Tugas Utama Penguasa Bagi Kaum Muslim - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, November 5, 2020

Tugas Utama Penguasa Bagi Kaum Muslim


Dede Wahyudin (Tabayyun Center)

Tugas utama penguasa kaum Muslim adalah menegakkan syariat Allah, menjunjung tinggi kalimah-Nya, mengurus dunia dengan agama, menjaga ketentuan hukum Allah, agama-Nya serta hak-hak hamba-Nya. Dalam hal ini, Khilafah merupakan wakil Nabi dalam menjaga agama, mengurus dunia dengan agama, dan bukan sekedar biasa. Imam al-Mawardi berkata, "Imamah itu dibuat untuk menggantikan kenabian dalam menjaga agama, mengurus politik, serta memberikan akad kepadanya bagi siapa saja sanggup memikulnya di tengah-tengah umat, hukumnya wajib." [Al-Allamah al-Qadhi al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyyah, hal. 5.]

Ibn Tamiyyah mengatakan, "Yang menjadi maksud yang wajib dalam kekuasaan itu adalah memperbaiki agama makhluk. Sebab, ketika agama itu hilang dari mereka, maka mereka pasti rugi serugi-ruginya. Dunia yang menjadi nikmat mereka pun tak ada gunanya. Untuk memperbaiki urusan duia mereka yang hanya bisa ditegakkan dengannya." [Ibn Tamiyyah, al-Siyasah as-Syar'iyyah, hal. 13]

Nash-nash syara' telah menjelaskan, bahwa kepemimpinan itu tidak boleh diberikan kepada orang Kafir yang memang asli Kafir, meski boleh jadi dia murtad setelah diangkat, namun begitu murtad, dia harus diberhentikan, dan kepemimpinannya pun gugur. Allah SWT. berfirman:

 ﴿ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا ﴾ [النساء: 141]

 "Sekali-kali Allah tidak akan memberikan jalan kepada kaum Kafir untuk menguasai orang Mukmin." [Q.s. an-Nisa': 141]

Al-Qadhi Ibn al-‘Arabi menyatakan: "Allah SWT secara syar’i tidak memberikan jalan kepada orang Kafir untuk menguasai orang Mukmin. Jika pun ada, maka itu jelas menyalahi syara'." [Al-Qadhi Ibn al-‘Arabi , Ahkam al-Qur’an, Juz I/641; al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz V/421] 

Allah SWT berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ﴾ [النساء: 59]

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta pemimpin di antara kalian." [Q.s. an-Nisa': 59]

Dengan frasa, "Minkum" [di antara kalian], menunjukkan bahwa pemimpin tersebut wajib dari kalangan umat Islam yang beriman. Karena seruannya dari permulaan ayat tersebut diarahkan kepada mereka.

Allah SWT juga berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ ﴾ [آل عمران: 118]

 "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." [Q.s. Ali 'Imran: 118]

Imam al-Qurthubi mengatakan, "Melalui ayat ini, Allah telah melarang orang Mukmin untuk menjadikan kaum Kafir, Yahudi dan pemuja hawa nafsu untuk dijadikan sebagai teman kepercayaan yang keluar masuk [tempat kita] untuk bertukar pandangan, dan mereka menyerhkan urusan mereka kepadanya." [Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Juz IV/189]

Allah SWT juga berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ﴾ [النساء: 144]

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Kafir sebagai pelindung [pemimpin] selain orang Mukmin." [Q.s. an-Nisa': 144]

 Ibn Katsir berkata, "Allah SWT. melarang hamba-Nya yang beriman untuk menjadikan orang-orang Kafir sebagai pelindung [pemimpin], selain orang Mukmin. Artinya, Allah melarang mereka untuk dijadikan sahabat, teman, penasehat, dicintai serta tempat menyampaikan rahasia orang Mukmin." [Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-'Adhim, Juz I/867]

Imam al-Qurthubi menambahkan, "Artinya, janganlah menjadikan mereka sebagai orang istimewa kalian dan kepercayaan kalian." [Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur'an, Juz V/425] 

Jika menjadikan mereka sebagai teman, membeberkan rahasia orang Mukmin kepada mereka, dan menjadikan mereka sebagai kepercayaan merupakan bentuk ber-muwalah yang dilarang ayat tersebut, maka tidak diragukan lagi, bahwa mengangkat mereka sebagai pemimpin urusan kaum Muslim, dan penguasa mereka jelas-jelas merupakan bentuk  muwalah yang lebih nyata dan sangat diharamkan.

Dari 'Ubadah bin Shamit radhiya-Llahu 'anhu, berkata, "Kami diundang Rasulullah saw. Kami membai’at baginda, maka di antara yang baginda minta dari kami, hendaknya kami membai'at [baginda] untuk mendengar dan taat, baik ketika kami lapang maupun sempit, susah maupun senang.. dan hendaknya kami tidak merebut urusan tersebut dari yang berhak." Baginda saw. bersabda, "Kecuali, jika kalian menyaksikan kekufuran yang nyata, dimana kalian mempunyai bukti di hadapan Allah SWT." [HR. Muslim]

Al-Qadhi 'Iyadh berkata, "Kalau tampak kekufuran, mengubah syariat atau melakukan bid'ah, maka dia telah keluar dari hukum sahnya kepemimpinan. Ketaatan kepadanya pun gugur. Wajib bagi kaum Muslim untuk menentangnya, dan memberhentikannya. Lalu, mengangkat imam yang adil, jika memungkinkan bagi mereka untuk melakukannya. Jika itu hanya bisa dilakukan sekelompok orang, maka mereka wajib memberhentikan orang Kafir tersebut." [Al-Imam an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, Juz VI/314]


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here