslimin adalah Khilafah yang akan membebaskan negerinya dari segala bentuk penjajahan. 

# 14 Nopember 2020


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here