Tidak Ada Peradilan Tanpa Sidang Pengadilan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, November 2, 2020

Tidak Ada Peradilan Tanpa Sidang Pengadilan


Boedihardjo, S.H.I. 

Peradilan dalam perspektif Islam merupakan lembaga terhormat. Hukum yang ditetapkan oleh lembaga ini bersifat mengikat. Untuk itu diperlukan aturan yang ketat sehingga umat merasakan nyaman dan puas sebagai wujud ketaatannya terhadap syariat. 

Dalam peradilan Islam, seorang qadhi tidak boleh memutuskan perkara kecuali di Majelis al-Qadha' (sidang pengadilan). Bukti dan sumpah juga tidak bisa diterima kecuali disampaikan di sidang pengadilan. Abdulalh bin Zubair yang mengatakan:

قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وآله وسلم أَنَّ الْخَصْمَيْنِ يَقْعُدَانِ بَيْنَ يَدَيِ الْحَكَمِ
"Rasulullah saw. memutuskan bahwa dua orang yang bersengketa (harus) didudukkan di hadapan hakim." (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Hadis ini menjelaskan proses peradilan (al-qadha'). Dua pihak yang bersengketa didudukkan di hadapan hakim. Begitulah proses sidang pengadilan itu. Keberadaan sidang pengadilan ini merupakan syarat sahnya peradilan sehingga sah disebut peradilan (al-qadha'). Artinya, hendaknya dua pihak yang bersengketa didudukkan di hadapan hakim. Ketentuan ini diperkuat oleh hadits ketika Rasulullah saw. bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, "Wahai Ali, jika dua orang yang sedang bersengketa duduk di hadapan kamu, janganlah engkau memutuskan perkara keduanya sebelum engkau mendengarkan dari pihak lain sebagaimana engkau telah mendengarkan dari pihak pertama." (HR Ahmad).

Hadis ini juga menjelaskan proses tertentu melalui sabdanya, "Jika dua orang yang sedang bersengketa duduk di hadapanmu." Dengan demikian adanya Majelis al-Qadha' (sidang pengadilan) merupakan syarat sahnya peradilan, juga menjadi syarat sumpah diterima. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw., "Sumpah itu wajib atas terdakwa (tergugat)." (HR al-Bukhari dari Ibn Abbas).

Sungguh, tidak terdapat pada diri seseorang sifat sebagai terdakwa kecuali di sidang pengadilan. Demikian juga bukti, ia tidak memiliki nilai apa pun kecuali di sidang pengadilan. Rasulullah saw. bersabda, "Pembuktian itu wajib atas penuntut (penggugat)." (HR al-Baihaqi).

Sifat sebagai penuntut itu juga tidak ada kecuali di sidang pengadilan (Hizbut Tahrir, Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 250; Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilafah, hlm. 116; Zallum, Nizham al-Hukm fi al-Islam, hlm. 189)

Seorang qadhi, ketika memberitahukan hukum syariah yang bersifat mengikat dalam satu perkara, wajib hanya memberitahukan satu hukum. Sebab, pada hakikatnya hal itu merupakan pelaksanaan atas hukum Allah. Hukum Allah, dalam praktik pelaksanaannya, tidaklah berbilang, meski pemahamannya bisa berbilang. Dengan demikian qadhi tidak boleh lebih dari satu orang untuk satu perkara. Artinya, satu qadhi hanya untuk satu mahkamah.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here